MUSLIM AMERIKA TOLAK AKSI TERORISME

Boston, 12 Jumadil Akhir/21 April 2013 (MINA) – Muslim Amerika Serikat (AS) menolak segala tindakan kekerasan yang berujung pada aksi terorisme.

Para pemimpin Muslim di negara itu juga mendesak warga pada umumnya untuk tidak mengkambinghitamkan komunitas Muslim setelah serangan bom di Boston.

“Kami tidak akan membiarkan diri kita dibajak oleh upaya ini,” Nihad Awad, direktur eksekutif nasional Dewan Hubungan Amerika-Islam (Council on American-Islamic Relations/CAIR) mengatakan dalam sebuah konferensi pada Ju’mat (19/4).

“Kami tidak akan membiarkan persepsi bahwa ada agama di dunia ini yang membiarkan pengeboman dengan merenggut nyawa tak bersalah,” tambahnya seperti dikutip OnIslam yang dipantau Mi’raj News Agency (MINA), Ahad (21/4).

Polisi menangkap kedua tersangka dalam pemboman kembar yang mengguncang Boston awal pekan ini yang menewaskan sedikitnya tiga orang.

Tersangka, Dzhokhar Tsarnaev, 19, ditemukan bersembunyi di sebuah perahu di halaman belakang pemilik rumah pinggiran kota itu. Polisi mengatakan mereka terlibat baku tembak dengan tersangka setelah menikungnya di Watertown, dekat Boston.

Polisi mengatakan kepada para wartawan, tersangka sedang dirawat di rumah sakit Massachusetts akibat luka tembak serius pada leher dan kaki.

Polisi mengatakan, tersangka telah melarikan diri dengan berjalan kaki, tampaknya terluka, setelah baku tembak yang merenggut nyawa kakaknya.

Pemimpin Muslim Amerika telah menegaskan penolakan melakukan kekerasan atas nama agama. “Hanya karena mereka mengatakan mereka Muslim tidak membuat mereka Muslim,” kata Imam Abdul-Haqq Benjamin dari Masjid Muhammad di Washington.

“Ini adalah tindakan kriminal, bukan tindakan religius,” tegasnya pada konferensi pers yang diselenggarakan oleh CAIR dan kelompok-kelompok Muslim terkemuka lainnya.

Konferensi itu juga dihadiri oleh Muslim Public Affairs Council, Masyarakat Islam Amerika Utara (Islamic Society of North America/ISNA) dan kelompok Islam Amerika lainnya. Para peserta Muslim telah menyatakan frustrasi, mereka sekali lagi dipaksa untuk mempertahankan iman mereka terhadap tindakan beberapa ekstrimis.

“Sebagai komunitas Muslim Amerika, kita tidak harus bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan setiap individu,” kata Presiden ISNA, Imam Mohamed Magid.

Para pemimpin Muslim menyerukan kepada publik Amerika agar tidak mengkambinghitamkan seluruh minoritas menyusul serangan yang terjadi baru-baru ini. “Setiap agama di dalamnya memiliki unsur sesat, dan sayangnya beberapa orang muda mendengarkan unsur kesesatan itu,” kata juru bicara CAIR, Corey Saylor.

Farhana Khera, direktur eksekutif Muslim Advocates, juga mendesak AS untuk menolak kelompok yang mengkambinghitamkan berdasarkan pada identitas etnis atau agama.

“Kami sangat mendesak semua orang Amerika untuk menolak pengkambinghitaman kelompok atau menargetkan warga Amerika yang tidak bersalah berdasarkan identitas ras, etnis, atau agama mereka,” kata Khera dalam sebuah pernyataan publik yang dikutip oleh situs Politico.

Linda Sarsour, direktur advokasi nasional dari Jaringan Nasional untuk Masyarakat Arab-Amerika, mengatakan, serangan terhadap satu adalah serangan pada semua.

“Masyarakat Amerika-Arab bersimpati dalam solidaritas dengan rakyat Boston dan semua orang Amerika,” kata Sarsour dalam sebuah pernyataan publik.

Amerika adalah rumah bagi sekitar 7-8 juta Muslim. Sebuah jajak pendapat yang diadakan oleh Lembaga Survey Gallup sebelumnya menemukan bahwa mayoritas orang Amerika Muslim setia kepada negara mereka dan optimis tentang masa depan mereka di AS.

Sejak serangan 9/11 di AS, banyak Muslim telah mengeluh menghadapi diskriminasi di masyarakat Amerika karena identitas Islam mereka. (T/P05/P02)

 Mi’raj News Agency (MINA)

Rate this article!

Leave a Reply