PETA NAKBAH PERTAMA BAHASA IBRANI DILUNCURKAN

Gaza, 10 Jumadil Akhir 1434/20 April 2013 (MINA) – Kelompok Israel Zochrot (bahasa Ibrani ‘mengingat’) meluncurkan peta pertama berbahasa Ibrani yang merinci ratusan desa Palestina yang hancur dalam sejarah Palestina dari awal gerakan Zionis hingga perang 1967.

Kantor berita berbasis di Gaza, Al-Ray yang dikutip Mi’raj News Agency (MINA) melaporkan, peta itu juga mencakup desa-desa Yahudi dan Suriah yang hancur pada saat masa penghujung 1800-an.

Setiap bekas desa dan kota ditandai dengan titik – merah, biru, kuning, pink, ungu atau hijau – untuk menunjukkan jenisnya, kapan, dan bagaimana penduduknya mengungsi. Nama-nama masyarakat Israel yang dibangun di atas penduduk Palestina juga ditandai.

“Sudah waktunya,” kata pendiri kelompok Zochrot, Eitan Bronstein menjelaskan mengapa organisasinya memutuskan untuk membuat peta Nakbah dalam bahasa Ibrani.

“Bagi kami, itu sangat penting tidak hanya untuk menunjukkan kerusakan, tetapi untuk menunjukkan sebagai latar belakang apa yang terjadi hari ini. Sangat penting untuk mengakui bahwa di mana kita hidup saat ini adalah dekat dengan kota, desa, atau apaun bekas penduduk Palestina, “kata Bronstein.

Nakbah (‘bencana’ dalam bahasa Arab) Palestina mengacu pada sekitar 750.000 warga Palestina yang dipaksa diusir atau melarikan diri dari rumah dan desa mereka sebelum dan selama pendirian sepihak negara Israel pada 1947-1948.

Selama ini dan dalam tahun-tahun berikutnya, Israel menjajah dan menghancurkan lebih dari 500 desa Palestina. Pengungsi Palestina telah dilarang kembali ke rumah mereka hingga hari ini, warga Palestina merupakan populasi pengungsi terbesar di dunia, dan masih banyak tinggal di kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat, Jalur Gaza, Yordania, Suriah dan Libanon.

Aktivis perdamaian Israel, Rivka Vitenberg menekankan pentingnya membahas tragedi Nakbah, terutama dalam masyarakat di mana hanya narasi sejarah sepihak Israel yang diajarkan di sekolah, sementara itu sejarah Palestina semuanya diabaikan.

“Saya ingin orang mengingat tragedi Nakbah tersebut. Ini adalah bagian yang sangat penting dari sejarah. Kita harus tahu itu,” Katanya.

Namun, menurut Eitan Bronstein di Zochrot, telah terjadi pergeseran bertahap dalam masyarakat Israel dalam membahas Nakbah secara lebih terbuka, sebagian berkat peningkatan visibilitas permintaan pengungsi Palestina untuk kembali ke rumah, dan upaya pemerintah Israel untuk menekan Nakbah tersebut.

Eitan Bronstein menunjukkan, mereka akan mendistribusikan (peta) itu untuk dosen, guru, kepala sekolah, perpustakaan, wartawan, “Saya sangat berharap peta itu akan membuka lebih banyak tempat untuk melakukan diskusi tentang Nakbah,” Katanya. (T/P02/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

Leave a Reply