FENOMENA AL-QURAN MASA KINI DAN UPAYA MENJAGANYA

Oleh : Dudin Shobaruddin

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآَنَ مَهْجُورًا

Artinya: “Rasul  berkata: Ya Rab, sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-Quran Ini satu perlembagaan yang mereka tinggalkan”. (QS. al-Furqan:30).

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang bijak lagi cerdik dengan segala sifat Fathonah telah diberikan kemu’jizatan terbesar dengan diturunkannya al-Quran.

Al-Quran sebagai bacaan dan pedoman bukan saja untuk diri Nabi Muhammad melainkan juga bagi umatnya. Ia sebagai hidayah dan petunjuk jalan untuk sukses dunia dan akhirat. Ia penuh dengan pengajaran, dari mulai ibadah, aqidah, mu’amalah, dan juga sejarah. Telah banyak yang mengaguminya bahkan golongan jin pun turut memberikan kesan yang sama.

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآَنًا عَجَبًا

Artinya: “Katakanlah, telah diwahyukan kepadaku dan telah mendengarnya sekelompok Jin dan mereka berkata: Kami telah mendengar tentang (diturunkan) al-Quran yang mengagumkan”. (QS. Al-Jin:1).

Namun, sejauh mana pedoman dan petunjuk bagi orang beriman ini dijadikan bahan bacaan dan referensinya, dijadikan hiasan amalannya, diaplikasikan untuk menuntun arah tujuannya.

Ternyata, Rasulullah yang diutus untuk umat manusia seluruhnya tahu akan situasi dan kondisi umatnya, tahu akan karakter dan sikap manusia. Karena itu, beliau mengeluh, mengadu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, merintih akan keadaan umatnya, kebanyakan membiarkan al-Quran yang diwahyukan sebagai mu’jizat itu.

Umatnya meninggalkan al-Quran dengan tidak mau membacanya, apalagi menghafalnya. Umatnya meninggalkan tidak menghiraukan untuk mendengarkan bacaannya.

Itulah pengertian yang dimaksud ayat di atas bahwa umat Nabi muhammad meninggalkan al-Quran, seperti yang dijelaskan dalam Tafsir Ibn Katsir. Lanjut penafsirannya, bahwa orang-orang yang tidak mengimaninya berkata “Jangan kamu dengarkan al-Quran yang diwahyukan kepada Muhammad itu, kuatkanlah suara musik-musik, suara nyanyian, sehingga tidak terdengar bacaannya. Dan manusia meninggalkan dan menaruhnya di belakang”.

Hari  ini, dimanapun, tidak mengira tempat dan waktu, budaya yang semakin menjurus ke arah negatif terus mendapat sambutan yang luar biasa. Nyanyian dan musik sudah menjadi kegilaan umat manusia, tidak kira muslim dan juga non-muslim, kanak-kanak dan juga dewasa, perempuan dan juga laki-laki. Semua ikut bersama memeriahkan dunia ini dengan berbagai hiburan yang semuanya menjurus ke arah menjauhkan diri dari al-Quran.

Gelanggang tempat hiburan, baik yang terbuka maupun tertutup terus mendapat sambutan yang luar biasa. Setiap ruang dipenuhi dengan alata pengeras untuk mendengar musik yang menjadi kegilaan umum terutama bagi remaja. Bahkan, tidak melihat tempat, di rumah dan kantor, dalam kendaraan dan luar kendaraan, semua musik dan lagu yang di putar untuk didengar, dihayati untuk dijadikan hiburan.

Konon hal itu demi ketenangan jiwa dan keharmonian rohani. Anggapan itu mungkin masuk akal bagi non-muslim. Tapi sungguh tidak sejalan dengan akidah sekiranya dia seorang muslim.

Perhatikan sebagian besar generasi muda muslim hari ini, baik di kota ataupun di desa, dengan berbagai gaya dan cara mendendangkan alunan musik dan nyanyian demi untuk menyingkap tabir kesunyian, kegersangan, kegalauan. Konon untuk membahagiakan hidup ini.

Sungguh hal itu bagai fatamorgana di padang pasir. Dikira disana ada sesuatu yang menyejukan, ternyata tidak ada apa-apa, bahkan kosong tiada apapun.

Bagaimanapun kita menyakini, di samping rintihan Rasulullah ketika hidupnya dan mengadu kepada Allah bahwa umat ini telah dan akan meninggalkan al-Quran. Namun, dalam catatan hadisnya bahwa akan ada satu kelompok yang senantiasa menegakkan kebenaran dengan membaca, memahami dan mengamalkan al-Quran, seperti sabdanya :

لاَ يَزَالُ  طَائِفَةٌ مِن أُمَتىِظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ ».

Artinya: “Tidak akan berhenti dari umat ini untuk terus menegakkan kebenaran hingga hari kiamat.” (HR. Muslim, 6/48, HR. Abu Daud No 2483).

Menelurkan Para Penghafal al-Quran

Kita perhatikan, banyak lembaga-lembaga dan pondok-pondok pesantren tumbuh dan berkembang dimana-mana dengan mendirikan program hafalan al-Quran sebagai upaya untuk menelurkan penghafal-penghafal wahyu Illahi ini.

Beberapa hari yang lalu, Lembaga Pendidikan Pesantren Al-Fatah Muhajirun, Natar, Lampung juga telah meluncurkan sebuah ‘Universitas Terbuka al-Quran Abdullah Ibn Mas’ud’ yang di dalam objektifnya menargetkan satu juta penghafal al-Quran yang sekaligus memahami maksud dan tafsirnya serta dapat mengamalkannya.

Universitas terbuka Al-Quran secara online itu direncanakan akan mendatangkan para dosen International dari Dar al Quran al Karim wa Sunnah Gaza dan universitas-universitas Islam dunia  dengan metodologi dunia maya (internet).

Bahkan, sekarang di lembaga yang sama, Pesantren Al-Fatah Muhajirun, Natar, Lampung  sedang menyelenggarakan program Dauroh Tajul Waqar (Mahkota Ketenangan) untuk menghafal al-Quran selama satu bulan lebih yang di hadiri oleh ribuan peserta yang datang dari berbagai provinsi di seluruh Indonesia bahkan dari Malaysia dan Uganda turut menjadi peserta.

Dalam Dauroh tahfidzul Quran yang merupakan realisasi kerjasama pembelajaran akselerasi menghafal Al-Quran dengan Ma’had Tahfidz Daar al-Quran al-Karim Wa Sunnah Gaza, Palestina, Pesantren Al-Fatah Indonesia mendatangkan tim pengajar khusus dari Lembaga al-Quran Dar Al-Quran Al-Karim Wa Sunnah Gaza yang berjumlah empat orang. Hal ini merupakan kesungguhan luar biasa yang jarang dibuat oleh institusi lainnya.

Program Tajul Waqar yang bertema “Jailul Qur’an lil Aqsha ‘Unwan” (Generasi Al-Qur’an sebagai Penolong Al-Aqsha) merupakan periode kedua, setelah sebelumnya pada Tajul Waqar Pertama dilaksanakan di tempat yang sama, 1 Januari hingga 26 Februari 2012.  

Tajul Waqar angkatan pertama bertajuk “Daurah Tahfidzul Quran Taajul Waqaar lil Aqsha Intishar” (Program Akselerasi Menghafal Al-Quran Mahkota Kejayaan untuk Kemenangan Al-Aqsha) yang di buka oleh Direktur Lembaga al-Quran Daar al-Quran al-Karim Wa Sunnah Gaza, Palestina, DR. Syeikh Abdurrahman Yusuf Al-Jamal telah mewisuda 205 santri penghafal Al-Quran, terdiri dari 97 putera dan 108 puteri.

Adanya gagasan dan pelaksanaan Daurah seperti ini, yang turut diberitakan oleh beberapa Media online seperti Mi’raj News Agency (MINA), ANTARA News, Republika, Hidayatullah, dan lainnya, merupakan bukti kokoh akan terpeliharanya al-Quran untuk mengimbangi hal-hal jahat yang mencoba melenyapkannya dengan menyuburkan segala bentuk nyanyian dan musik serta berbagai hiburan. Allah berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Artinya: “Kami turunkan al-Dzikra (Quran) dan Kami juga memeliharanya” (QS. al-Hijr: 9).

Karena itu, kita harus yakin akan firman Allah tersebut di atas, walaupun musuh-musuh al-Quran semakin banyak, baik datang dari luar maupun datang dari dalam, baik dari kalangan  muslim ataupun non-muslim, tetap al-Quran akan terjaga dan terpelihara.

Bahkan beberapa hari lalu, dalam media Islam terkenal memberitakan seorang tokoh organisasi Islam di Indonesia memberikan pernyataan karakterisktik tanda-tanda kelompok ‘teroris’, di antaranya adalah banyak menghafal al-Quran, rajin Shalat malam, berjenggot, jidatnya hitam, dan celananya cingkrang. Sangat mengagetkan,  ucapan yang keluar dari tokoh organisasi Islam itu merupakan tamparan hebat terhadap generasi Qurani yang sedang banyak berlomba untuk menghafal sebanyak mungkin ayat al-Quran bahkan seluruhnya 30 juz.  

Hal Itu, merupakan satu usaha musuh Islam dengan menggunakan corong muslim agar umat Islam jauh dari al-Quran yang telah diusahakan lama oleh para orientalis barat.

Sekiranya Rasulullah masih ada, tentu akan lebih sedih lagi melihat umatnya sendiri mengaitkan kriminalitas dengan para penghafal al-Quran untuk secara tidak langsung menolak al-Quran dengan secara halus.

Semoga segala usaha umat Islam untuk berlomba menghafal al-Quran diperkenankan Allah, walaupun pada waktu yang sama cobaan dan dugaan yang menghalanginya terlalu banyak. Sehingga dengan banyaknya membaca dan menghafal al-Quran akan dengan sendirinya menghindari dari segala yang melalaikan al-Quran.

Harapan junjunan Nabi Muhammad adalah umatnya agar terus mambaca dan menghafal serta mengamalkannya hingga al-Quran menjadi akhlaq dan kepribadian dalam hidupnya. Wallahu ’alam. (K10/P02)

*Penulis adalah Kepala Biro Kantor Berita Islam Mi’raj News Agency (MINA) Malaysia

Leave a Reply