ABBAS DAN PERES BERTEMU DI YORDANIA

Peres dan Abbas di Yordan, Ahad (26/5). Foto: Maan News Agency

Amman, 17 Rajab 1434/27 Mei 2013 (MINA) –  Presiden Palestina, Mahmud Abbas dan Presiden Israel, Simon Peres bertemu di Yordan pada Ahad (26/5) untuk membicarakan upaya perdamaian Palestina-Israel yang stagnan.

Pertemuan kedua pemimpin itu diadakan di sela-sela Forum Ekonomi Dunia di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Abbas mengatakan, perdamaian hanya dapat dicapai dengan pembentukan negara Palestina merdeka dan berdaulat.

Sedangkan Peres mendesak Abbas untuk “kembali ke meja perundingan dengan Tel Aviv”, dan mengatakan kepadanya konflik hanya dapat diselesaikan dalam pembicaraan perdamaian langsung, pusat media Timur Tengah (IMEMC) melaporkan.

Peres juga mengatakan Israel dan Palestina harus mencapai kesepakatan damai berdasarkan pada solusi dua negara, di mana “hidup negara Yahudi dalam perdamaian dan keamanan di samping negara Palestina”.

Sebelumnya, Perdana Menteri Palestina Ismail  Haniyah mengatakan solusi dua negara tidak akan pernah berhasil di Palestina, karena Israel tidak menginginkan perdamaian.

Abbas menambahkan, Israel harus menjalankan upaya Perdamaian Arab yang menawarkan normalisasi penuh hubungan negara-negara Arab  dan Tel Aviv  dengan syarat Palestina menjadi Negara merdeka dengan batas wilayah yang jelas serta dapat diterima, juga penarikan penuh Israel dari semua wilayah yang diduduki pada 1967, termasuk Al-Quds (Yerusalem) Timur.

“Kami ingin memberikan harapan yang solid dan nyata untuk generasi baru. Kami sedang mencari perdamaian yang komprehensif berdasarkan pada legitimasi internasional,” kata Abbas.

Pada hari yang sama, Raja Abdullah dari Yordania mengadakan pertemuan dengan Abbas, di samping pertemuan terpisah dengan Peres dan Menteri Luar Negeri AS, John Kerry.

IMEMC juga melaporkan, Otoritas Palestina di Tepi Barat dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), harus berhenti  melakukan pembicaraan damai dengan Tel Aviv, karena Israel terus melakukan invasi dan pelanggaran-pelanggaran, termasuk penghancuran rumah dan pembangunan permukiman ilegal yang sedang berlangsung di Tepi Barat, termasuk di Al-Quds Timur.

Israel juga menolak mengakui  penjaminan secara internasional Hak Kembalinya para pengungsi Palestina setelah Nakbah (hari pengusiran besar-besaran warga Palestina oleh Israel), dan menolak mengadakan pembicaraan tentang isu-isu inti lainnya seperti Al-Quds, perbatasan maupun sumber daya alam. (T/P03/P02)

Mi’raj News Agency (MINA)

Rate this article!

Leave a Reply