OPOSISI CAR DOMINASI PEMERINTAHAN BARU

Bangui, 20 Jumadil Awal 1434/1 April 2013 (MINA) – Perdana Menteri Republik Afrika Tengah (CAR) Nicolas Tiangaye, Ahad (31/3) menunjuk sebagian besar tokoh oposisi dan koalisi Seleka dalam pemerintahan pasca-kudeta, lansir Modern Ghana yang dipantau MINA.

Tiangaye yang diizinkan mempertahankan jabatannya oleh orang kuat terbaru CAR, Michel Djotodia, merilis  34 nama anggota kabinet terbaru, sembilan menteri di antaranya dari koalisi gerakan perlawanan Seleka dan delapan tokoh dari mantan oposisi, serta satu tokoh yang dekat dengan presiden terguling, Francois Bozize.

Pemerintah baru yang tercantum dalam dekrit, dibacakan di radio nasional CAR. Djotodia yang memimpin kudeta menetapkan dirinya sebagai presiden setelah mengusir Bozize Minggu lalu, sekaligus merangkap jabatan Menteri Pertahanan.

Kementerian perminyakan, keamanan, air dan kehutanan, dan komunikasi dipegang oleh anggota Seleka.

Djotodia melancarkan serangan kudeta cepat di ibukota, Bangui, akhir pekan lalu  menggulingkan Bozize setelah gagalnya kesepakatan damai Januari. Setelah hari penjarahan dan kekacauan, sebagian besar tentara gerakan perlawanan telah mengamankan kota dibantu kekuatan regional Afrika. Tapi muncul laporan mengganggu yang diterbitkan di Afrika Selatan tentang tewasnya tentara usia remaja di pihak Seleka dalam pertempuran.

“Setelah penembakan itu berhenti kami melihat ternyata kami telah membunuh anak-anak,” kata seorang tentara penerjun payung  Afrika Selatan kepada Sunday Times. Pasukan Afrika Selatan dikirim ke CAR dalam upaya menstabilkan negara itu sebelum kejatuhan Bozize. Namun gagal.

Sekitar 200 tentara Afrika Selatan melawan sekitar 3.000 pejuang Seleka selama pertempuran di Bangui yang berlangsung beberapa jam. Ini menjadi kerugian berat militer Afrika Selatan, 13 tentaranya tewas dalam pertempuran itu.

Pemerintah Afrika Selatan menghadapi peningkatan telepon rumah yang mempertanyakan mengapa Presiden Jacob Zuma mengirim pasukan ke CAR.

Janji Michel Djotodia

Sabtu lalu, Djotodia berjanji akan menyerahkan kekuasaan pada akhir transisi selam tiga tahun dan tidak akan ikut dalam pemilihan umum 2016. “Saya berharap untuk menjadi  presiden pemberontak terakhir dari Afrika Tengah,” katanya kepada kerumunan pendukungnya. Sejak kemerdekaan dari Prancis pada tahun 1960, negara ini terbiasa  kudeta dan membunuh orang kuat.

Ketegangan antar agama  meningkat di sebagian besar wilayah Kristen sejak Djotodia, seorang Muslim, menjadi presiden. Presiden sebelumnya sering menuduh pengikut gerakan perlawanan sebagai fundamentalis. (T/P09/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply