PEMOTONGAN BELANJA AS RUGIKAN 50 JUTA ORANG MISKIN

Teheran, 23 Jumadil Awal 1434/4 April 2013 (MINA) – Lebih 50 juta orang Amerika (AS) yang sudah hidup dalam kemiskinan menjadi golongan yang paling dirugikan dari dampak pemotongan belanja AS sebesar $ 85 milyar  untuk mengatasi hutang nasional, Fars Agency melaporkan dan dikutip oleh MINA, Kamis (4/4).

Pemotongan belanja dimulai setelah kubu Demokrat dan Republik negeri Paman Sam itu gagal mencapai kesepakatan tentang cara yang paling efektif untuk mengatasi utang nasional.

Statistik baru dari Biro Sensus AS mengungkapkan bahwa satu dari setiap enam orang Amerika  hidup di bawah garis kemiskinan, sumber Fars melaporkan.

Selain itu, satu dari lima anak-anak Amerika sekarang tinggal di kondisi yang tidak menguntungkan.

Kabar bahwa 16 persen dari masyarakat Amerika yang hidup dalam kemiskinan, terakhir terdengar di era pertengahan 1960-an, ketika kemudian Presiden Lyndon Johnson mencoba  memulai perang terhadap kemiskinan. Tapi usahanya -yang jatuh di bawah program Great Society- dihentikan permanen dan ditinggalkan dalam rangka untuk membayar invasi AS di Vietnam.

Setiap individu Amerika atau keluarga Amerika, diberikan satu dari 48 batas  kriteria miskin yang mungkin berbeda-beda, tergantung pada ukuran keluarga dan usia anggotanya. Ambang batas yang ditentukan di tahun 1964, didasarkan pada penghasilan keluarga dan mereka menghabiskan makanan, meskipun mereka tidak bervariasi secara geografis.

Menurut Biro Sensus, jika pendapatan moneter keluarga kurang dari batas yang ditetapkan, maka keluarga tersebut berada dalam kemiskinan. Misalnya, sebuah keluarga dengan dua anak, seorang ibu, ayah, dan bibi, ambang batasnya sebesar  $ 27.517 untuk tahun 2011. Ambang batas 2013 untuk empat anggota keluarga adalah $ 23.021.

Kupon makanan, subsidi perumahan, dan tunjangan pemerintah non-tunai tidak digunakan untuk menentukan penghasilan keluarga. Sekarang, tambahan $ 85 miliar dalam pemotongan, lebih lanjut akan memperburuk tekanan keuangan.

William McCarthy, direktur eksekutif Catholic Charities, mengatakan kepada sumber Fars bahwa pemotongan anggaran nasional akan memperdalam dan meningkatkan kemiskinan  bagi warga yang berpenghasilan rendah, anak-anak, orang tua miskin dan demografi lainnya.

Sementara itu, Menteri Keuangan Republik indonesia Agus Martowardojo mengatakan, pemotongan anggaran belanja pemerintah AS akan mengoreksi target pertumbuhan ekonominya hingga 50 persen, media Tempo melaporkan, Kamis.

Menurut Agus sebagai negara dengan perekonomian yang besar, kebijakan itu akan berimbas pada pertumbuhan ekonomi global, termasuk Indonesia. Namun, secara umum, dampaknya tidak di perhitungkan oleh Indonesia. (T/P09/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply