MESHAAL : PEMBEBASAN TAHANAN AGENDA UTAMA

Gaza City, 25 Jumadil Awwal 1434/5 April 2013 (MINA) – Kepala Biro Politik Hamas (Harakah Al-Muqawwamah Al-Islamiyah) Khaled Meshaal, menyatakan bahwa pembebasan para  tahanan Palestina di penjara-penjara Israel merupakan salah satu agenda prioritas yang harus segera dilakukan.

Meshaal mengatakan Kamis (4/4) dalam sebuah diskusi tentang tahanan Palestina asal kota Hebron, Tepi Barat yang meninggal di penjara Israel, Maysara Abu Hamdiya.

“Perjuangan rakyat Palestina tidak akan pernah berhenti. Kita, rakyat Palestina harus berjuang bersama-sama. Agenda utama kita saat ini adalah pembebasan semua tahanan Palestina yang berada di penjara-penjara Israel,” kata Meshaal, seperti dilaporkan Al-Resalah. 

Pimpinan Hamas tersebut juga mengatakan bahwa tidak lama lagi, rakyat Palestina akan menyaksikan kemenangan besar, khususnya bagi para tahanan di penjara-penjara Israel.

“Mereka akan segera bebas. Kita akan bekerja bersama-sama untuk membebaskan mereka,” tambahnya.

“Saat ini Israel sudah tidak kuat lagi seperti tahun-tahun lalu. Mereka sudah kehilangan banyak pendukung, dan Israel semakin hari akan semakin lemah,” tegasnya.

Menurutnya, kekuatan rakyat Palestina sesungguhnya terletak pada persatuan dan kesatuan di antara mereka. Untuk membebaskan tanah Palestina yang bersejarah, kuncinya terletak pada rakyat Palestina sendiri, sejauh mana mereka punya niat yang sungguh-sungguh untuk bersatu, katanya.

“Jika kita seluruh umat Islam bersatu, musuh akan menganggap kekuatan kita seribu kali lipat dari pada kita berjuang sendiri-sendiri. Kita akan mendapat banyak kemajuan dengan bersatu,” ungkapnya.

Meshaal menagaskan bahwa Al-Quds adalah ibu kota Palestina yang harus segera dibebaskan. Seluruh umat muslim di dunia akan berkunjung ke Al-Quds, karena kota itu adalah kota suci umat Islam.

Khaled Meshaal (lahir 1956) dari sebuah keluarga Palestina di Tepi Barat, telah kenyang dipaksa hidup di luar tanah kelahirannya sepanjang hidupnya. Setelah invasi Israel terhadap Tepi Barat tahun 1967, Meshaal dan keluarganya meninggalkan desa mereka di dekat Ramallah bersama jutaan orang Palestina lainnya, meninggalkan tanah air sendiri akibat pengusiran Zionis Israel.

Meshaal hidup berpindah-pindah di pengasingan. Ia pernah tinggal di Damaskus, ibu kota Suriah, sebelum konflik berdarah. Ia adalah tokoh kunci dalam merumuskan kebijakan politik Hamas terhadap Israel. Rakyat Palestina menganggap Misy’al sebagai pahlawan mengingat kegigihannya dalam berjuang melawan penjajah Israel.

Sejak Hamas memenangkan pemilu pada Januari 2006, Meshaal memang ditugaskan untuk menjadi perwakilan Hamas dalam pembicaraan dengan berbagai pimpinan negara di dunia, seperti Mesir, Turki, Liga Arab, dan sebagainya. (T/P04/R1)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply