TENTARA CHAD MUNDUR DARI PERANG MALI

N’Djamena, Chad, 6 Jumadil Akhir 1434/16 April 2013 (MINA) – Presiden Chad Idriss Deby Itno dalam sebuah wawancara dengan wartawan Perancis yang diposting online hari Senin (15/4) mengumumkan tentara Chad akan menarik diri dari perang di Mali, Al Jazeera melaporkan yang dipantau Mi’raj News Agency (MINA).

“Tentara Chad tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi jenis pertempuran gerilya yang muncul di Mali Utara. Tentara kami akan kembali ke Chad. Mereka telah menyelesaikan misi mereka,” kata Itno.

Pengumuman penarikan pasukan Chad muncul tiga bulan setelah misi pimpinan Perancis untuk menggulingkan pejuang al-Qaeda di Mali Utara dimulai, dan hanya beberapa hari setelah seorang gerilyawan meledakkan dirinya yang menewaskan tiga tentara Chad.

Itno mengatakan Chad sudah mulai menarik keluar batalion sebanyak 2.000 tentara Chad, kembali secara bertahap, menurut wawancara dengan Perancis Le Monde, TV5 Monde dan radio RFI.

Di sisi lain, Perancis mengatakan pihaknya juga ingin menyerahkan tanggung jawab misi untuk Mali kepada tentara Afrika lainnya.

Pasukan Chad, dilatih di pertempuran gurun, telah mendukung pasukan Perancis di beberapa pertempuran terberat selama perang di utara Mali.

Biaya Mematikan

Upaya Chad di Mali menelan biaya mahal, setidaknya 23 tentara Chad tewas dalam satu pertempuran saja di bulan Februari.

Presiden Perancis Francois Hollande mengatakan bahwa pada bulan Juli, sekitar 2.000 tentara Perancis masih akan berada di Mali, bekas jajahan Perancis, turun dari 4.000 tentara. Puncaknya, pada akhir tahun  akan disisakan 1.000 tentara.

Bangsa demokratis Mali jatuh ke dalam kekacauan tahun lalu, menyusul kudeta militer Maret 2012 di ibukota Bamako.

Bamako telah lama berjuang untuk mempertahankan kontrol bangsa di utara, daerah seluas Afghanistan.

Kudeta menciptakan kekosongan kekuasaan yang memungkinkan pejuang Al-Qaeda menguasai utara, di mana mereka memberlakukan syari’at Islam. Perancis melancarkan operasi militer pada 11 Januari setelah diminta untuk campur tangan oleh presiden sementara Mali.

Pada minggu-minggu pertama operasi, pasukan Perancis dan Mali dengan mudah mengambil kembali kota di Mali Utara, tapi para pejuang tetap di padang gurun melakukan perang gerilya. (T/P09/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Rate this article!

Leave a Reply