YAMAN MINTA PULANGKAN TAHANAN GUANTANAMO

Shana’a, 21 Jumadil Awal 1434/2 April 2013 (MINA) – Aktivis dan para kerabat dari 90 tahanan berkewarganegaraan Yaman melakukan aksi demo di luar Kedutaan Besar Amerika Serikat di ibukota di Shana’a, Senin (1/4) untuk menuntut pembebasan para tahanan setelah lebih dari satu dekade dalam tahanan Guantanamo, Amerika Serikat.

Salah seorang aktivis pengunjuk rasa, Abdel-Rahman Barman mengatakan, kondisi di penjara itu sangat memprihatinkan, dua di antara tahanan asal Yaman melakukan aksi mogok makan.

Tahanan asal Yaman merupakan kelompok dengan jumlah terbesar, yaitu sejumlah 166 tahanan. Kebanyakan di antara para tahanan ditahan setelah invasi AS ke Afghanistan tahun 2001.

Seorang staf kedutaan menerima surat dari salah satu kerabat dari para tahanan yang melakukan aksi demo. Namun, pihak Kedutaan tidak bisa segera dihubungi untuk memberikan komentar.

Al-Jazeera melaporkan, para tahanan Yaman termasuk dari 33 tahanan yang melakukan aksi mogok makan, tiga orang  di antaranya dirawat di rumah sakit karena dehidrasi.

Para tahanan menolak air yang diberikan penjaga tahanan, dan mereka tetap bersikeras melakukan aksi mogok makan. Penjaga tahanan kemudian menurunkan suhu udara di dalam tahanan menjadi sangat dingin, untuk menghukum mereka karena aksi mogok makan.

Aksi mogok makan terbesar di Guantanamo dimulai pada musim panas 2005, mencapai puncaknya sekitar 131 tahanan dari sekitar 500 tahanan.

Protes Pecah

Tentara AS mencegah aksi mogok makan dengan menghukum para tahanan, mereka memaksa memberikan cairan nutrisi untuk mencegah para tahanan mati karena kelaparan.

Data laporan menyebutkan, 10 orang tahanan mati dikabarkan bunuh diri, 2 tahanan meninggal akibat penyebab alami, seorang tahanan, pria 32 tahun asal Yaman ditahan selama sekitar 10 tahun. 

Pemerintah Yaman meminta warganya di penjara Teluk Guantanamo untuk dipulangkan ke negaranya, dan meminta rehabilitasi nama para tahanan yang selama ini dicap sebagai ekstremis.

Washington berpendapat bahwa Yaman masih dianggap tempatnya Al-Qaeda, sehingga belum stabil untuk pegembalian para tahanan.

Sebelumnya, Presiden AS Barack Obama setelah menjabat sebagai presiden untuk kedua kalinya berjanji untuk segera menutup penjara di Guantanamo. Namun Kongres menentang rencana itu, karena dianggap melanggar aturan pemerintah tentang larangan pemindahan tahanan Guantanamo. Alasan lain karena diperlukan jaminan keamanan sebelum para tahanan dipindahkan ke tempat lain. (T/P05/R1)

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

Leave a Reply