PERTAMA KALI, MINYAK SUDAN SELATAN CAPAI SUDAN

Khartoum, 6 Jumadil Akhir/15 April 2013 (MINA) – Kementerian perminyakan Sudan, Awad Abdul Fatah mengatakan, minyak mentah pertama dari Sudan Selatan telah mencapai wilayahnya pada Ahad (14/4).

Hal itu dinilai dapat membuka peluang kedua negara miskin tersebut menghasilkan pendapatan miliaran dolar setelah terjadi sengketa biaya. 

“Minyak gelombang pertama sudah tiba di Sudan pada Ahad (14/4), ini adalah jumlah pengujian kecil,” Awad menambahkan, sebagaimana dilansir dari The Daily Star yang dipantau Mi’raj News Agency (MINA).

Delapan hari lalu, Sudan Selatan mengadakan upacara untuk memulai kembali produksi minyak di lapangan Thar Jath di negara bagian Unity setelah vakum lebih dari setahun.

“Masing-masing pihak dari kami mencoba melakukan hal ini secepat mungkin dan kami ingin dana tersebut mengalir ke kas sesegera mungkin,” Awad menambahkan.

Sudan Selatan menghentikan produksi minyak mentah di awal 2012, memotong sebagian besar pendapatan setelah menuduh Khartoum melakukan pencurian berturut-turut atas biaya ekspor.

Cina adalah negara yang membeli minyak tersebut dalam jumlah paling besar.

Awad mengatakan minyak mengalir ke dalam tangki di wilayah Sudan dari Blok 5A Sudan Selatan, ibukota Negara Kesatuan, Bentiu. “Mereka telah memproses minyak ini dan mereka telah mengalirkan ke tangki ekspor” paparnya lagi.

Dia menyatakan harapan dalam satu pekan ini minyak bisa dialirkan ke pipa utama untuk memulai perjalanan sekitar 45 hari ke terminal ekspor di Pelabuhan Sudan di Laut Merah.

“Operasi ini akan dimulai bertahap karena mereka tidak bisa membuka ribuan sumur pada saat yang bersamaan, saat ini mereka sudah mulai membuka sumur” tandasnya.

Ia mengantisipasi aliran awal 10.000 barel per hari bergerak menuju Port Sudan, hingga tangki yang dapat menampung lebih dari 600.000 barel tersebut terisi sempurna.

Kapal pertama yang mengangkut minyak dapat berangkat sekitar bulan Juli, dengan pendapatan pertama tiba hingga 40 hari kemudian, ia menambahkan.

Fatah mengatakan bahwa para insinyur masih memeriksa kondisi pipa Sudan yang terbentang sekitar 1.500 kilometer (930 mil). Sejauh ini tidak ada masalah yang berarti.

Pekerja dari pihak Sudan Selatan menemukan sebuah lubang peluru di pipa lokal pada Sabtu (13/4), tetapi kebocoran telah dihentikan.

Sudan Selatan memisahkan diri dari Sudan pada Juli 2011, menyusul referendum suara besar untuk kemerdekaan di bawah kesepakatan damai yang mengakhiri perang saudara 22 tahun.

Negara baru tersebut terpisahkan dengan sekitar 75 persen dari 470.000 barel per hari minyak mentah yang diproduksi oleh negara sebelumnya bersatu, sementara kilang dan pipa ekspor berada di bawah wilayah hukum Khartoum.

Kemerdekaan tersebut meninggalkan isu-isu kunci yang belum terselesaikan, termasuk berapa banyak Sudan Selatan harus membayar untuk pengiriman minyak melalui infrastruktur ekspor Sudan.

Meningkatnya ketegangan menyebabkan bentrokan perbatasan dan pendudukan selama 10 hari oleh Sudan Selatan atas ladang minyak utama Heglig utara tahun lalu.

Pada perundingan di Addis Ababa bulan lalu, Sudan dan Sudan Selatan akhirnya menetap dalam jadwal rinci untuk melanjutkan aliran minyak dan menerapkan delapan perjanjian penting lainnya untuk menormalkan hubungan. (T/P07/P02)

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

 

Leave a Reply