OKI DESAK MYANMAR IJINKAN DELEGASI MENTERI KUNJUNGI MYANMAR

Jeddah, 7 Jumadil Akhir 1434/16 April 2013 (MINA) – Organisasi Kerjasama Islam (OKI) mendesak pemerintah Burma (Myanmar) agar mengijinkan delegasi menteri negara OKI membahas kekerasan anti-Muslim di negara Budha tersebut, On Islam melaporkan, Senin (15/4), yang dikutip Mi’raj News Agency (MINA).

Dalam pernyataannya, OKI menyeru otoritas Myanmar untuk serius menanggapi seruan organisasi dan memungkinkan delegasi menteri OKI untuk mengunjungi Myanmar.

Lebih dari 43 orang tewas dan beberapa masjid dibakar dalam seminggu kekerasan sektarian di pusat kota Meiktila awal bulan ini.

Kekerasan anti-Muslim dimulai dari sebuah perdebatan antara pasangan Budha dan pemilik toko emas yang Muslim dan kemudian menyebar ke beberapa kota di Myanmar Tengah.

Para biksu disalahkan karena menghasut kebencian terhadap umat Islam dengan pemberitaan negatif  yang disebut “Gerakan 969”, yang merupakan bentuk radikal nasionalisme anti-Islam yang mendesak umat Buddha memboikot Muslim yang mengelolah toko dan pusat pelayanan.

Kerusuhan itu terjadi setelah serangan terhadap etnis Muslim Bengali, yang dikenal sebagai Rohingya, dalam bentrokan sektarian yang mematikan di Myanmar Barat.

“Kekerasan seperti ini merupakan indikasi yang jelas dari pendekatan negatif pemerintah dalam menangani ketegangan etnis dan agama yang meletus musim panas lalu,” kata Sekretaris Jenderal OKI Ekmeleddin Ihsanoglu dalam pidatonya pada pertemuan darurat Kelompok Kontak OKI, Ahad (14/5).

Pemimpin OKI mengkritik penolakan pemerintah Myanmar mengizinkan delegasi OKI mengunjungi Myanmar untuk memeriksa laporan kekerasan anti-Muslim.

“Meskipun upaya kami untuk membangun komunikasi dengan pihak berwenang di Myanmar dengan memilih tokoh terkemuka dari negara tetangga untuk mengunjungi Myanmar dan membuka diskusi dengan para pejabat, namun pemerintah tidak responsif,” kata Ihsanoglu.

Dibentuk pada bulan September tahun lalu, Kelompok Kontak mencakup 11 dari 57 anggota OKI, yaitu Afghanistan, Arab Saudi, Bangladesh, Brunei, Djibouti, Mesir, Uni Emirat Arab, Indonesia, Malaysia, Sudan dan Turki.

Bulan Oktober, OKI mencoba membuka kantor di Myanmar untuk membantu Muslim di sana, tapi langkah itu diblokir oleh Presiden Myanmar Thein Sein menyusul protes besar-besaran oleh para biksu Budha. (T/P09/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply