RELAWAN RSI GAZA DENGAR JELAS DENTUMAN RUDAL ISRAEL

Gaza, Palestina, 22 Jumadil Awal 1434/3 April 2013 (MINA) – Koresponden Mi’raj News Agency (MINA) di Gaza, Muhammad Husain memberikan konfirmasi bahwa Israel meluncurkan serangan udara dengan menembakkan tiga rudal pesawat tempur F-16 di wilayah Gaza Utara pada selasa malam (2/4).

Husain mengatakan, dentuman tiga rudal yang diluncurkan pesawat tempur Israel itu terdengar jelas oleh para relawan Medical Emergency Rescue Committe (MER-C) yang sedang mengerjakan amanah dalam pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza utara.

“Tiga rudal pesawat tempur F-16 yang diluncurkan Israel tersebut di antaranya dua rudal mengenai lahan kosong di daerah dekat pusat kota Gaza serta satu rudal mengarah ke wilayah Bayt Lahiya, daerah dimana RSI di bangun,” kata Husain, Rabu sore (3/4).

Lokasi RSI seluas 1,6 hektar sangat dekat dengan perbatasan wilayah Palestina yang dijajah Israel, yaitu sekitar 2,5 km dari pagar perbatasan di kawasan Beit Lahiya, Gaza utara, Palestina.

Bahkan lokasi RSI itu sebelumnya adalah tempat latihan tempur para pejuang Gaza, sebelum akhirnya disetujui oleh Pemerintah Palestina di Gaza kepada MER-C sebagai pihak yang memprakarsasi  pembangunannya atas dasar kemanusiaan.

Dalam proyek tersebut, bekerja 32 relawan Indonesia dari berbagai keahlian pekerjaan, mulai dari tukang batu, ahli listrik, ahli air, mahasiswa hingga insinyur sipil. Seluruh relawan berasal dari Pondok Pesantren Al-Fatah berpusat di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat sebagai mitra dakwah dan ukhuwah MER-C. 

Rumah sakit itu menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina dimana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia.

Saat ini, pembangunan RSI dalam tahap konstruksi fisik kedua serta jaringan listrik yang memerlukan biaya total sebesar Rp 37 miliar.

Husain juga menegaskan, serangan udara yang merupakan pertama kali diluncurkan Israel sejak gencatan senjata pada November 2012 itu tidak memberi dampak apa-apa bagi aktifitas warga di Jalur Gaza.

“Sampai saat ini tidak ada efek dari serangan udara tersebut, masyarakat tetap beraktifitas sebagaimana biasa,” tegasnya.

Sementara itu, menurut laporan Kementerian Dalam Negeri Palestina yang berada di Jalur Gaza mengatakan, pesawat Israel telah membombardir sebuah kawasan terbuka di wilayah utara Gaza. Tidak ada korban yang meninggal atau luka-luka, hanya beberapa bangunan saja yang hancur akibat terkena serangan rudal dari pesawat Israel.

Sebelumnya, Koordinator teknis pembangunan RSI-Gaza, Nur Ikhwan Abadi yang baru beberapa hari pulang ke Indonesia setelah menunaikan tugas pembangunan tahap dua untuk Arsitektur dan ME (Mekanikal Elektrikal) RSI di Gaza juga mengatakan, berapa hari sebelum pulang ke Indonesia, dirinya melihat pesawat tempur F-16 dan pesawat tanpa awak (Drone) Israel mengitari langit-langit Jalur Gaza.

“Pesawat temput F-16 dan Drone Israel mulai terlihat kembali mengitari langit-langit kota Gaza” kata Nur Ikhwan kepada MINA di Jakarta Ahad (31/3).

Israel mengklaim bahwa serangan tersebut adalah sebagai balasan Israel atas serangan roket dari Gaza, namun Israel tidak memberikan lebih lanjut kapan dan dimana serangan dari Gaza tersebut diluncurkan.

Israel dan Hamas sepakat untuk melakukan gencatan senjata yang ditengahi Mesir setelah terjadi pertempuran delapan hari yang menewaskan sedikitnya 170 warga Palestina dan enam orang Israel serta ratusan lainnya menderita luka-luka pada November 2012 lalu.

Kematian Abu Hamdiyeh

Sementara itu, pihak Israel mengklaim serangan tersebut adalah sebagai balasan atas serangan roket Gaza sebelumnya setelah tersebar informasi kematian seorang tahanan Palestina bernama Maisarah Abu Hamdiah yang meninggal di penjara Israel.

Namun Israel tidak memberikan keterangan lebih lanjut kapan serangan dari Gaza itu diluncurkan. Sejauh ini belum ada kelompok Palestina yang mengaku bertanggung jawab atas serangan-serangan roket tersebut.

Abu Hamdiyeh adalah salah seorang pemimpin faksi Fatah asal kota Hebron, meninggal di sebuah rumah sakit Israel ‘Soroka’. Ia diduga mengalami gangguan radang tenggorokan dan setelah di periksa lebih lanjut, ternyata penyakit tersebut adalah sejenis kanker yang telah menyebar sampai ke tulang belakangnya.

Beberapa kalangan menyebutkan bahwa Abu Hamdiyeh hanya di beri obat penghilang rasa sakit saja oleh otoritas penjara Israel. Keterlambatan dalam pemberian pengobatan medis menjadi alasan utama atas kematian Hamdiyeh.

Sementara itu, Presiden Palestina Mahmud Abbas, dan Perdana Menteri Palestina Salam Fayyad mengecam Israel atas kelalaian tersebut. “Keterlambatan medis dari pihak Israel telah menyebabkan kematian Abu Hamdiyeh,” kata Abbas. (L/P04/P015/P02)

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Leave a Reply