ADHYAKSA DAULT : BOIKOT SEA GAMES KE-27 DI MYANMAR

Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Adhyaksa Dault. (Doc. MINA)

Jakarta, 24 Jumadil Akhir 1434/4 Mei 2013 (MINA) – Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Adhyaksa Dault menyerukan kepada para atlet untuk memboikot SEA Games ke-27 yang akan berlangsung di Myanmar Desember mendatang.

“Jika saya masih Menpora, saya akan boikot SEA Games 2013 di Myanmar,” kata Adhyaksa pada acara Tabligh Akbar penggalangan dana untuk Muslim Rohingya di Jakarta, Sabtu (4/5).

Kepada wartawan Mi’raj News Agency (MINA), Adhyaksa menegaskan bahwa yang terjadi saat ini di Arakan, Myanmar adalah genosida (penghapusan etnis) terhadap muslim di sana. “Konflik di Rohingya bukanlan konflik horisontal yang sifatnya sementara, tetapi sudah mengarah kepada genosida dan perang agama,” tegasnya.

Rohingya merupakan etnis minoritas muslim yang mendiami wilayah Arakan sebelah utara Myanmar berbatasan dengan Bangladesh, yang dahulu wilayah ini dikenal dengan sebutan Rohang dan saat ini lebih dikenal dengan Rakhine. Itu sebabnya orang-orang muslim yang mendiami wilayah Rohang disebut dengan Rohingya. 

Sejak kemerdekaan negara Myanmar pada tahun 1948, Rohingya menjadi satu-satunya etnis yang paling tertindas di Myanmar.

Operasi pemusnahan sistematis yang dijalankan pemerintah Myanmar untuk menghapus etnis Muslim Rohingya dengan melibatkan kelompok ekstrimis buddha telah mengancam dan melanggar hak asasi manusia.

Ketua Jetsky Indonesia itu juga menyatakan, masyarakat Indonesia harus memberikan bantuan semaksimal mungkin kepada muslim Rohingya. “Masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim harus membantu saudaranya yang tertindas di Rohingya. Ini bukan hanya tugas kemanusiaan, tapi sudah merupakan kewajiban agama sebagai sesama muslim,” tambahnya.

Menurutnya, dari total jumlah penduduk Asia Tenggara, 46 % adalah rakyat Indonesia dan jumlah penduduk Myanmar kurang dari 10 % saja. Jadi, Indonesia mempunyai peran sangat penting dalam menentukan kebijakan-kebijakan di Asia Tenggara.

Selama ini, pemerintah Myanmar berusaha untuk menutup-nutupi fakta yang terjadi di Arakan, Myanmar. Sangat sedikit organisasi-organisasi internasional dan media yang diizinkan masuk kesana. Hal itu membuat kurangnya akses informasi terhadap fakta yang sebenarnya terjadi pada etnis muslim Rohingya saat ini.

Hal sama dikatakan Direktur Eksekutif Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia (PAHAM) Indonesia, Nasrulloh Nasution bahwa pemerintah Indonesia merupakan penduduk dengan mayoritas umat Islam terbesar di dunia seharusnya menyatakan memboikot atau tidak mengirim atletnya mengikuti SEA Games tersebut.

Menurutnya alasan yang paling utama Indonesia melakukan boikot penyelenggaraan tersebut disebabkan alasan keamanan dan sportifitas. Karena bagaimana mungkin Myanmar bisa menyelenggarakan SEA Games sedang di negerinya sendiri tidak aman dan diperparah dengan gelombang kebencian yang semakin memuncak.

“Pemerintah sudah seharusnya memboikot dan tidak mengirimkan atletnya ke arena SEA games, dikarenakan alasan keamanan,” tegasnya.

Dia juga mempertanyakan, bagaimana Myanmar akan bisa menerapkan slogan yang selalu didengungkan di setiap acara olahraga tentang sportifitas, apabila di neganya sendiri terjadi permusuhan, kebencian yang berakhir pada pembunuhan dan pengusiran terhadap suatu agama tertentu yang terus terjadi.

Nasrulloh menambahkan, pemboikotan dilakukan sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap kekerasan kemanusiaan, Indonesia juga bisa mengajak negara-negara peserta lainnya untuk bersama-sama memboikot SEA Games tersebut.

Boikot tersebut sudah dilakukan kedua instansi yang peduli terhadap muslim Rohingya itu sejak Ramadhan tahun lalu. (L/P04/P05/P08/P02)

Mi’raj News Agency (MINA) 

Leave a Reply