KOMUNITAS MUSLIM ROHINGYA DI PAKISTAN GELAR AKSI UNJUK RASA

 Karachi, 25 Jumadil Awal 1434/6 April 2013 (MINA) – Komunitas Muslim Rohingya di Pakistan menggelar aksi unjuk rasa di kota pelabuhan selatan Karachi, Jum’at (5/4), untuk menunjukkan kemarahan mereka terhadap kekerasan yang berlangsung di Myanmar. 

menurut laporan Kantor Berita ABNA yang dipantau Mi’raj News Agency (MINA), para demonstran mengecam pemerintah Myanmar atas perannya dalam  kekerasan yang dilakukan terhadap Muslim Rohingya dan meminta badan-badan internasional untuk menghentikan penganiayaan umat Islam di negara itu.

Sedikitnya 800.000 Muslim Rohingya dirampas hak-hak kewarganegaraan karena kebijakan diskriminasi pemerintah Myanmar dan membuat mereka rentan terhadap tindak kekerasan, penganiayaan, pengusiran, dan pemindahan.

Pemerintah Myanmar sejauh ini menolak untuk memberikan kewarganegaraan Muslim Rohingya di negara bagian barat Rakhine, meskipun tekanan internasional memberi status hukum bagi mereka.

Ratusan Rohingya diyakini telah tewas dan ribuan mengungsi akibat serangan terbaru oleh ekstrimis yang menyebut dirinya umat Buddha.

Para ekstremis sering menyerang Muslim Rohingya dan  embakar rumah mereka di beberapa desa di Rakhine. Pasukan Myanmar diduga memberikan bensin untuk membakar rumah-rumah warga Muslim, yang kemudian Muslim Rohingya itu terpaksa mengungsi.

Pemerintah Myanmar telah dituduh gagal dalam melindungi penduduk minoritas Muslim di negara tersebut. Pemimpin oposisi Myanmar, Aung San Suu Kyi mendapat kecaman atas sikapnya terhadap kekerasan di Myanmar. Peraih Nobel Perdamaian itu menolak mengecam militer Myanmar atas penganiayaan terhadap Muslim Rohingya.

Satu-satunya etnis yang paling tertindas di Myanmar

Menurut laporan Pusat Informasi dan advokasi Rohingy-Arakan (PIARA), Rohingya merupakan etnis minoritas Muslim yang mendiami wilayah Arakan sebelah utara Myanmar berbatasan dengan Bangladesh, yang dahulu wilayah ini dikenal dengan sebutan Rohang dan saat ini lebih dikenal dengan Rakhine. Itu sebabnya orang-orang Muslim yang mendiami wilayah Rohang disebut dengan Rohingya – dikenal juga dengan Muslim Arakan – yang populasinya berjumlah lebih kurang 1,5 juta – 3 juta jiwa.

Sekitar 800.000-an tinggal di Arakan dan sisanya menyebar di berbagai negara antara lain di perbatasan Bangladesh, Pakistan, Jazirah Arab, Malaysia, Thailand, dan Indonesia, serta juga ada beberapa yang tinggal dan mengungsi ke negara Inggris, Amerika dan Jepang.

Sejak kemerdekaan negara Myanmar pada tahun 1948, Rohingya menjadi satu-satunya etnis yang paling tertindas di Myanmar. Selain teraniaya, Rohingya juga tidak diakui sebagai bagian dari bangsa Myanmar, padahal Rohingya berada di Arakan sejak Abad 7 M.

Berbicara mengenai kekerasan dan diskriminasi oleh pemerintah Myanmar, tidak hanya dilakukan terhadap etnis Rohingya, tapi juga kepada umat Kristiani dan etnis non mayoritas lain seperti Shan, Kachin, Karen, Chin, dan lain-lain. Namun, bedanya hanya etnis Rohingya yang kemudian tidak diakui sebagai bagian dari etnis Myanmar dan juga tidak diakui sebagai bagian dari bangsa Myanmar (Stateless).

Hal tersebut secara tegas mereka lakukan dengan membentuk UU Imigrasi Darurat pada tahun 1974 yang menghapus kewarganegaraan Rohingya dan selanjutnya pada 1982 melalui Peraturan Kewarganeraan Myanmar (Burma Citizenship Law 1982). Myanmar menghapus Rohingya dari daftar delapan etnis utama (yaitu Burmans, Kachin, Karen, Karenni, Chin, Mon, Arakan, Shan) dan dari 135 kelompok etnis kecil lainnya.

Sejak 1948, pemerintah Myanmar melalui rezim militernya telah menimbulkan konflik vertical dengan Muslim Rohingya yang menyebabkan Muslim Rohingya terusir paksa dari tanah air mereka melalui serangkaian tindakan eliminasi sistematis berupa penganiayaan, penyiksaan, penculikan, pembantaian, pelecehan, pemerkosaan, pembakaran, penghancuran rumah dan masjid, penyitaan harta benda, pembatasan kemerdekaan bergerak, perbudakan, dan penghinaan terhadap agama.

Akibat kekerasan struktural yang berlangsung begitu panjang, maka Muslim Rohingya terpaksa mengungsi dan menjadi ‘manusia perahu’, mencari negeri aman yang mau menerima mereka di Asia Tenggara atau di negeri manapun di seluruh dunia. Tidak jarang para manusia perahu itu tenggelam ataupun mati karena kelaparan dan kehausan di tengah laut. Banyak pula yang ditahan atau diperlakukan semena-mena di negara-negara transit atau di negara-negara penerima mereka.

Saat ini ada 1,5 juta orang Rohingya yang terusir dan tinggal terlunta-lunta di luar Arakan/ Myanmar. Kebanyakan mereka mengungsi di Bangladesh, Pakistan, Saudi Arabia, UAE, Malaysia, Thailand, Indonesia dan lain-lain.

Indonesia menjadi salah satu tujuan orang Rohingya karena Indonesia merupakan negara mayoritas muslim yang diharapkan dapat menjadi tempat berlindung yang aman bagi Muslim Rohingya. (T/P014/P02)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply