PBB: KORBAN SIPIL AFGHANISTAN MENINGKAT

Teheran, 28 Jumadil Awal 1434/9 April 2013 (MINA) – Sebuah laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Senin (8/4), menyebutkan, jumlah warga sipil yang tewas atau terluka di Afghanistan meningkat secara drastis dalam tiga bulan pertama tahun 2013 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Juru bicara Misi Bantuan PBB untuk Afghanistan The United Nations Assistance Mission in Afghanistan (UNAMA) Nilab Mobarez memberikan peringatan tanda bahaya jatuhnya korban di kalangan sipil.

“Kami belum sebutkan jumlah pastinya, baik yang tewas atau terluka. Tetapi  kami minta semua pihak yang terlibat dalam perang untuk menghentikan konflik yang mengorbankan warga sipil,” ujar Mobarez, seperti dilansir Press TV.

Namun sebagai gambaran, menurut catatan UNAMA, sepanjang enam tahun terakhir sampai 2012, tercatat 14.728 warga sipil Afghanistan tewas dalam serangan AS di wilayah itu.

Menurut Mobarez yang juga dokter bedah dan guru besar di Universitas Kabul, pernyataannya disampaikan setelah serangan udara Amerika Serikat (AS) terbaru, yang menewaskan 11 anak dan 2 warga perempuan di provinsi Kunar, Afghanistan, Sabtu malam (6/4).

Pekan lalu juga tercatat 4 polisi dan 2 warga sipil Afghanistan tewas dalam serangan udara lain yang diluncurkan pasukan pimpinan AS di provinsi Ghazni Timur, Afghanistan. Hal itu semakin menambah jumlah korban di kalangan warga sipil tewas akibat operasi militer AS di berbagai bagian Afghanistan selama dekade terakhir.

Akibat aksi-aksi militer AS terhadap warga sipil, pemerintahan Afghanistan mulai menuntut pasukan militer AS agar keluar dari wilayah Afghanistan, khususnya Provinsi Wardak. Presiden Hamid Karzai menerima laporan adanya anggota pasukan khusus AS terlibat dalam tindakan melecehkan, mengganggu, menyiksa, dan membunuh warga sipil tidak bersalah.

Washington sendiri membantah bahwa serangan udara militernya adalah bermaksud menargetkan gerilyawan setempat. Namun sumber-sumber setempat mengatakan justru warga sipil yang menjadi korban dari serangan AS.

AS dan sekutunya memasuki perang di Afghanistan pada Oktober 2001 yang oleh Washington disebut perang melawan teror. Serangan tersebut memaksa Taliban lengser dari kekuasaan. Namun, setelah lebih dari 11 tahun, pasukan AS dan sekutunya ternyata tidak mampu membangun keamanan di negara itu. Bahkan yang terjadi adalah pembunuhan demi pembunuhan warga sipil. (T/P09/R1).

Mi’raj News Agency (MINA).

Leave a Reply