DUA PANGLIMA PERANG KLAIM JADI PRESIDEN JUBALAND SOMALIA

Mogadishu, 7 Rajab 1434/17 Mei 2013 (MINA) – Dua orang panglima perang di Jubaland, selatan Somalia telah mengklaim dirinya “presiden” di wilayah tersebut, yaitu mantan panglima perang Islam Ahmed Madobe dan mantan Menteri Pertahanan Somalia sekaligus panglima perang Barre Hirale.

Hari Rabu (15/5), Madobe dari suku Ogadeni terpilih sebagai presiden Jubaland dalam konferensi sekitar 500 orang sesepuh dan pemimpin lokal.

Para pendukung Madobe yang termasuk milisi kuat Ras Kamboni menembakkan senapan mesin berat ke langit untuk merayakan pengangkatannya.

“Mereka menembakkan senjata larut malam, situasi sekarang tenang, tapi kota tegang, ada kekhawatiran bentrokan antara milisi,” kata penduduk Kismayo, Hassan Mohamud, Kamis.

Madobe dianggap sebagai sekutu utama Kenya, pengangkatannya dianalisa membuka risiko keretakan antara Nairobi dan Mogadishu.

Tapi tak lama kemudian, panglima perang Hirale yang berasal dari klan saingan, menyatakan dirinya juga sebagai presiden dalam konferensi terpisah, Modern Ghana melaporkan yang dikutip MINA.

Kota pelabuhan selatan Kismayo tenang, namun warga telah melaporkan milisi suku memperkuat posisi mereka, kota di mana berbasis pasukan Kenya yang tergabung dalam pasukan Uni Afrika.

“Saya dinominasikan sebagai presiden Jubaland oleh para tetua. Saya meminta orang-orang untuk mendukung kepresidenan saya untuk membantu saya membawa perdamaian,” kata Hirale kepada wartawan.

“Konferensi di mana saya dinominasikan adalah milik rakyat, sedangkan konferensi lain yang diselenggarakan didorong oleh Kenya,” tambahnya dan menyerukan orang-orang untuk meletakkan senjata mereka dan membantu membangun kembali wilayah tersebut.

Hirale, seorang veteran komandan milisi dari suku Marehan, dalam beberapa tahun terakhir telah didukung oleh Ethiopia untuk melawan gerilyawan Shabaab. Kedua konferensi itu mengerti bahwa mereka akan ditentang oleh pemerintah pusat di ibukota Mogadishu, yang ingin menandai otoritasnya pada negara yang tidak taat hukum dan dilanda perang.

Namun sejauh ini, tidak ada reaksi langsung terhadap perkembangan dari Mogadishu. “Jika pertempuran pecah di Kismayo, pemerintah Somalia yang akan bertanggung jawab atas pertumpahan darah, karena mereka menciptakan ketidakstabilan antara persaudaraan antar suku,” kata Madobe kepada wartawan.

Warga di Kismayo mengatakan mereka sekarang memiliki dua pemimpin. “Hari ini kita memiliki dua presiden dan salah satunya dibantu oleh pasukan Kenya. Kota tenang, tapi orang tidak bergerak di jalan-jalan karena mereka khawatir,” kata Ahmed Ali, warga Kismayo. “Pendukung kedua milisi suku memperkuat posisi mereka di seluruh kota.”

Jubaland terletak di ujung selatan Somalia, berbatasan dengan Kenya dan Ethiopia. Kontrol dibagi antara beberapa kekuatan, termasuk milisi suku, Al-Shabaab, Kenya dan tentara Ethiopia.

Jubaland termasuk daerah semi-otonom lain dari Tanduk Afrika, termasuk Puntland di timur laut yang menginginkan otonomi dalam negara federasi, serta  Somaliland di barat laut yang keras membela kemerdekaannya. (T/P09/R2).

Mi’raj News Agency (MINA).

 

 

 

Leave a Reply