KELAPARAN 2011 TEWASKAN 260.000 JIWA DI SOMALIA

Mogadishu, 20 Jumadil Akhir 1434/30 April 2013 (MINA) – Pada tahun 2011, kelaparan di Somalia menewaskan sekitar 260.000 orang dengan setengah dari korban tersebut adalah balita, lapor situs Medical Daily, Senin (29/4).

Sistem Jaringan Peringatan Dini Kelaparan (Famine Early Warning Systems Network/FEWSN) membuat laporan tersebut yang akan dipublis Kamis (2/5) nanti.

Sebuah studi FEWSN sebelumnya telah menemukan bahwa kebutuhan untuk bantuan kemanusiaan di Somalia menurun 50 persen, dengan bantuan diperkirakan 1,05 juta dolar sejak Agustus 2012. Hal ini diduga karena musim hujan yang lebih baik  menghasilkan makanan bagi masyarakat dan ternak.

Laporan estimasi baru memperhitungkan kondisi darurat dan peristiwa tersebut terkait dengan bencana. Angka-angka itu jauh dari angka yang dipublikasikan oleh Departemen Pembangunan Internasional (Department for International Development /DflD) tahun lalu yang diperkirakan sekitar 50.000 dan 100.000 orang. Lebih dari setengah jumlah tersebut merupakan balita yang meninggal pada 2011 dari wilayah Tanduk Afrika seperti Somalia, Ethiopia dan Kenya.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Somalia menolak untuk mengomentari tingginya angka kematian. Perwakilan lembaga Dana Anak-Anak PBB (United Nations Children’s Fund/UNICEF) mengatakan, pasukan internasional harus merubah cara mereka menanggapi krisis kelaparan. Jika respon bantuan terlambat, berarti akan menempatkan ribuan nyawa dalam bahaya.

Menurut sebuah studi oleh Oxfam dan Save the Children, donatur kaya terlambat menanggapi krisis kelaparan 2011 karena gagalnya para relawan kemanusiaan dan pengembangan sistem. Para pemimpin bantuan menyarankan pemerintah dan masyarakat internasional yang meninjau pendekatan saat ini untuk mengatasi krisis dan tidak menunggu kepastian sebelum menanggapi dan mengembangkan pendekatan umum untuk memicu tindakan dini.

Pada 7 Mei, pemerintah Inggris dan Somalia akan menjadi tuan rumah Konferensi Somalia 2013 yang diharapkan akan membangun kembali pasukan negara dan politik bersenjata, keadilan dan sistem manajemen keuangan.

Sejarah konflik Somalia dan penurunan pemerintah muncul pada 1980-an ketika terjadi puncak perang antar negara tetangga yang membuat ketegangan meninggi antar suku. Hal ini juga terjadi setelah penumbangan diktator militer Mohamed Siad Barre yang kehilangan kendali atas negara dan pasukannya. (T/P09/P01).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply