PBB DESAK AKSES BANTUAN KE DARFUR SELATAN

Khartoum, 7 Jumadil Akhir 1434/17 April 2013 (MINA) – Pihak PBB mendesak diberi akses langsung untuk membantu ribuan warga sipil di Labado dan Muhagiriya, timur ibukota Nyala, Darfur Selatan,  yang dikuasai Tentara Pembebasan Sudan dari faksi Minni Minnawi, Selasa (16/4), Independent Online melaporkan dan seperti yang dikutip  Mi’raj News Agency (MINA).

Pihak berwenang menganggap daerah tersebut sudah tidak aman lagi bagi lembaga bantuan untuk masuk, tetapi pejabat PBB berpendapat lain.

“Situasi tampaknya akan berubah dengan cepat di lapangan,” kata Mark Cutts, Kepala Dinas PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan di Sudan.

Ali Al-Za’tari, Pimpinan PBB di Khartoum, mengatakan data pemerintah menunjukkan bahwa sekitar 36.000 orang telah berkumpul di sekitar pangkalan pasukan penjaga perdamaian internasional di Muhagiriya dan Labado.

“Laporan yang diterima oleh PBB menunjukkan wabah diare pada anak membutuhkan bantuan mendesak dan segera,” kata Za’tari.

Ia mengatakan pekerja bantuan memerlukan akses segera untuk menilai kondisi masyarakat dan memberikan bantuan kemanusiaan. Za’tari mendesak pemerintah dan faksi Minnawi  menegakkan tanggung jawab kemanusiaan mereka untuk melindungi semua penduduk sipil.

Dia menekankan bahwa warga sipil yang ingin meninggalkan daerah itu harus diperbolehkan dengan perjalanan yang aman. “Semua layanan normal telah terganggu,” kata Cutts. “Terlalu banyak warga sipil menderita di Darfur. Kita perlu pertempuran ini berhenti.”

Cutts mengatakan bahwa pertempuran terakhir jelas merupakan kemunduran bagi semua orang yang bekerja untuk membangun perdamaian dan menempatkan Darfur kembali di jalan menuju pemulihan dan pembangunan.

Namun dia mengatakan, wilayah yang seukuran Perancis itu “relatif stabil” dan menawarkan kesempatan yang baik untuk membangun kembali. Sebuah konferensi donor diadakan di Qatar pekan lalu yang didukung strategi enam tahun, bertujuan untuk memindahkan Darfur jauh dari bantuan makanan dan bantuan darurat lainnya kepada peletakan dasar untuk perkembangan pembangunan yang terus menerus.

Namun, Kanada mengatakan dalam pertemuan, bahwa mereka menghadapi penghalang untuk pengembangan dan upaya stabilisasi di Darfur, karena keamanan telah memburuk.

Kanada mengatakan sering ada penundaan dan penolakan dari izin perjalanan. Pada konferensi yang sama Uni Eropa mengatakan badan-badan bantuan masih menghadapi pembatasan akses. Khartoum baru-baru ini mengambil langkah-langkah dan mengatakan akan memudahkan para pekerja bantuan untuk mengunjungi proyek-proyek mereka.

“Komitmen pemerintah telah mengizinkan kita untuk bergerak bebas di semua tempat di mana tidak ada operasi militer yang sedang berlangsung,” kata Cutts.

Pasukan pemerintah menyerang

Sementara itu, juru bicara Tentara Pembebasan Sudan dari faksi Minni Minnawi di London mengatakan, Selasa, pasukan pemerintah Sudan menyerang kota yang telah dikuasai kelompoknya di Darfur Selatan.

“Pagi ini (Selasa) kami menolak serangan pemerintah pada Labado,” kata Mohammed Taha Nuraldim, perwakilan faksi Minni Minnawi di Lonson kepada kantor berita Perancis.

Gerakan pelawanan mulai menduduki Labado dan Muhagiriya sejak 10 hari yang lalu, kota strategis yang terletak sekitar 100 kilometer (60 mil)sebelah timur dari ibu kota Nyala, Sudan Selatan.

Pekan lalu, Menteri Pertahanan Sudan Abdelrahim Mohammed Hussein berjanji untuk bergerak melawan gerakan perlawanan. Minnawi dan gerakan perlawanan etnis lainnya di wilayah Darfur, Sudan Barat, bangkit melawan pemerintah Khartoum yang didominasi etnis Arab pada tahun 2003.

Faksi sempalan gerakan perlawanan menandatangani perjanjian perdamaian 2011 dengan pemerintah, tetapi Minnawi dan kelompok-kelompok gerakan perlawanan utama lainnya menolak perjanjian. (T/P09/R2)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply