KEMATIAN TAHANAN PALESTINA PICU PROTES KERAS

Protes terjadi di salah satu kota Tepi Barat, Hebron.

Hebron, 22 Jumadil Awal 1434/3 April 2013 (MINA) – Kematian tahanan Palestina di dalam penjara Israel akibat sakit telah memicu protes di seluruh wilayah di Tepi Barat, Selasa (2/4).

Berbagai protes terjadi di beberapa kota setelah kematian Maisarah Abu Hamdiah (64), seorang tahanan yang telah menderita kanker tenggorokan, seperti yang rilis PressTV dan dipantau MINA.

Di salah satu kota di Tepi Barat, Hebron, tentara Israel menembakkan gas air mata dan peluru karet terhadap hampir 300 demonstran yang marah. Tiga orang dilaporkan terluka dalam demonstrasi yang diadakan di al-Quds Timur.

Para pemimpin Palestina menuduh otoritas penjara Israel tidak memberikan perawatan sampai kanker itu telah menyebar.

Presiden Palestina, Mahmud Abbas, menyalahkan pihak Israel yang menolak menangani kesehatan Hamdiah.

“Kematian Maisarah Abu Hamdiah menunjukkan arogansi pemerintah Israel dan sikap keras terhadap tahanan,” kata Abbas.

“Kami mencoba membebaskan dia untuk pengobatan tetapi pemerintah Israel menolak mengeluarkan dia (untuk berobat), yang menyebabkan kematiannya,” tambahnya.

Abu Hamdiah dipindahkan ke sebuah rumah sakit di Tel Aviv setelah ia jatuh tak sadarkan diri pada hari Senin.

Lebih dari 4.500 tahanan Palestina yang saat ini ditahan di penjara-penjara Israel merupakan tahanan administratif karena tidak adanya tuduhan dan tindak pengadilan.

Pada 13 Februari 2013, Abbas mengimbau masyarakat internasional untuk ikut campur tangan dalam mendukung tahanan Palestina yang melakukan mogok makan untuk memprotes penahanan mereka di penjara-penjara Israel.

Beberapa demonstrasi telah diadakan di seluruh wilayah Palestina untuk menunjukkan solidaritas terhadap empat tahanan yang melakukan aksi mogok makan dan mengalami penurunan kondisi kesehatan.

Para tahanan telah mogok makan selama berbulan-bulan untuk memprotes penahanan administratif mereka, praktek kontroversial yang digunakan oleh Tel Aviv yang memungkinkan pemerintah Israel untuk memenjarakan warga Palestina tanpa batas dan tanpa proses pengadilan.

Sementara itu, salah satu tahanan yang melakukan aksi mogok makan, Samir Issawi mengirimkan ucapan belasungkawa kepada keluarga Maisarah Abu Hamdiah.

“Maisarah mati dalam memperjuangkan martabat dan kebanggaan, yang diperjuangkan oleh ribuan warga Palestina secara teguh,” tulis Issawi dalam sebuah surat yang dikirimkan melalui pengacaranya, Jawad Boulus.

“Di sini kita berjalan di jalan yang baik dan akan membawa kita menuju kebebasan yang bermartabat, atau mati syahid (untuk memperjuangkan) hak kami atas tanah kami,” tulis Issawi.

Setelah sembilan bulan mogok makan, otot-otot jantung Issawi kini dalam kondisi berbahaya. “Rendahnya tingkat mineral dan garam dalam darahnya dapat menyebabkan kerusakan otak,” kata petugas medis yang memeriksa kondisinya.

“Issawi bertekad untuk terus melakukan mogok makan dan menolak suplemen ke dalam tubuhnya,” ungkap Bulous.

Bulous juga menyerukan intervensi internasional dalam kasus ini sebelum terlambat. Dia memperingatkan bahwa jika tidak ada tindakan yang diambil, maka akan ada lagi yang mati di penjara Israel seperti Abu Hamdiah.

Abu Hamdiah dirawat di Rumah Sakit Soroka pada akhir Maret, setelah kanker itu menyebar dari tenggorokan ke saraf tulang belakang. Sebelum dibawa ke rumah sakit, Abu Hamdiah mengeluh ia hanya menerima obat penghilang rasa sakit untuk mengobati kankernya.

Berita kematiannya memicu kerusuhan di beberapa penjara di Israel dan protes di jalan-jalan Palestina, serta kecaman dari seluruh spektrum politik. (T/P01/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply