MUSLIM PERANCIS ADUKAN SEKOLAH YANG MELAKUKAN DISKRIMINASI

Paris, 27 Jumadil Awal /7 Maret 2013 (MINA) – Sebuah keluarga Muslim Perancis menuntut ke pengadilan atas perlakuan diskriminasi dan pelecehan pihak sekolah dimana putri mereka dipisahkan dari teman-temannya karena memakai jilbab dan rok panjang yang dianggap terlalu religius.

“Dia hanya mengenakan jilbab dan rok panjang, tapi pihak sekolah memutuskan ini adalah simbol-simbol agama,” demikian ibu dari sang anak menjelaskan.

Anaknya yang merupakan seorang siswa di sekolah Villiers-sur-Marne dekat kota Paris, mengenakan jilbab dan rok menutupi celana. Mengingat bajunya terlalu religius, para guru sekolah memutuskan untuk memisahkan gadis tersebut dari teman-teman sekelasnya.

Para guru juga mengutip aturan ketat di Perancis yang melarang siswa mengenakan simbol-simbol keagamaan, baik itu jilbab Muslim, salib Kristen atau kopiah Yahudi.

Gadis tersebut dipaksa untuk menghabiskan seluruh waktunya di sekolah sendirian di sebuah kelas, dia disuruh untuk mengerjakan tugas-tugas dikarenakan dia bersikeras untuk mengubah gaunnya.

Menolak hasil keputusan sekolah itu, keluarganya dengan dukungan dari Asosiasi anti-islamfobia Perancis (CCIF), mengatakan mereka akan menggugat diskriminasi sekolah. Kasus ini terjadi ditengah kontroversi yang diikuti putusan oleh pengadilan tinggi Prancis bahwa pemberhentian seorang wanita Muslim dari taman kanak-kanak swasta karena menolak melepas jilbabnya.

Perancis menolak terhadap jilbab dalam segala bentuknya karena berasal dalam lampiran negara yang mengusung sekularisme. Selama satu dekade terakhir, Prancis telah melewati sejumlah undang-undang kontroversial yang membatasi pemakaian simbol-simbol keagamaan di tempat umum.

Pada tahun 2004 misalnya, Prancis melarang Muslimah mengenakan jilbab di tempat umum. Beberapa negara Eropa mengikuti contoh Perancis. Perancis juga melarang pemakaian cadar di depan umum pada tahun 2011.

Pada bulan Oktober, sebuah jajak pendapat oleh Ifop menemukan bahwa hampir setengah dari rakyat Perancis melihat Muslim sebagai ancaman terhadap identitas nasional mereka. Jajak pendapat juga menemukan bahwa sebagian besar rakyat Perancis melihat Islam memainkan peran terlalu berpengaruh dalam masyarakat mereka.

Jajak pendapat lain oleh Ipsos dan Yayasan Jean-Jaures menemukan bahwa Perancis mulai khawatir dengan imigran, politisi, globalisasi dan media, dengan 74 persen percaya bahwa Islam tidak kompatibel dengan masyarakat Perancis. (T/P05/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply