KONFERENSI KEAMANAN NASIONAL PALESTINA SERUKAN PERLAWANAN HADAPI ISRAEL

Gaza, 20 Jumadil Awal 1434/2 April 2013 (MINA) – Sebagian peserta konferensi Keamanan Nasional Palestina di Gaza menyerukan untuk mengaktifkan kembali dan mendukung perlawanan bersenjata dalam menghadapi penjajahan Israel.

Para Ahli dan spesialis keamanan yang mengikuti konferensi itu menyimpulkan, pengaruh negara adidaya seperti Amerika, Rusia, dan Uni Eropa berkurang, sedangkan keamanan regional wilayah yang dijajah Israel itu lebih banyak bergantung pada keamanan Palestina itu sendiri.

Pertemuan akademisi dan peneliti yang mengikuti perubahan demokratis di Timur Tengah, mengatakan pergeseran telah terjadi.

Mereka yang mengambil bagian dalam Konferensi Keamanan Nasional Palestina termasuk mantan Direktur Jenderal Al-Jazeera Media Network, Wadah Khanfar, dan Dr Mohsen Saleh dari Al-Zaytuna Research Institute di Beirut. 

Konferensi yang diadakan 30-31 Maret 2013 itu disponsori oleh Akademi Politik dan Manajemen Gaza.

Dalam pidato pembukaannya, Khanfar mengatakan bahwa pengaruh AS, Uni Eropa dan Rusia di negeri Arab dan Muslim mulai memudar.

 “Mereka tidak akan keluar dari permainan, tetapi mereka tidak bisa lagi mempengaruhi pemilihan presiden di wilayah tersebut,” kata Khanfar seperti dikutip oleh MEMO dan dipantau MINA. 

Dia juga mengatakan, masa depan baru telah muncul sebagaimana yang pernah diyakini bahwa hal itu tak terelakkan dan telah menjadi sesuatu di masa lalu.

Menggambarkan kerusuhan sipil di tengah revolusi Arab dan pertumpahan darah di Suriah sebagai kepedihan dari revolusi yang dapat bertahan lebih lama dari yang diharapkan.

“Masa ini sangat penting, karena kawasan ini dapat menjadi daerah untuk darah dan air mata atau daerah cahaya dan kebebasan. Keputusan ada di tangan partai-partai revolusioner dan politisi,” Khanfar mengatakan.

Pada masalah keamanan, Khanfar menyarankan bahwa tidak ada yang disebut Palestina atau Mesir atau keamanan nasional lainnya, tetapi ada sesuatu yang disebut keamanan regional. 

Menurut jurnalis veteran itu, ada empat negara di wilayah keamanan regional, yaitu wilayah Arab, Turki, Kurdi, dan Iran. Keempat wilayah itu memiliki benang merah yang berjalan sepanjang sejarah mereka. “Dengan demikian, negara-negara Arab dan Muslim harus bekerja sama untuk membangun keamanan regional, dan pekerjaan harus dimulai di Palestina, di mana Israel berada di tengah-tengah kita,” ujar Khanfar.  

Dia menuduh orang-orang yang mencemarkan nama baik bangsa Palestina dan masalah mereka sebagai musuh-musuh revolusi. 

“Mereka ingin merusak fokus negara mereka pada saat di mana mereka akan kehilangan semuanya, mereka harus menerima bahwa keamanan di daerah ini berpusat pada Palestina,” kata Khanfar.

Berkaitan dengan rekonsiliasi Palestina, Khanfar menekankan perlunya mencakup semua warga Palestina, termasuk mereka yang diaspora ke negara-negara tetangganya, untuk menghasilkan kesepakatan yang komprehensif.

Mantan Penasihat politik Presiden Mesir Muhammad Mursi, Mohamed Saiful-Dawla mengatakan dalam konferensi tersebut, tidak ada keamanan nasional untuk Mesir tanpa keamanan dari Palestina.  Ia menyatakan rasa hormatnya terhadap Jalur Gaza dan menggambarkannya sebagai benteng dari semua keamanan untuk seluruh wilayah pada musim semi. 

“Jalur Gaza adalah satu-satunya benteng yang menolak untuk menerima penjajahan Israel dan telah mencapai kemenangan yang mengesankan,” tambahnya. (T/P08/P02)

Mi’raj News Agency (MINA) 

Leave a Reply