PERANCIS KEMBALI TOLAK PEMAKAIAN JILBAB

Paris, 2 Jumadil Akhir/11 April 2013 (MINA) – Kontroversi seputar jilbab telah muncul kembali di Perancis pekan ini setelah pengadilan kasasi Perancis mencabut keputusan pada kasus tahun 2008 yang memberhentikan seorang perawat Muslim dari sebuah pusat penitipan anak swasta karena ia menolak untuk berhenti memakai jilbab.

Keputusan pengadilan menciptakan bola api panas di Perancis, hal ini mendorong Presiden Francois Hollande untuk mencari hukum yang akan memperluas pembatasan mengenakan “simbol agama tertentu” untuk sekolah swasta.

Menurut berita  dari kantor berita IINA yang diterima oleh MINA, para politisi setuju dengan apa yang telah dibicarakan presiden. “Muslim di sini adalah warga Perancis juga, dan kami bangga atas kehadiran mereka, tapi saya setuju dengan presiden tentang pentingnya mengeluarkan undang-undang yang akan memblokir sayap kanan dari mempromosikan larangan lengkap tentang jilbab,” kata seorang Partai Sosialis Olivier Four .

Wanita Muslim yang mengenakan jilbab telah menyuarakan keprihatinan atas masa depan mereka di Perancis. Seorang mahasiswa pascasarjana asal Aljazair yang bernama Souad, merasa takut terkait adanya pembatasan baru yang dapat mempengaruhi peluangnya untuk menemukan pekerjaan yang cocok di masa depan. “Saya tidak bisa bekerja di lembaga-lembaga publik, dan sekarang saya tidak bisa bekerja di lembaga-lembaga swasta. Apa masa depan saya? Menurut pendapat saya, ini adalah hukum yang tak adil,” katanya.

Mohammed Moussaoui, presiden Dewan Muslim Perancis, memperingatkan dari dampak undang-undang baru, tetapi ia meminta umat Islam untuk tetap tenang. “Keseimbangan adalah hidup dalam kehidupan beragama dalam kebebasan, martabat dan pada saat yang sama menghindari segala sesuatu yang mungkin memprovokasi lainnya,” kata Moussaoui.

Para pengamat mengatakan hukum baru yang melarang jilbab di lembaga swasta akan membawa kembali ketegangan yang mencekam Prancis seperti delapan tahun lalu. (T/P05/R2)

Leave a Reply