KOMNAS HAM : ADA KEJANGGALAN DALAM KASUS POSO

Jakarta, 3 Jumadil Akhir 1434/12 April 2013 (MINA) – Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Siane Indriyani mengatakan, ada kejanggalan-kejanggalan yang ditemukan pihaknya dalam kasus-kasus yang terjadi di Poso, Sulawesi Tengah.

“Ternyata memang ada hal-hal yang janggal dalam kasus Poso,” kata Siane dalam acara Diskusi Publik tentang ‘Aksi Kekerasan Densus 88’, di Jakarta, Kamis (11/4).

Menurut data yang diperoleh Siane di Poso, aksi penyerangan atau penembakan di Poso dilakukan bergantian oleh kedua pihak, yaitu pihak Daftar Pencarian Orang (DPO) dan aparat polisi.

“Setelah penangkapan, ada polisi yang ditembak, kemudian ada lagi penembakan oleh polisi,” kata wanita yang resmi menjabat komisioner Komnas HAM November 2012 lalu.

Siane juga memberi contoh kasus ditembaknya Khalid di masjid usai melaksanakan shalat Subuh. Padahal Khalid adalah seorang pegawai negeri sipil yang setiap hari masuk kerja, tapi dijadikan terduga teroris dan ditembak di tempat.

“Tidak ada alasan bagi Densus 88 untuk menembak Khalid,” kata Siane.

Wanita yang sudah tujuh kali mengunjungi Poso ketika anggota DPR tidak berani datang ke sana juga mengungkapkan, dari bekas peluru yang menembus di lantai masjid, diduga kuat Khalid ditembak dalam kondisi tidak berdaya di lantai dan ditembak lurus dari atas dalam jarak yang dekat, sehingga peluru tembus ke lantai.

Siane menjelaskan, ada kegelisahan di pihak kepolisian daerah mengenai sepak terjang Densus 88. Dalam melakukan operasi, Densus 88 tidak pernah berkoordinasi dengan kepolisian daerah. “Masyarakat awam tidak bisa membedakan mana aparat Densus dan mana aparat lokal, sehingga aparat lokal yang berhubungan langsung dengan masyarakat menjadi sasaran kemarahan,”  katanya.

Lebih lanjut Siane menegaskan, para pelaku terorisme adalah masih terduga, jadi harus ditangkap hidup-hidup. “Setiap saksi atau tersangka yang tewas di tempat harus dipertanggungjawabkan secara hukum,” tambah Siane.

Sementara itu, Adnan Harsal sebagai ulama Poso yang datang ke Jakarta mengatakan masyarakat Poso sekarang berhadapan dengan aparat. “Sekarang Muslim dan Kristen tidak ada masalah, saling tegur sapa. Persoalannya sekarang, kita berhadapan dengan aparat,” kata Adnan kepada wartawan Mi’raj News Agency (MINA).

Jika ada upaya pembicaraan damai, menurut Adnan, seharusnya dibicarakan kepada aparat kepolisian Sulawesi Tengah. “Karena sekarang aparat yang jadi persoalan, bukan Kristen,” tegas Adnan merupakan ulama yang terlibat dalam setiap perjanjian di Poso antara pihak yang terlibat konflik SARA sebelumnya. (L/P09/P04/P02)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply