TIMBUKTU DILANDA PERTEMPURAN PANJANG

Bamako, 20  Jumadil Awal 1434/1 April 2013 (MINA) – Juru bicara militer Mali Kapten Samba Coulibaly mengatakan, Timbuktu telah dilanda pertempuran berkepanjangan antara pejuang dengan tentara Mali dan Perancis.

“Pejuang Al-Qaeda di Maghreb Islam (AQIM) menyerang kota di Mali Utara, Sabtu larut malam dan terus berjuang hingga Ahad,” kata Coulibaly di Timbuktu, Ahad (31/3), seperti dilansir Al Jazeera yang dipantau MINA.

Setidaknya satu tentara Mali dan tiga pejuang tewas dalam pertempuran itu.

Sementara itu, Press TV menyebutkan jet tempur Perancis terus membom Timbuktu di tengah bentrokan.

Tentara Mali Kapten Modibo Traore Naman mengatakan, pertempuran dimulai Sabtu malam (30/3) setelah bom mobil bertugas mengalihkan perhatian militer dan memungkinkan sekelompok pejuang menyusup ke Timbuktu pada malam hari.

“Ada beberapa pejuang  menyelinap ke kamp militer dan kota Timbuktu. Terjadi baku tembak saat itu,” kata seorang prajurit Mali di pintu masuk kota, yang dirahasiakan namanya (anonimitas).

“Militer Perancis bergabung dengan tentara Mali untuk melawan pejuang pada Ahad kemarin,” kata penduduk Timbuktu.

“Masyarakat  benar-benar takut, tapi itu sebagian besar disebabkan oleh kurangnya informasi tentang apa yang terjadi di kota,” kata Halle Ousmane, Walikota Timbuktu.

Serangan kali ini adalah serangan besar pertama di kota Timbuktu sejak dibebaskan oleh pasukan Perancis pada 28 Januari.

Perancis ciptakan krisis di Mali

Mali telah menjadi ajang pertempuran mematikan antara pejuang lokal dan tentara Perancis yang didukung pemerintah Mali sejak Paris melancarkan serangan di wilayah bekas koloninya itu pada Januari 2013.

Perang yang dilakukan Perancis di Mali telah menyebabkan krisis kemanusiaan serius dan menciptakan puluhan ribu orang mengungsi, banyak di antaranya berada di kamp-kamp pengungsi di negara-negara tetangga dalam kondisi memprihatinkan.

Penduduk Mali Utara mengatakan, perang yang dilakukan Perancis dan militer yang berkuasa menghalangi aliran bantuan kemanusiaan ke wilayah yang terkena dampak perang.

Mereka mengatakan blokade daerah oleh pasukan Perancis dan pemerintah Mali telah mengganggu kegiatan pekerja kesehatan di beberapa kamp pengungsi. Sebagian besar kamp kekurangan kebutuhan pokok yang sangat parah, seperti kekurangan makanan dan obat-obatan.

Pada Rabu (27/2), seorang pejabat kemanusiaan PBB mengatakan, warga Mali masih membutuhkan bantuan kemanusiaan.

“Sekitar 200.000 anak-anak tidak mendapatkan pendidikan apapun sejak tahun lalu,” kata John Ging, Direktur Operasi Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB.

Perancis meluncurkan perang di Mali pada 11 Januari 2013 dengan dalih untuk menghentikan kemajuan pejuang lokal di negara itu. (T/P09/P02)

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Rate this article!

Leave a Reply