KETUA GP ANSOR : PESANTREN PENGARUHI BUDAYA DAN PENDIDIKAN BANGSA

Peringatan hari ulang tahun GP Ansor dengan tema “Revitalisasi Tradisi, Memperkokoh Kebhinekaan dan Mengentaskan Kemiskinan”, Jakarta, Sabtu (20/4). (Foto : MINA)

Jakarta, 11 Jumadil Akhir 1434/21 April 2013 (MINA) – Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor), Nusron Wahid mengatakan, pesantren sangat berpengaruh dalam sistem pendidikan dan kebudayaan bangsa Indonesia.

“Dalam tradisi pendidikan dan budaya Indonesia, pesantren merupakan lembaga yang sangat mempengaruhi sistem dan proses pembentukan dari keduanya. Hal itu karena pendidikan pesantren bersifat damai, sangat terbuka, dan inklusif. Inilah budaya pesantren yang adaptif terhadap tumbuhnya nilai-nilai budaya bangsa,” katanya saat peringatan hari ulang tahun GP Ansor di Jakarta, Sabtu (20/4).

Nusron juga mengajak kepada generasi muda Muslim untuk menjadi Muslim yang bermanfaat bagi perkembangan dakwah Islam dan kemajuan budaya bangsa Indonesia, karena hal itu pernah dicontohkan oleh para ulama pendahulu yang telah berjuang melawan penjajahan dan menegakkan dakwah di bumi nusantara.

“Sebagai pemuda Muslim, kita harus memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk kemajuan Islam ini dan kemajuan kebudayaan bangsa Indonesia. Itulah yang dicontohkan oleh para ulama pejuang Islam yang dengan gigih melawan penjajah dan mendakwahkan Islam di Indonesia,” terangnya.

Nusron menambahkan, acara yang lebih besar lagi akan diadakan di Surabaya, Jawa Timur pada 10 November mendatang. Acara tersebut bertepatan dengan peristiwa pertempuran bersejarah 10 November 1945 yang dimotori oleh para ulama pejuang Muslim dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Menurut ketua panitia, Ace Hasan Syadzili, ada tiga tujuan utama yang ingin dicapai dalam acara  dengan tema “Revitalisasi Tradisi, Memperkokoh Kebhinekaan dan Mengentaskan Kemiskinan” itu.

“Pertama, menegaskan bahwa budaya pesantren sebagai sub-kultur kebudayaan Indonesia yang lebih adaptif dan menghargai tradisi dan kearifan budaya lokal. Kedua, mengembalikan akar budaya Indonesia yang cinta damai, ramah, dan toleran. Ketiga, menunjukkan komitmen yang kuat perjuangan umat Islam dalam membentuk karakter budaya,” ungkapnya.

Turut hadir dalam acara tersebut, ulama sekaligus sastrawan Muslim, Mustofa Bisri; ulama Madura, Zawawi Imron; mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD; dan Menteri perdagangan, Gita Wirjawan. Acara itu juga menampilkan kesenian rampak bedug dari Banten dan Puisi yang dibawakan oleh Ki Agen Ganjur (Jawa Barat). (L/P04/P015/P02)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply