PASUKAN PERANCIS TINGGGALKAN KOTA TIMBUKTU MALI

Timbuktu, Mali, 19 Jumadil Akhir 1434/29 April 2013 (MINA) – Pasukan Perancis mulai meninggalkan kota Timbuktu di utara Mali, Ahad (28/4), setelah beberapa bulan mereka menyerbu negara Afrika Barat itu.

Kolonel Perancis Cyrille Zimmer mengatakan, sekitar 100 tentara telah dipindahkan ke kota timur laut, Gao.

Namun, dia menambahkan bahwa detasemen kecil sebanyak 20 tentara tetap berada di Timbuktu yang akan beroperasi dengan batalyon Burkinabe, tentara dari Burkina Faso yang resmi mengambil alih kota utara itu pekan lalu.

“Detasemen ini akan tinggal di Timbuktu sementara, bersama Burkinabe yang ada,” tambahnya , seperti dilansir Press TV  yang dikutip MINA.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Perancis, Jean-Yves Le Drian, Jum’at (26/4), menegaskan kembali bahwa negaranya akan menyisakan 1000 tentara di Mali untuk melawan kelompok-kelompok bersenjata, bahkan setelah kedatangan pasukan penjaga perdamaian PBB akhir tahun ini.

“Mulai sekarang kita berada dalam fase pasca-perang. Resolusi PBB yang diadopsi kemarin akan memungkinkan kedatangan kekuatan untuk menstabilkan negara itu,” kata Le Drian kepada wartawan. “Tapi Perancis akan pertahankan sekitar 1000 tentara untuk melanjutkan operasi militer,” tambahnya.

Perancis yang memimpin perang Mali, sejak 11 Januari 2013 lalu, telah menyebabkan krisis kemanusiaan yang serius di wilayah utara negara itu dan menciptakan pengungsi ribuan orang yang kini hidup dalam kondisi menyedihkan.

Lembaga Amnesty International mengatakan, pada 1 Februari 2013, pelanggaran berat hak asasi manusia terjadi di Mali, termasuk pembunuhan anak-anak.

Beberapa analis politik meyakini, sumber daya alam yang melimpah di Mali, termasuk emas dan cadangan uranium, menjadi salah satu alasan di balik perang Perancis melawan negara Afrika itu. (T/P09/P02)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply