PELESTARIAN ALAM MENURUT ISLAM

Oleh: Supardi, MP*

Laju kerusakan lingkungan dengan kemampuan pemulihannya hingga saat ini belum berimbang. Ini disebabkan makin berkurangnya area hutan karena pembukaan kawasan untuk perumahan, pertambangan yang mengakibatkan deforestasi dan degradasi lingkungan di dunia begitu cepat. Pertumbuhan industri berbasis bahan bakar fosil yang mengeluarkan limbah udara karbon monoksida dan zat-zat lain yang makin menipiskan lapisan ozon mengakibatkan kerusakan alam secara umum.

Menurut data statistik, hutan di Indonesia meliputi luas kawasan sekitar 120 juta hektar. Hampir 70% dari luas wilayah daratannya, sehingga menempatkan negara ini sebagai pemilik sumber daya hutan terbesar di Asia Tenggara, atau nomor dua terbesar dunia setelah Brazil. Tetapi, laju kerusakan hutan begitu cepat, utamanya hutan hujan tropis di luar Jawa.

Kementerian kehutanan menyebutkan laju kerusakan hutan di Indonesia sekitar dua juta hektar per tahun, sementara WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) merilis angka 3,5 juta hektare per tahun. Dengan kian pesatnya degradasi dan deforestasi maka hilanglah salah satu fungsi sistem di alam semesta yang diemban hutan yaitu, penghasil oksigen, penyerap karbon dioksida, pencegah erosi dan banjir, serta penyejuk udara dan pandangan. Kerusakan lingkungan yang terus-menerus menghadapkan manusia dengan bertambahnya suhu global (global warming). Akibatnya, bencana-bencana alam lebih dahsyat seperti gempa bumi, banjir, longsor, angin topan, siklon dan kekeringan akan terus terjadi. Suhu global meningkat sekitar 5 derajat C sampai abad berikutnya.

Akibat lain adalah terus naiknya permukaan air laut karena mencairnya es di kutub utara yang perlahan-lahan akan menenggelamkan tempat tinggal manusia, terutama nelayan yang berasal dari pulau-pulau kecil. Padahal, hampir 60% penduduk bumi tinggal di sekitar pesisir atau pantai.

Dalam waktu sepuluh tahun, dari tahun  2007, 23 pulau tak berpenghuni di negeri ini berpotensi tenggelam. Pada tahun 2007 lalu, terdapat 24 pulau Indonesia yang sudah menghilang akibat pemanasan global, penggalian pasir dan bencana alam (Koran Seputar Indonesia, 11 Desember 2007).

Salah satu lembaga advokasi lingkungan di Indonesia, Walhi, pada 25 Februari 2007 menyatakan bila permukaan laut semakin meningkat 8-29 cm dari tahun 2007, maka pada 2030 terdapat 2000 pulau di Indonesia tenggelam.

Air laut yang terus meningkat pun bukan hanya masalah bagi penduduk pulau-pulau kecil. Bagi penduduk yang berpulau besar seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan Jawa pun terancam. Garis pantai pulau akan semakin mundur, sehingga akan menenggelamkan sebagian besar daerah pesisir pulau-pulau tersebut. Akibatnya, banjir rob akan sering terjadi, terutama pada daerah-daerah yang berada di dataran rendah seperti Jakarta, Semarang, Surabaya dsb.

Kehancuran ini akan terus terjadi bila tidak ada upaya serius dari berbagai pihak untuk menanggulanginya. Secara teknis, umat Islam telah memadai untuk mengelola secara lestari sumber daya alam dan mengambil peran dalam mencegah global warming karena banyaknya ahli pengelolaan sumber daya alam Muslim. Sehingga, persoalan krusial yang harus diluruskan untuk menjawab persoalan ini adalah pola pikir, pola aktivitas dan pola konsumsi atau gaya hidup (Life style) manusia atas alamnya.

Umat Islam mampu mewujudkan tesis ini jika mereka memahami betul dan melaksanakan apa yang di ajarkan Islam. Sebab, syariat Islam memberi landasan atas penguasaan bumi yang harus sesuai dengan nilai-nilai dan fitrahnya, yaitu sebuah keseimbangan.

Islam adalah dien (agama) yang membawa rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil ‘alamin). Ia tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan pencipta (Allah) (hablumminallah), tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia (hablumminannas) dan dengan alam.

Setiap penganutnya diwajibkan untuk senantiasa menebarkan rahmat bagi makhluk di sekitarnya. Rahmatan lil alamin bukanlah sekedar moto Islam, tapi juga merupakan tujuan. Sesuai dengan tujuan tersebut, maka Islam adalah pelopor bagi pengelolaan alam dan lingkungan sebagai manifestasi dari rasa kasih sayang terhadap alam semesta tersebut.

Allah Swt menyatakan  dalam  Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 30 bahwa manusia  diciptakan untuk menjadi khalifah. Sebagai khalifah, manusia memiliki tugas dan tanggung jawab untuk ikut merawat, memelihara dan melestarikan berbagai fasilitas alam yang telah disediakan oleh Allah Swt untuk manusia. Pendidikan lingkungan telah diajarkan oleh Rasulullah saw kepada para sahabatnya. Allah Swt berfirman tentang dimensi alam semesta dalam Qs. Al-Hadid: 4, “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia bersemayam diatas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk kedalam bumi dan apa yang keluar daripadanya, dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Dalam ayat ini Allah memaparkan bahwa secara makro alam semesta berpusat pada dua tempat, yaitu langit dan bumi. Hanya saja dalam wacana alam, situasi di bumi menjadi obyek dominan. Oleh karena itu, Ayat Al-Quran dalam bagian lain mengilustrasikan kondisi bumi dan segala isinya dengan corak dan keberagaman yang ada.

Allah menggariskan takdirNya atas bumi dengan fasilitas terbaik bagi semua penghuni bumi. DiciptakanNya laut yang sangat luas dengan segala kekayaan di dalamnya. Air hujan menghidupkan bumi setelah masa keringnya. Belum cukup dengan semua itu, Allah memperindah kehidupan di muka bumi dengan menciptakan hewan, tumbuhan, angin, dan awan di angkasa, sebagai teman hidup manusia.

Setelah selesai dengan segala penciptaanNya, Allah memberikan sebuah titipan amanat kepada manusia dalam Qs. Al-A’raf: 56, “Dan janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi ini setelah Allah memperbaikinya”.

Manusia diminta untuk menjaga agar apa yang menjadi kekayaan alam tersebut tetap lestari dan terus dapat dinikmati oleh manusia. Caranya dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan alam serta menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat merusak alam semesta ini.

Islam mengajarkan pemeluknya untuk memperlakukan alam dengan ramah dalam banyak ayat  Al-Qurah dan Hadis, antara lain: Dari Jabir ra bahwa Nabi saw bersabda, “Siapa yang mengolah tanah mati, dia mendapatkan pahala. Apapun yang dimakan oleh makhluk hidup dari hasil olahannya bernilai sedekah bagi dia.”(Shahih Ibnu Hibban).

Dari Anas ra bahwa Nabi saw bersabda, “Tidak seorang Muslim pun yang menanam tumbuhan atau bercocok tanam, kemudian buahnya dimakan oleh burung atau manusia atau binatang ternak, kecuali yang dimakan itu akan bernilai sedekah untuknya.” (HR. Muslim).

Dalam hadis di atas, Nabi Muhammad saw menganjurkan umatnya untuk mengolah tanah, tidak membiarkannya gersang. Nabi saw juga menjelaskan bahwa apa pun hasil  olahannya yang bisa dinikmati oleh mahluk hidup bernilai sedekah. Hasil tersebut bisa berupa rasa teduh, udara yang segar, buah, dan berbagai manfaat lainnya,  semuanya dihitung oleh Allah Swt sebagai sedekahnya terhadap mahluk hidup yang memanfaatkannya.

Dari Abdurrahman bin Abdillah dari ayahnya meriwayatkan, “Kami menyertai Rasulullah saw dalam suatu perlawatannya. Kemudian Nabi saw pergi untuk memenuhi suatu kebutuhannya. Lalu kami melihat seekor burung berwarna merah dengan dua ekor anaknya. Kami lalu mengambil kedua anaknya itu. Tatkala induknya datang, dia mengepak-ngepakkan sayapnya dan terbang menurun ke dataran menyiratkan kegelisahan dan kekecewaan. Ketika Nabi saw datang, ia bersabda, ‘Siapa yang mengejutkan burung ini dengan mengambil anaknya? Kembalikanlah anaknya kepadanya’”. (Sunan Abu Dawud).

Dalam hadis ini, Nabi Muhammad melarang umat Islam mengganggu kehidupan liar tanpa alasan yang benar. Dari Abdullah bin Habasyi berkata, “Rasulullah saw bersabda, ”Siapa yang menebang sebatang sidr, Allah akan menundukkan kepalanya di dalam neraka.” Imam Abu Dawud ditanya tentang makna hadis ini. Abu Dawud berkata, ”Hadis ini singkat. Artinya, siapa yang menebang pohon sidr yang biasa dipakai berteduh musafir atau binatang di padang pasir, tanpa alasan yang jelas atau secara aniaya, Allah akan menundukkan kepalanya di neraka.” (Tafsir Al-Qurtubi).

Hadis ini melarang umat Islam menebang pohon yang sedang dimanfaatkan oleh masyarakat umum atau pun binatang, tanpa alasan yang benar. Bahkan yang melanggar larangan ini diancam dengan siksa neraka.

Bahkan, Abu Bakar dan Umar ra meniru apa yang dilakukan oleh Rasululah saw, setiap kali akan melepas laskar ke medan perang tak pernah lupa memperingatkan, “Jangan tebang pohon atau rambah tanaman, kecuali jika akan dipergunakan atau dimakan, dan janganlah membunuh binatang kecuali untuk dimakan, hormati dan lindungi semua rumah ibadah manapun, serta jangan sekali-kali mengusik mereka yang sedang beribadah menurut agama mereka masing-masing. Janganlah membunuh orang-orang yang tidak bersenjata (yang tidak terlibat langsung dalam peperangan).”

Ini merupakan ajaran Islam yang menjadi rahmat bagi alam semesta. Dalam situasi perang pun, umat Islam harus tetap berbuat secara terkontrol dan terukur. Tidak merusak  kehidupan orang yang tidak terlibat perang maupun alam di sekitarnya.

Nabi Muhammad saw menetapkan hima’, yakni suatu kawasan yang khusus dilindungi atas dasar syari’at guna melestarikan kehidupan liar di hutan. Nabi mencagarkan kawasan sekitar Madinah sebagai hima’ guna melindungi lembah, padang rumput dan tumbuhan yang ada di dalamnya. Lahan yang Nabi saw lindungi luasnya sekitar enam mil persegi atau lebih dari 2049 hektar.

Agar kaum Muslimin bisa menjadi pelopor pelestarian alam, maka membangun pemahaman terhadap ajaran Islam berkenaan dengan pelestarian alam dengan cara memandang isu lingkungan sebagai suatu yang serius menjadi sangat penting. Semua pihak harus terlibat, baik melalui jalur formal, in-formal, maupun non-formal. Sudah saatnya, ulama, instansi pemerintah, LSM, kalangan akademisi, pers dan pihak swasta, dan seluruh masyarakat harus bersinergi sesuai dengan bidangnya masing masing dalam upaya menjaga pelestarian alam. Termasuk perlu adanya sosialisasi ajaran Islam tentang pelestarian alam melalui media massa dan kurikulum sekolah sejak usia dini sampai perguruan tinggi. Wallahu a’lam bisshawab.

Referensi:

–       Abdullah, Yatimin, 2006. Studi Islam Kontemporer, Amhaz, Jakarta.

–       Anonim, 2002. Pemanasan Global dan Perubahan Iklim, Kelompok Kerja Pemanasan Global dari Para Promotor KPKC. Roma.

–       Muhammad, AS dkk., 2006. Fiqih Lingkungan (Fiqih Al-Bi’ah), INFORM, Jakarta.

–       Maktabah Syamilah

–       Zulkarnaen, Iskandar, 2010. ”Monumen Hidup” Berusia 1.000 Tahun Di Kaltim, (Antara News Kaltim).

*Supardi, alumni S1 STAI AL FATAH Bogor dan Pasca Sarjana Jur. Ilmu Kehutanan Unmul Samarinda Kaltim. Pengurus ponpes shuffah Hizbullah Samarinda Kalimantan Timur.

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

 

 

 

 

 

Rate this article!

Leave a Reply