PIARA-PAHAM: INDONESIA HARUS BOIKOT SEA GAMES KE-27 DI MYANMAR

Jakarta, 16 Jumadil akhir 1434/26 April 2013 (MINA) – Direktur Pusat Informasi dan Advokasi Rohingya-Arakan (PIARA), Heri Heryanto meminta kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Kementerian Pemuda dan Olahraga untuk memboikot keikutsertaan atlet Muslim Indonesia dalam acara SEA Games ke-27.

Pesta Olahraga Asia Tenggara yang diadakan dua tahun sekali akan diselenggarakan pada Desember 2013 mendatang di Myanmar.

“Boikot dilakukan karena Myanmar yang menjadi tuan rumah SEA games kali ini dikhawatirkan pada ancaman keamanan atlet Muslim, sekaligus sebagai bentuk protes terhadap persoalan kemanusiaan yang semakin memburuk,” kata Heri dalam sebuah pernyataan pers yang diterima oleh Mi’raj News Agency (MINA), Jum’at (26/4).

Dalam pernyataan tersebut, PIARA mengatakan, gelombang anti-Muslim di Myanmar semakin gencar melakukan serangan. Tercatat kekerasan yang terjadi baru-baru ini di pusat kota Meikhtila, 80 kilometer utara ibu kota, Naypyitaw, menyebabkan 43 warga meninggal yang rata-rata adalah Muslim.

Situasi dan perkembangan terbaru yang dipantau oleh MINA semakin mencekam, data terakhir menurut laporan yang dirilis Organisasi HAM Human Rights Watch (HRW) pada Senin (21/4), lebih dari 125.000 Muslim Rohingya telah secara paksa dipindahkan dalam dua gelombang kekerasan pada Mei dan Oktober 2012 lalu.

Hal yang sama dikatakan oleh Direktur Eksekutif Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia (PAHAM) Indonesia, Nasrulloh Nasution bahwa pemerintah Indonesia yang merupakan mayoritas umat Islam terbesar di dunia seharusnya menyatakan memboikot atau tidak mengirim atletnya mengikuti SEA Games tersebut.

Menurutnya alasan yang paling utama Indonesia melakukan boikot penyelenggaraan tersebut disebabkan alasan keamanan dan sportifitas. Karena bagaimana mungkin Myanmar bisa menyelenggarakan SEA Games sedang di negerinya sendiri tidak aman dan diperparah dengan gelombang kebencian yang semakin memuncak.

“Pemerintah sudah seharusnya memboikot dan tidak mengirimkan atletnya ke arena SEA games, dikarenakan alasan keamanan,” tegasnya.

Dia juga mempertanyakan, bagaimana Myanmar akan bisa menerapkan slogan yang selalu didengungkan di setiap event olahraga tentang sportifitas, apabila di neganya sendiri terjadi permusuhan, kebencian yang berakhir pada pembunuhan dan pengusiran terhadap suatu agama tertentu yang terus terjadi.

Nasrulloh menambahkan, pemboikotan dilakukan sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap kekerasan kemanusiaan, Indonesia juga bisa mengajak negara-negara peserta lainnya untuk bersama-sama memboikot SEA Games tersebut.

Boikot tersebut sudah dilakukan kedua instansi yang peduli terhadap Muslim Rohingya itu sejak Ramadhan tahun lalu. (L/P08/P02)

Mi’raj News Agency (MINA) 

Leave a Reply