RSI GAZA SELESAI TAHUN INI

Jakarta , 26 Jumadil Awwal 1434/6 April 2013 (MINA) – Ketua Divisi Konstruksi Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), Faried Thalib mengatakan, Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza selesai tahun ini.

“Insya Allah, Desember tahun ini RSI di Gaza selesai 100 persen secara fisik, akan tetapi itu diluar peralatan medisnya,” kata Faried kepada Mi’raj News Agency (MINA),  Jum’at (5/4).

Faried Thalib juga merupakan ketua tim pemantau RSI-Gaza yang sudah melakukan pemantauan selama dua pekan dimulai pada Jum’at (15/3) dan baru tiba di tanah air pada Ahad (31/3). Dalam kunjungan tersebut Faried menyimpulkan, pembangunan RSI berjalan sesuai rencana.

RSI dilengkapi dengan 5 kamar operasi, 10 tempat tidur ICU dan 100 tempat tidur pasien rawat inap. Setelah selesai pembangunan, diharapkan sudah mulai beroperasi pada tahun 2014 dan MER-C akan memberikan RS Indonesia sepenuhnya kepada rakyat Gaza sebagai sumbangan dari rakyat Indonesia.

Rumah sakit itu menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina dimana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia.

Usai pembangunan fisik, masih akan dibutuhkan dana untuk fasilitas pendukung dan medis, dari mebel, tempat tidur hingga perangkat medis.  Kebutuhan dana itu, belum termasuk perangkat medis modern seperti MRI (magnetic resonance imaging) dimana dana yang diperlukan sekitar 30 miliar rupiah lagi.

“RSI di Gaza adalah suatu kebanggaan bagi bangsa Indonesia, kita membangun sesuatu yang besar ditengah-tengah daerah konflik, Kalau ditempat umum itu biasa, akan tetapi ini tempatnya spesial”, tegasnya.

Secara umum tidak ada satu lokasi pun di Jalur Gaza yang sepenuhnya aman dari serangan Israel, termasuk pula lokasi di mana RSI-Gaza dibangun.  Di samping posisi RSI berada di Gaza Utara, di dekat perbatasan Gaza dengan tanah jajahan Israel. Lahan RSI pun berada dekat dengan tempat latihan sayap militer gerakan perlawanan Palestina Hamas, Brigade Al Qassam yang merupakan target utama Israel.

Di depan RSI di Gaza terdapat tembok setinggi enam meter yang merupakan pembatas tempat latihan pasukan Brigade Al Qassam.  Di lokasi yang hanya sejauh 30 meter dari  tembok,  Brigade Al Qassam biasanya melakukan latihan militer rutin setiap setiap subuh atau jika kondisi sekitar dalam keadaan aman.

Bahkan lahan seluas 1,6 hektar yang jadi lokasi RSI-Gaza itu sebelumnya  juga adalah medan latihan tempur para pejuang Gaza. RSI diserahterimakan dari Menteri Kesehatan Palestina Baseem Naem kepada Ketua Presidium MER-C Joserizal Jurnalis sebagai pihak pembangun pada 23 Januri 2009.

Lokasi RSI-Gaza di kawasan Beit Lahiya dekat dengan perbatasan, sekitar 2,5 km, dan hampir tidak pernah putus dipantau pesawat pengintai tanpa awak (drone) Israel.

Selama delapan hari serangan Israel ke Jalur Gaza yang dimulai pada 14 hingga gencatan senjata 21 November 2012 lalu, relawan RSI itu tetap bekerja sesuai instruksi dari Jakarta, namun pekerjaan dilaksanakan di bagian lantai bawah tanah (basement) karena memperhitungkan keamanan.

Saat puncak serangan-serangan pesawat tempur Israel ke berbagai sasaran di Gaza tersebut, sebuah bom Israel jatuh dan menghancurkan sebuah bangunan hanya berjarak 100 meter dari RSI-Gaza. Akibat guncangan bom bahkan sempat memecahkan beberapa kaca jendela RSI. Namun tidak mencederai relawan.

Sementara itu, Nur Ikhwan Abadi, koordinator teknis pembangunan RSI, juga mengatakan pembangunan RSI tahap dua masih terus berjalan.

“Para relawan sedang mengerjakan pekerjaan arsitek serta mechanical dan electrical. pekerjaan arsitek diantaranya pemasangan batu bata. Alhamdulillah, pemasangan batu bata sudah selesai semua, baik di lantai basement, lantai satu maupun di lantai dua,” jelas Nur Ikhwan yang juga baru beberapa hari tiba di Indonesia.

“Pekerjaan electrical yang sedang dilakukan seperti instalasi listrik, sedangkan pekerjaan mechanical itu seperti medical gas, pemadam kebakaran, sumur-sumur bor, ac, dsb. Semua itu sedang dalam proses” jelasnya. 

Kemudian, para relawan juga sedang memasang Hajar Qudsi untuk dinding bagian luar. Hajar Qudsi itu adalah batu alam khusus dari daerah Al-Khalil yang digali kemudian dihaluskan. Batu ini sengaja langsung didatangkan dari daerah Khalil, Hebron, Tepi Barat, Palestina.

“Walaupun batu tersebut sempat tertunda selama dua pekan, dikarenakan pada saat pengiriman harus melewati perbatasan Karim Abu Salim, sebuah perbatasan yang sempat ditutup sementara oleh Israel karena peristiwa wafatnya tahanan palestina, Arafat Jaradat yang membuat keadaan menjadi memanas didaerah tersebut,” tegasnya.

Pembangun RSI Gaza sekarang dipimpin oleh Ir. Edi wahyudi dan dibantu oleh ikhwan lainnya. “Kalau tidak ada kendala, kita perkirakan akhir tahun ini sudah selesai semua pekerjaan fisik,” kata.

Dalam proyek pembangunan RSI itu, bekerja 32 relawan Indonesia dari berbagai keahlian pekerjaan, mulai dari tukang batu, ahli listrik, ahli air, mahasiswa hingga insinyur sipil. Seluruh relawan berasal dari Pondok Pesantren Al-Fatah berpusat di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat sebagai mitra dakwah dan ukhuwah MER-C.

Berlomba Mencari Ridla Allah

Selain melaksanakan amanah pembangunan RSI-Gaza, Relawan RSI itu juga memanfaatkan waktu-waktu di luar pekerjaan rutin RSI, dengan mengadakan kegiatan belajar bahasa Arab dan mengikuti program Tahfidzul Quran secara sederhana.

Tercatat, ada relawan yang sudah hafal lima juz selama sekitar setahun bertugas di Gaza, karena mengikuti program Tajul Waqar musim liburan lalu khusus kelas karyawan.

“Alhamdulillah, para relawan disana tetap istiqomah, disana sudah seperti hidup di pesantren, setiap pukul tiga dini hari kita bangun untuk sholat malam, kemudian setelah shalat subuh kita belajar bahasa arab dan mendengarkan ceramah serta setiap setelah shalat maghrib setoran hafalan minimal sehari tiga ayat ” tambahnya.

Bahkan, ditengah penat & letih, ditengah panas yang mulai merayap menggantikan musim semi di Gaza, ditengah suasana Gaza yang belum kondusif, para relawan RSI masih menyempatkan diri untuk berpuasa sunnah Senin & Kamis bahkan ada yang berpuasa sunah Daud (sehari puasa sehari tidak). Semua yang mereka lakukan hanya semata untuk berlomba menggapai & mencapai Ridla Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Masyarakat Gaza sempat terperanjat saat mengetahui sebagian besar para relawan RSI berpuasa sunnah secara rutin. “Bagaimana bisa kalian bekerja keras sambil berpuasa ?” demikian salah satu ungkapan mereka kepada para relawan.

Sebagian masyarakat yang mengetahui kondisi semangat para relawan RSI di bumi para nabi itu berusaha secara bergantian mengundang para relawan RSI untuk  buka puasa dengan makanan-makanan ala warga Gaza di rumah-rumah mereka atau secara bersama di Masjid walau dalam hati kecil para relawan berkata, “Subhanallah, masyarakat Gaza-Palestina yang sedang terblokade masih ingin menghormati tamu-tamunya yaitu para relawan RSI-Gaza. (L//P015/P01/P02)

Mi’raj News Agency (MINA)

Rate this article!

Leave a Reply