TURKI MEDIASIKAN DIALOG SOMALIA DAN SOMALILAND

Ankara, 4 Jumadil Akhir 1434/14 April 2013 (MINA) – Turki menjadi mediasi pembicaraan antara Somalia dengan wilayah otonomi Somaliland di Ankara, ibukota Turki, Sabtu (13/4), Turki Press melaporkan sebagaimana yang dipantau Mi’raj News Agency (MINA).

Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu bertemu dengan Presiden Somalia Sheikh Hassan Mohamud dan Presiden Wilayah Otonomi Somaliland Ahmed Mahamoud Silanyo di tahap kedua pembicaraan yang dimediasi oleh Turki.

Davutoglu bertemu dengan Presiden Somalia Mohamud sebelum keduanya bergabung dengan Presiden Somaliland Silanyo dalam pertemuan trilateral, yang diadakan secara tertutup.

Sumber-sumber diplomatik Turki yang dekat dengan pertemuan mengatakan pembicaraan pertama di tingkat presiden yang bertujuan merancang saluran dialog dan menjaga mereka untuk terbuka dalam mengatasi masalah di antara Somalia dan daerah otonom Somaliland.

Kedua presiden juga dijadwalkan bertemu dengan Presiden Turki Abdullah Gul serta Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan.

Somaliland mencari pengakuan

Somaliland adalah bekas jajahan Inggris, menyatakan kemerdekaannya dari Republik Federal Somalia menjadi Republik Somaliland tahun 1991, namun tidak diakui oleh dunia internasional sejak saat itu.

Daerah otonom Somaliland mencari pengakuan sebagai negara terpisah, namun permintaan itu ditolak oleh Somalia yang menginginkan wilayah utara tetap menjadi bagian dari negara Somalia.

Pemerintah Somaliland menganggap dirinya sebagai negara penerus protektorat Somaliland Inggris, yang independen pada tanggal 26 Juni 1960 sebagai Negara Somaliland, sebelum menyatukan diri dengan Wilayah Perwalian Somalia (mantan Somaliland Italia) pada tanggal 1 Juli 1960 sampai membentuk Republik Somalia.

Somaliland berbatasan dengan Ethiopia di Selatan dan Barat, Djibouti di Barat Laut, Teluk Aden di Utara, dan wilayah Puntland otonom Somalia di Timur.

Tahun 1988, rezim Siad Barre melakukan pembantaian terhadap rakyat Somaliland, yang menyebabkan perang saudara Somalia. Perang itu menyebabkan infrastruktur ekonomi dan militer rusak parah. Setelah runtuhnya pemerintah pusat tahun 1991, pemerintah daerah, yang dipimpin oleh Gerakan Nasional Somalia (Somali National Movement /  SNM), menyatakan kemerdekaan dari Somalia tanggal 18 Mei tahun yang sama.

Sejak saat itu, wilayah ini telah diperintah oleh pemerintahan yang berusaha menentukan nasib sendiri sebagai Republik Somaliland. Pemerintah mempertahankan hubungan informal dengan beberapa pemerintah asing, yang telah mengirim delegasi ke Hargeisa, ibukota Somaliland.

Ethiopia juga mempertahankan kantor perdagangan di wilayah tersebut. Namun, proklamasi kemerdekaan Somaliland tetap tidak diakui oleh negara manapun atau organisasi internasional. (T/P09/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply