PENGAMAT AMERIKA: MEDIA AS CUCI OTAK WARGANYA DENGAN MITOS

Teheran, 4 Jumadil Akhir 1434/14 April 2013 (MINA) – Pengamat politik Amerika Serikat (AS) Yuram Abdullah Weiler dalam artikelnya yang diterbitkan oleh Press TV, Sabtu (13/4) mengatakan media Amerika mencuci otak warganya  dengan mitos “demokrasi, kebebasan, hak asasi manusia, Iran dan Islam”.

“Media AS, bertanggung jawab dalam mengabadikan fantasi lucu ini (mitos), yang menyatakan AS adalah demokrasi yang berdiri untuk hak asasi manusia dan mendukung orang lain dalam memperjuangkan kebebasan mereka,” tulis Weiler dalam sebuah artikelnya.

Pemberitaan yang dipantau oleh Mi’raj News Agency (MINA), mengritik AS yang memiliki “demokrasi dekoratif”, analis mengatakan AS sendiri bahkan tidak memiliki hak untuk memilih secara langsung presiden mereka sendiri sebagai konstitusi AS yang “mengatur bahwa Presiden harus dipilih oleh pemilih yang ditunjuk negara”.

“Sebaliknya dengan presiden Iran, terpilih melalui pemilihan langsung, populer dalam sepanjang sejarah Republik Islam, hingga 10 kandidat telah mencalonkan diri untuk jabatan dalam pemilihan tunggal,” kata pria yang tinggal di Denver, Colorado.

Weiler menyebut klaim AS mendukung demokrasi dan kebebasan di Timur Tengah adalah mitos.

“Di garis depan, negara demokratis yang didukung oleh AS di Timur Tengah adalah Arab Saudi, mungkin salah satu rezim paling represif di bumi, namun menjadi sekutu dekat AS dan pelanggan platinum-rated dari industri perang AS,” kata Weiler.

Dia menunjukkan bahwa masalah-masalah seperti penggunaan taktik penyiksaan, merampas  cakupan kesehatan Amerika sambil menghabiskan uang untuk perang di Timur Tengah, dan menjadi masyarakat paling bersenjata di dunia, sebagai masalah lain yang menunjukkan bahwa AS tidak berdiri untuk hak asasi manusia, keadilan, dan martabat semua orang.

Weiler mengatakan bahwa ketika AS mengklaim nuklir Iran mengancam seluruh masyarakat internasional, tapi sebaliknya Iran menunjukkan diri sebagai bangsa yang damai.

“Iran adalah negara damai yang belum menyerang negara manapun sejak 1738 ketika Nader Shah menginvasi India. Sementara AS, seperti sekutunya Zionis, telah berperang hampir terus-menerus sejak awal. AS adalah negara yang pertama kali menggunakan senjata nuklir pada 1945 dan masih mempertahankan sekitar 5.000 lebih hulu ledak di gudang.”

“Bersama dengan sekutu Zionis yang juga bersenjata nuklir, menuduh Iran yang tidak memiliki senjata nuklir, mencapnya sebagai ancaman terbesar bagi perdamaian dunia,” tambahnya.

Penulis yang fokus menulis dari perspektif orang Amerika dan yang kini memeluk Islam itu, lebih lanjut mengritik media Barat yang mempromosikan Islam sebagai agama toleran yang mendukung kekerasan.

Menurut Weiler, Islam membentuk dasar persaudaraan universal umat manusia dan itu memberi harapan orang untuk lepas dari cengkeraman perbudakan, baik ekonomi maupun fisik.

“AS kaya, bangsa bersenjata nuklir dan imperialis yang cenderung dengan orang kaya sombong, para pemimpinnya memanipulasi rakyat dengan mitologi media. AS menimbulkan ancaman terbesar bagi perdamaian dunia, bukan Iran, Islam atau kelompok Islam,” tegas Weiler.(T/P09/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply