PENGADILAN PRANCIS TUNTUT RWANDA ATAS GENOSIDA 1994

Paris, 22 Jumadil Awal 1434/3 April 2013 (MINA) – Pengadilan Prancis untuk pertama kalinya menuntut negara Rwanda menghadapi pengadilan atas pembantaian massal (genosida) 1994 di negara itu yang menewaskan 800.000 jiwa, lansir Modern Ghana yang dipantau MINA, Selasa (2/4).

Pascal Simbikangwa, seorang mantan Kepala Pusat Intelijen Rwanda ditangkap di pulau Mayotte, Prancis, tahun 2008, dengan tuduhan terlibat dalam genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Para pengacaranya menolak mengomentari kasus tersebut ketika dihubungi oleh sumber Modern Ghana. Tidak jelas apakah mereka akan mengajukan banding atas keputusan itu dalam upaya menghindari persidangan. Mereka memiliki 10 hari untuk melakukannya.

Simbikangwa yang juga  mantan perwira intelijen di bawah pemerintahan Hutu Rwanda, ditangkap di bawah surat perintah penangkapan internasional karena dituduh terlibat genosida, yang menewaskan sebagian besar etnis Tutsi (etnis terbesar kedua di Rwanda setelah etnis Hutu) selama tiga bulan.

Prancis membentuk unit baru di awal 2010 untuk mengadili kasus-kasus genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang melibatkan tersangka yang kini ditahan di Prancis.

Dua hakim penyidik memerintahkan sidang hari Jum’at (27/3) menyusul permintaan dari jaksa pada awal Maret.

Prancis telah berulang kali menolak untuk mengekstradisi tersangka genosida ke Rwanda, mereka khawatir  akan diingkari oleh pengadilan, tetapi Prancis telah mengirim beberapa terdakwa ke Tanzania untuk menghadapi Pengadilan Kriminal Internasional untuk  Rwanda.

Sekilas Pascal Simbikangwa

Pascal Simbikangwa, lahir tahun 1959, diduga menjadi anggota Akazu, sebuah organisasi informal garis keras Hutu yang diyakini merencanakan dan melaksanakan genosida.

Simbikangwa dituduh telah mempersenjatai milisi Interahamwe Hutu dan mendorong mereka membantai etnis minoritas Tutsi. Dia mengalami lumpuh kaki setelah kecelakaan lalu lintas pada  1986.

Selama karirnya, Simbikangwa sangat dekat dengan klan Presiden Rwanda Juvenal Habyarimana, yang di tahun 1994 belum dituding sebagai  pemicu genosida.

Dia memiliki saham di stasiun radio RTLM Rwanda yang berulang kali menyerukan pemusnahan suku Tutsi.

Simbikangwa menghadapi persidangan di Prancis menyusul pengaduan yang diajukan oleh Penggugat Kolektif Sipil untuk Rwanda (Civil Plaintiffs for Rwanda, singkatan bahasa Prancisnya CPCR). CPCR memuji “saat bersejarah” itu.

Alain Bernard Mukuralinda, juru bicara otoritas penuntutan nasional Rwanda, juga menyambut langkah itu.

“Ini adalah perasaan kepuasan bahwa segala sesuatu mulai bergerak di Prancis,” katanya. “Tidak akan ada lagi perasaan kesalahpahaman dan kecurigaan antara keadilan Rwanda dan Prancis.” (T/P09/P02)

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

Leave a Reply