MENLU TURKI : SUDAH WAKTUNYA HENTIKAN KEJAHATAN PERANG DI SURIAH

 Ankara, 10 Jumadil Akhir 1434/19 April 2013 (MINA) – Menteri Luar Negeri Turki, Ahmet Davutoglu di Ankara mengatakan, Kamis (18/4), sudah waktunya bertindak untuk menghentikan kejahatan perang di Suriah, Anadolu Agency melaporkan.

Berbicara melalui saluran pribadi kepada TV CNN Turki, Ahmet Davutoglu mengungkapkan jumlah rudal Scud yang ditembakkan dari Damaskus ke Aleppo mencapai 205 hulu ledak.

“Setiap kali sebuah rudal Scud dilepas ke lingkungan di Suriah. Dan ini adalah kejahatan perang,” kata Davutoglu.

“Sekarang saatnya untuk bertindak atas tindakan kejahatan perang. Mereka yang melakukan kejahatan perang harus membayarnya. Tidak ada yang bisa membantah, serangan rudal Scud seperti itu adalah kejahatan perang,” tegas Davutoglu.

Menurut menteri bergelar profesor itu, semua tuduhan tentang penggunaan senjata kimia di Suriah harus diselidiki dan tidak harus ditutup-tutupi. Delegasi PBB yang ditugaskan menyelidiki dugaan tersebut masih belum mendapat izin dari rezim Suriah untuk memasuki negara konflik tersebut.

“Sangat penting untuk membangun bantuan koridor kemanusiaan di Suriah. Jumlah warga Suriah yang melarikan diri ke Turki mendekati 200.000 orang. Sebuah sikap yang jelas harus ditampilkan untuk memberikan bantuan kepada mereka di Suriah yang mencoba untuk tetap hidup,” kata Davutoglu.

Mantan penasehat utama Perdana Menteri itu juga mengungkapkan, pertemuan Menteri Luar Negeri Sahabat Suriah di Istanbul pada akhir pekan depan akan fokus pada tema mengakhiri tirani di Suriah.

“Rezim Suriah terus menerima senjata. Dunia kini menutup mata mereka terhadap pembantaian Suriah. Sebuah pesan yang jelas dan pasti harus dikirimkan kepada administrasi Suriah,” tegas Davutoglu.

Pada pertemuan terakhir dengan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov di Istanbul, Davutoglu menyebutkan, ada perbedaan pendapat antara Turki dan Rusia menganai Suriah.

“Kedua belah pihak tidak menyembunyikan perbedaan pendapat. Kami mengadakan pembicaraan yang sangat rinci dengan Lavrov. Negara tidak harus setuju 100 persen dengan lainnya,” kata Davutoglu. “Yang penting adalah menjaga saluran dialog terbuka tentang isu-isu di mana tidak ada kesepakatan,” tambahnya. (T/P09/P02)

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

Leave a Reply