PASUKAN ISRAEL SERBU KAMPUNG ISSAWI

Al-Quds (Yerusalem), 13 Jumadil Akhir 1434/23 April 2013 (MINA) – Pasukan Israel menyerbu kota kelahiran tahanan Palestina mogok makan, Samer Issawi dan merobohkan tenda solidaritas yang didirikan untuk mendukung para tahanan mogok makan.

“Bentrokan meletus ketika pasukan Israel menurunkan tenda di Issawiya, Al-Quds Timur, yang digunakan untuk menyambut pendukung Issawi,” kata seorang saksi mata seperti dikutip Ma’an News yang dipantau Mi’raj News Agency (MINA), Selasa dini hari (23/4).

Pasukan Israel menembakkan granat setrum dan peluru berlapis plastik dalam operasi penyerbuannya. Sedangkan, para pemuda setempat melemparkan batu pada pasukan Israel.

Tiga warga Palestina ditangkap, termasuk Raed Abu Riyala (34) dan Yazan Audah (21).

Hampir setiap hari, daerah Issawiya telah menjadi medan bentrokan dengan pasukan Israel yang telah berkali-kali membongkar tenda solidaritas di wilayah tersebut.

Issawi telah melakukan aksi mogok makan di dalam tahanan Israel selama lebih dari 265 hari, dan ia menegaskan tidak akan makan hingga ia dibebaskan.

Pada Maret 2013 lalu, sumber-sumber medis telah memperingatkan penurunan serius kondisi kesehatan Samer Issawi yang dapat menyebabkan “kematian mendadak” bagi dirinya.

Menurut dokter, kondisi Issawi memburuk setelah menghabiskan hari-harinya tanpa makanan untuk menentang kebijakan ‘penahanan administratif’ penjajah Israel, di mana warga Palestina yang dipenjara dalam waktu yang lama tanpa proses pengadilan.

Issawi adalah salah satu dari beberapa tahanan Palestina yang melakukan aksi mogok makan jangka panjang. Beberapa analis politik internasional telah membandingkan aksi mogok makan tahanan Palestina dengan Bobby Sands, pemogok makan asal Irlandia Utara pada 1970-an.

Samer Issawi (33), telah ditahan tanpa dakwaan selama lebih dari tujuh bulan oleh penjajah Israel. Ia dibebaskan dari penjara pada Oktober 2011 sebagai bagian dari pertukaran tahanan seorang perwira Israel Gilad Shalit dan kemudian ditahan lagi tanpa tuduhan pada tanggal 7 Juli 2012.

Issawi telah melakukan mogok makan sejak awal Agustus 2012 untuk memprotes penahanan atas dirinya.

Ia dilarikan ke rumah sakit sebelum pengadilan militer pada 21 Februari 2013, saat ia sudah melakukan aksi mogok makan selama lebih dari 200 hari, dan pengacaranya menuntut pembebasannya. Namun pengadilan militer Israel menolak, dan menjatuhi hukuman kepada Issawi tambahan delapan bulan penjara.

Ia menghadapi hukuman potensial dua puluh tahun penjara. Setelah dibebaskan pada tahun 2011 sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran tahanan, ia dibawa ke tahanan pada tahun berikutnya untuk berada di sebuah kota dekat Al-Quds yang dilarang baginya untuk melakukan perjalanan, sesuai dengan ketentuan pembebasannya.

Hingga Tuntutan Terpenuhi

Dimulai oleh Khader Adnan lebih dari setahun yang lalu, gerakan ini telah menarik ribuan tahanan Palestina melakukan aksi mogok makan jangka pendek dan panjang untuk menuntut perubahan dalam sistem peradilan militer Israel yang mengatur warga Palestina di Tepi Barat dan Gaza.

Lebih dari 1600 tahanan melakukan aksi mogok makan sejak 17 April 2012 lalu. Tuntutan utama mereka adalah menuntut penjajah Israel untuk mengakhiri praktek sewenang-wenang penahanan administratif, mengakhiri pemberlakuan sel isolasi, mengakhiri penyerangan di dalam sel, pencabutan semua pembatasan kunjungan keluarga tahanan, peningkatan pelayanan penjara dan perawatan medis, dan mengakhiri keluarga tahanan yang dipermalukan di pos pemeriksaan saat melakukan kunjungan, membuka kembali kunjungan keluarga dari Gaza serta memberikan kehidupan bagi tahanan Palestina yang bebas dan bermartabat. Penjajah Israel telah menghentikan kunjungan keluarga bagi para tahanan yang melakukan aksi mogok makan.

Organisasi Hak Asasi Manusia Urusan Tahanan Palestina, AdDameer, melaporkan, total tawanan warga Palestina yang kini berada di penjara-penjara penjajah Israel berjumlah 4936 tawanan.

Pada akhir September 2012, terdapat sekitar 60 tahanan Palestina yang ditahan di dalam sel isolasi, termasuk dua diantaranya ditempatkan secara terpisah untuk alasan negara atau keamanan penjara.

Banyak tahanan Palestina yang ditahan selama bertahun-tahun tanpa diadili, dan orang-orang yang dikenakan hukuman, lebih dari 99% mereka yang ditahan, seringkali dengan sedikit atau tidak ada bukti atas penahanan mereka. (T/P06)

Mi’raj News Agency (MINA)

Rate this article!

Leave a Reply