KETEGANGAN SEKTARIAN DI IRAK MENINGKAT

Baghdad, 18 Jumadil Akhir 1434/27 April 2013 (MINA) – Pejabat pemerintah mengatakan Jumat (26/4) bahwa ketegangan sektarian di Irak kian meningkat, dalam empat hari korban tewas mencapai 190 orang, Al Jazeera melaporkan dan dikutip MINA.

Ribuan pengunjuk rasa berkumpul di kota-kota negara itu pekan ini, menyuarakan kemarahan mereka pada pemerintah Nouri al-Maliki, menyerukan perdana menteri untuk mundur dan mengakhiri diskriminasi terhadap Sunni.

Jumat, Martin Kobler, seorang utusan PBB, memperingatkan bahwa Irak berada di persimpangan jalan dan menyerukan untuk menahan diri dalam kekerasan yang terus berlanjut.

Komentar itu muncul karena pemboman empat masjid Sunni di Baghdad dan sekitarnya menewaskan empat orang dan melukai 50 orang, Jumat, menurut seorang pejabat kementerian dalam negeri dan tenaga medis.

Kekerasan terbaru terjadi dalam gelombang kekerasan yang meletus Selasa (23/4), ketika pasukan keamanan bergerak terhadap demonstran anti-pemerintah di dekat kota utara Sunni Hawijah. Dan bentrokan berikutnya menewaskan 53 orang.

Sunni bersenjata juga berjuang melawan pasukan pemerintah pada Jumat setelah mereka mengambil alih Suleiman Beg, sebuah kota di provinsi Salahuddin, utara Baghdad, dalam menanggapi serangan mematikan di kota Hawija, Rabu.

Laporan yang saling bertentangan

Omar Al Saleh Al Jazeera, melaporkan dari Baghdad, Jumat, mengatakan ada laporan yang bertentangan mengenai apakah kelompok bersenjata atau pemerintah yang mengendalikan kota. Ahmed Aziz, wakil kepala dewan kota, mengatakan orang-orang bersenjata telah ditarik keluar dari Suleiman Beg di bawah kesepakatan pemimpin suku dan pejabat pemerintah.

Orang-orang yang menyerbu ke dalam kota Sunni Turkmen, Rabu, setelah bentrokan mematikan dengan pasukan keamanan ditarik kembali, sebagian warga melarikan diri. Abdul Baban, seorang pejabat setempat, mengatakan tembakan helikopter melukai enam orang di atap sebuah rumah di Suleiman Beg pada Jumat pagi.

Perebutan kota oleh orang-orang bersenjata terjadi di tengah gelombang kekerasan yang dimulai pada Selasa, ketika pasukan keamanan bertindak terhadap demonstran anti-pemerintah di dekat Hawijah.

Ulama Sunni-Syiah serukan dialog

“Situasinya benar-benar meningkat,” kata wartawan Al Saleh Al Jazeera. Tokoh masyarakat telah meminta tentara Sunni di Irak meninggalkan pos mereka jika pemerintah mereka memerintahkan menyerang daerah Sunni.

“Saya telah meliput peristiwa ini selama lebih dari empat bulan, ini adalah pertama kalinya saya melihat orang-orang bersenjata melindungi demonstran,” kata Al Saleh. Ribuan demonstran telah menyerukan pengunduran diri Maliki dan mencerca pemerintah karena dituding menargetkan komunitas mereka.

Abdulghafur al-Samarraie dan Saleh al-Haidari, ulama terkemuka yang masing-masing memimpin Sunni dan Syiah, mengadakan konferensi pers bersama, Rabu, di mana mereka memperingatkan terhadap perselisihan sektarian dan menyerukan politisi untuk bertemu di sebuah masjid Baghdad, Jumat.

Maliki sendiri memperingatkan kembali tentang perang saudara sektarian dalam pernyataan yang disiarkan di televisi pemerintah, Kamis. Pertemuan di masjid Umm al-Qura dijadwalkan pukul 17:00 (14:00 GMT), Jumat, tapi tidak jelas siapa yang akan hadir. (T/P09/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply