PENGAMAT: DEMOKRASI JANJIKAN KEBIJAKAN RUMIT PENUH INTRIK POLITIK

Jakarta, 15 Jumadil Akhir 1434/25 April 2013 (MINA) – Berbicara dalam  diskusi betema Hubungan Sipil dan Militer di Wisma Intra Asia, pengamat militer dari Universitas Indonesia Andi Widjayanto mengatakan demokrasi menjanjikan membuat kebijakan yang rumit penuh intrik politik, Rabu (24/4), Tebet, Jakarta Selatan.

“Demokrasi menjanjikan membuat kebijakan yang rumit penuh intrik politik, sangat berbeda dengan militer yang lebih tertib dan rapi,” kata Andi.

Menurut Andi, era 1999-2014 adalah era reformasi militer, menarik militer dari DPR dan dunia politik menuju kepada profesionalisme.

“Reformasi militer berlangsung pada saat Indonesia sebagai negara predator menuju negara demokrasi,” kata Andi.

Andi mengungkapkan bahwa negara-negara Eropa, rata-rata membutuhkan waktu 300 tahun untuk pematangan demokrasi. Maraknya kasus korupsi hingga 15 tahun reformasi, serta buruknya supremasi sipil di DPR dan pemerintahan, oleh sebagian pengamat dinilai meresahkan pihak militer.

“Fakta hukum membuktikan bahwa Menteri Pertahanan dan kepolisian adalah lembaga yang paling bersih korupsinya,” kata Andi.

Ada tiga kemungkinan yang menyebabkan kedua lembaga itu paling bersih dari kasus korupsi, yaitu karena keduanya memang bersih. Bisa juga karena kedua lembaga begitu cerdas sehingga terlihat begitu bersih. Dan kemungkinan yang ketiga, karena tidak ada yang berani masuk ke dalam kedua kelembagaan.

“Masalah hubungan antara sipil dan militer adalah apakah militer akan kudeta? Kudeta akan terjadi jika pemahaman sipil bersama lemah, dalam arti sipil gagal melaksanakan,” tambah Andi.

Sementara itu, profesor dan pengamat militer Salim Said mengungkapkan bahwa sekarang militer bersikap kritis terhadap sipil.

“Suatu tanda militer mulai resah dengan kinerja pemerintah sipil. Supremasi sipil di DPR dan pemerintahan buruk dan meresahkan militer,” kata Salim.

“Saya khawatir, kepatuhan militer terhadap pemerintahan sipil mengalami diligitimasi.”

Menurut profesor yang juga menjadi dosen para militer itu, mantan Presiden Soeharto adalah presiden yang berhasil merebut militer. Presiden Soekarno lima tahun berkuasa, tapi Soeharto 30 tahun.

“Rahasia Soeharto adalah mengendalikan tentara,” kata mantan Duta Besar Indonesia untuk Republik Ceko itu.

Senada dengan Salim, politisi senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Sabam Sirait membenarkan tentang adanya kekhawatiran dari pihak militer terhadap kinerja pemerintahan yang dikelolah oleh sipil.

“Memang ada kekhawatiran dari militer, bukan berarti untuk kudeta militer, karena melihat sipil sekarang kurang mampu menjalankan kepercayaannya dengan baik,” katanya. (L/P09/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply