PEMIMPIN INDUSTRI PRODUK HALAL SEDUNIA ADAKAN PAMERAN INTERNASIONAL

Kuala Lumpur, 22 Jumadil Awal 1434/3 April 2013 (MINA) – Para pemimpin industri makanan halal di dunia berkumpul di ibukota Malaysia untuk mendiskusikan gagasan dalam memperluas industri pemasokan makanan yang sesuai dengan hukum agama Islam serta mengadakan pameran produk halal. Demikian laporan yang dilansir Kantor Berita ABNA yang dipantau Mi’raj News agency (MINA).

Pameran yang diberi nama ‘The 10th Malaysia International Halal ‘ itu dimulai pada Rabu (3/4) hingga Sabtu (6/4), diadakan di Kuala Lumpur, Malaysia. Malaysia merupakan wilayah dimana sekitar 60 persen dari 28,3 juta penduduknya adalah Muslim dan memiliki fasilitas dan infrastruktur yang modern serta kebijakan yang dibuat telah diperkenalkan untuk memperkuat statusnya sebagai pusat kegiatan produk halal global. 

Kepala Eksekutif Perusahaan Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Malaysia, merupakan badan pemerintah sebagai penyelenggara acara pameran, Sum Lai Wong mengatakan, jumlah penduduk Muslim sedunia saat ini mencapai 1,8 miliar orang dan pertumbuhannya sekitar 1,8 persen per tahun.

“Bila Anda memiliki populasi yang terus bertumbuh, terutama di negara-negara Muslim, di mana demografi penduduk cenderung tetap muda, tingkat konsumsi akan berkembang,” kata Wong.

Di bawah hukum halal, yang berarti “diperbolehkan” dalam bahasa Arab, Muslim hanya harus makan daging dari ternak yang dipotong di leher dengan pisau tajam dan ungkapan “Dengan Nama Allah” juga harus diucapkan saat memotong binatang ternak itu. Prinsip halal juga meluas kepada ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari serta melarang mengkonsumsi alkohol dan perjudian.

Wong mengatakan, pameran akan membuat pembeli potensial lebih menyadari pentingnya halal dan memperluas jaringan distribusi global produk halal.

Selain makanan, industri halal juga mencakup sektor keuangan, kosmetik, pakaian, obat-obatan dan transportasi barang.

Nabil Imam, pemilik United Food, sebuah perusahaan AS yang mengimpor barang-barang halal dari Malaysia, hadir dalam acara tersebut. Ia mengatakan, industri itu berkembang di Amerika Serikat, meskipun baru-baru ini  kinerja ekonomi negara AS melambat.

“Pasar makanan halal di Amerika Serikat kini sedang berkembang pesat. Hal ini berkembang karena pertumbuhan populasi Muslim disana meningkat,” kata Imam, yang perusahaannya telah mendistribusikan makanan halal selama 20 tahun.

United Food menjual 600 item makanan halal di New York di bawah merek Basma, pengiriman barang kepada distributor lokal, supermarket dan hipermarket. Sedangkan di Kuala Lumpur, Imam mengatakan, ia sedang mencari pemasok untuk produk minyak sawit serta kopi instan kemasan bersertifikasi halal.

Organisasi Perdagangan Dunia yang mewakili negara-negara di dunia berkembang memperkirakan ukuran industri makanan halal global mencapai $ 2,3 triliun per tahun. Organisasi itu juga memperkirakan bahwa populasi Muslim global akan mencapai 2,2 miliar pada tahun 2030.

Malaysia telah melampaui Indonesia, negara dengan mayoritas umat Islam di dunia, dalam mengembangkan produk-produk syariah. Malaysia telah mengembangkan industri halal yang berkaitan dengan penawaran produk-produk konsumen dan produk non-pangan, standarisasi sertifikasi, penawaran keuangan, fasilitas pengepakan dan penyusunan distribusi.

“Indonesia harus belajar dari Malaysia, mereka telah menetapkan patokan dari hulu ke hilir,” kata Iwan Agustian, seorang direktur perusahaan Dwimitra Semerbak Artamulia Indonesia, sebuah perusahaan yang mendistribusikan produk Semerbak Coffee Blend pada lebih dari 600 outlet.

“Saya datang ke sini untuk mendapatkan beberapa inspirasi, mengamankan beberapa bahan baku halal, serta meraih beberapa pembeli potensial.” tambahnya. (T/P014/P02)

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Leave a Reply