AHLI POLITIK DAN KEAMANAN PALESTINA : PERBATASAN RAFAH, KORBAN TETAP DILEMA MESIR

 Gaza City, 12 Rajab 1434/22 Mei 2013 (MINA) – Seorang ahli politik dan keamanan asal Palestina, Dr. Hani Al-Basous membenarkan adanya rencana Mesir yang disengaja untuk memperketat jerat di Jalur Gaza.

Al-Basous mengatakan, ada rencana untuk menodai citra pemerintah Palestina dan perlawanan terhadap penjajahan Israel. Dia menegaskan, satu pihak di belakang kejadian tersebut sangat sadar bahwa Gaza tidak ada hubungannya dengan apa yang terjadi di Sinai.

“Israel pewaris tunggal dari penutupan perbatasan Rafah. Ada banyak pihak Mesir yang ingin menyabotase hubungan Mesir-Palestina,” kata Al-Basous.

Dalam hal ini, Senior Hamas, Salah Al-Bardawil dalam rilis resmi yang dikutip media berbasis di Gaza AlResalah mengatakan, negara penjajah Israel adalah satu-satunya penerima masalah di penyeberangan perbatasan Rafah dan penutupannya oleh petugas keamanan Mesir.

Dalam sambutannya pada salah satu televisi di Gaza, Ahad (19/5), Bardawil menegaskan bahwa Gerakan perlawanan Palestina itu tidak ada hubungannya dengan penculikan tentara Mesir atau insiden yang terjadi sebelumnya di wilayah Mesir.

Ia menyatakan kekecewaan dan penyesalan Gerakannya bahwa beberapa pihak Mesir terus menuduh Hamas bertanggung jawab atas setiap kejadian yang terjadi di negara yang menjadi mediator rekonsiliasi Palestina itu.

Pejabat Hamas itu juga menegaskan, rakyat Palestina di Gaza dan pemerintah mereka merasa sedih mengenai penculikan tentara Mesir dan keputusan pemerintah Mesir menarik kebijakan membuka kembali persimpangan Rafah dan memfasilitasi pergerakan para penumpang.

Ribuan Orang Terlantar

Pemerintah Mesir terus menutup perbatasan Rafah dengan Gaza selama lima hari berturut-turut, meskipun ada upaya oleh para pejabat Palestina untuk membuka kembali terminal.

Polisi Mesir menutup perbatasan Rafah pada Jumat (17/5) setelah sejumlah kelompok bersenjata menyerang dua minibus di wilayah Sinai Wadi al-Akhdar dan menculik tujuh petugas keamanan Mesir.

Polisi Mesir mengatakan, mereka tidak akan membuka kembali Rafah hingga rekan-rekan mereka dibebaskan.

Sebuah Pusat untuk HAM berbasis di Gaza mengatakan, lebih dari 2400 warga Palestina yang terlantar di kedua sisi perbatasan. Pusat HAM itu mendesak pemerintah Mesir untuk membuka penyeberangan dan mengecualikannya dari urusan internal kedua belah pihak

Penumpang mengatakan, Senin kemarin (20/5), mereka sedang membuat alas dengan kardus dan koran untuk tidur di malam hari dan untuk menghindari panas matahari pada siang hari. Ribuan warga tidur di masjid-masjid dan sangat sedikit yang mampu untuk menyewa kamar hotel di Arish.

Beberapa penumpang bahkan berhasil menyeberang ke Gaza melalui terowongan.

Serangan terhadap polisi dan tentara di semenanjung Sinai yang jarang penduduknya telah melonjak sejak pemberontakan yang menggulingkan Presiden Hosni Mubarak pada 2011 lalu. (T/P02/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

 

Leave a Reply