IMAM MASJID BOSTON BERJUANG PULIHKAN CITRA ISLAM

Boston, 4 Rajab 1434/14 Mei 2103 (MINA) – Menghadapi tantangan baru untuk mengembalikan citra Islam yang sebenarnya setelah tragedi pemboman mematikan, Imam Suhaib Webb, pemimpin masjid terbesar di Boston, Amerika Serikat sedang berjuang untuk mempromosikan kerukunan beragama di wilayah itu.

Memeluk Islam di awal 1990-an, Webb telah bekerja untuk mempromosikan ajaran Islam yang benar diantara para jamaahnya. Ia bercita-cita untuk lebih bisa menekuni tugas tersebut, hingga akhirnya ia memutuskan untuk terbang ke Timur Tengah agar tahu lebih banyak tentang keyakinan barunya.

Webb belajar Islam di Universitas Al-Azhar Mesir, salah satu universitas ternama dan tertua di dunia. Setelah lulus dari Al Azhar, Webb menjadi seorang sarjana hukum dan salah satu imam yang paling terkenal di Amerika Serikat.

Delapan belas bulan yang lalu, ia diangkat sebagai imam Islamic Society of Boston Cultural Center di Roxbury. Sejak hari pertama pengangkatannya, Webb mencoba untuk berbaur dengan imigran dari seluruh dunia serta anak-anak Amerika yang kemudian berpindah agama menjadi muslim.

Dia juga bekerja untuk menjembatani komunitas agama, menjalin persahabatan dengan komunitas agama lain, khususnya diantara beberapa pemimpin Yahudi. Dalam waktu singkat setelah penunjukannya, Webb menjadi sumber terpercaya bagi komunitas Muslim di Amerika.

Namun, tragedi pemboman bulan lalu di Boston telah menempatkan misi Webb dalam keadaan krusial, hal ini memberikan ruang bagi kaum Islamofobia melemparkan tuduhan bahwa masjid adalah tempat berkembang biak bagi kebencian.

“Saya tidak punya kelas privat, di mana kita bertemu di beberapa gua kelelawar dan kami membuat cetak biru tentang bagaimana menaklukkan Amerika,” kata Webb seperti dikutip OnIslam yang dipantau Mi’raj News Agency (MINA).

Salah satu tuduhan itu diungkapkan oleh Charles Jacobs dalam sebuah artikel USA Today di mana ia menuduh masjid menjadi tempat berkembang biak bagi kebencian dan ekstrimisme di Amerika Serikat.

Webb menjelaskan tulisan Jacobs sebagai ‘tuduhan konyol’. Banyak pengamat juga mengkritik tulisan tersebut hanyalah tuduhan.

“Masalahnya bukan Suhaib Webb. Masalahnya adalah tidak ada lagi imam seperti Suhaib Webb,” kata Todd Helmus, seorang  ilmuwan senior dari RAND Corporation yang telah bekerja secara luas pada kontraterorisme.

Bagi Helmus, Webb adalah salah seorang yang mempunyai suara muslim yang  berpengaruh terhadap radikalisme di negeri itu. Sementara itu, Diana Eck, seorang profesor Harvard yang mengajar studi kasus kisah Jacobs dan Boston, setuju dengan pandangan Helmus. “Selama bertahun-tahun mereka bertanya, ‘Dimana suara-suara Muslim moderat?'” Kata Eck mengenai Jacobs dan sekutu-sekutunya.

“Sekarang, kami memiliki banyak suara-suara Muslim moderat, dan mereka mengatakan bahwa ini adalah orang yang paling berbahaya karena mereka terlibat dalam masyarakat sipil,” tambah Eck.

Amerika Serikat adalah rumah bagi minoritas umat Islam sekitar delapan juta jiwa. Muslim AS adalah diantara yang pertama mengutuk serangan bom Boston, bahkan sebelum tersangka pengeboman terungkap mereka sudah mengecam aksi bom tersebut.

Meskipun komunitas Muslim mengecam pemboman tersebut, Masyarakat Amerika terutama di New York dan Massachusetts menyerang muslim yang tak berdosa. Media dan sayap kanan mulai menyulut gairah terhadap muslim kembali, memulai babak baru Islamofobia di Amerika. (T/P05/P02)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply