ISRAEL BUKA JALUR BARU DARI PEMUKIMAN YAHUDI KE MASJID IBRAHIMI

 

Hebron, 8 Rajab 1434/18 Mei 2013 (MINA) – Sekelompok insinyur sipil dari pemukiman ilegal yahudi ‘Kiryat Arba’ memulai survei tanah di lembah Husain, jalan milik warga Palestina, sebagai langkah awal membuka jalur baru penghubung pemukiman dengan Masjid Ibrahimi.

Banyak warga Palestina di lembah Hebron, sebelah selatan Tepi Barat mengatakan kepada Komite Rekonstruksi Hebron bahwa tim teknik yang disebut ‘Dewan Pemukiman Israel Hebron’ itu telah menyurvei jalan tanah berlokasi di lahan milik warga Palestina.

“Tanda telah berjajar di jalan untuk menunjukkan rencana trotoar. Pemukim Yahudi selama lebih dari satu tahun mencoba untuk membuat jalan dengan mengorbankan tanah rakyat Palestina di lembah Husain,” kata warga setempat seperti dikutip Kantor Berita berbasis di Gaza, Al-Ray yang dipantau Mi’raj News Agency (MINA), Sabtu (18/5).

Warga lembah mengimbau mereka yang peduli untuk menentang rencana itu, karena  membahayakan lahan yang dilampirkan pada pemukiman Yahudi ilegal ‘Kiryat Arba’.

Dalam waktu yang sama, tentara Israel menyiapkan kamera pengintai di atap beberapa rumah bagian selatan Masjid Ibrahimi.

Sekilas Masjid Ibrahimi

Masjid Ibrahimi berada di jantung kota “Hebron” Khalil Ar-Rahman (julukan nabi Ibrahim), di tengah kampung-kampung bersejarah yang usianya lebih dari 6000 tahun yang dibangun bangsa Arab Kan’an.

Masjid itu membawa warisan peninggalan Nabi Ibrahim, Nabi Ishak, Ya’qub dan Nabi Yusuf.

Setelah berdiri selama lebih dari 2000 tahun, bangunan Masjid Ibrahimi adalah salah satu yang tertua di dunia yang masih kokoh, serta telah bertahan dari gempa bumi di wilayah tersebut.

Sejak penjajahan Israel di Hebron tahun 1967, sebagian besar kota telah berada di bawah kontrol militer Israel. Pos-pos pemeriksaan di sekitar masjid membuatnya semakin mempersulit penduduk setempat untuk beribadah di dalam Masjid Ibrahimi.

Seringkali masjid juga ditutup untuk jamaah, dan panggilan azan pun secara sistematis dilarang oleh Israel. Ini merupakan upaya Israel secara perlahan-lahan membersihkan Palestina dari identitas Islam.

Pada tahun 1994, Baruch Goldstein, seorang Yahudi Amerika dan pemukim Yahudi di wilayah Palestina memasuki masjid dan menembaki jamaah yang sedang shalat di dalamnya. akibatnya, 29 orang gugur dan 150 orang lainnya terluka.

Goldstein sendiri tewas dalam aksi itu, dan selama bertahun-tahun sesudahnya makamnya di pemukiman setempat menjadi tempat ziarah bagi ekstremis Yahudi.

Reaksi Israel selanjutnya, membagi masjid menjadi dua bagian, 30% untuk ibadah umat Islam dan 70% lainnya untuk Yahudi. Sementara urusan keamanan 100% di bawah militer Israel.

Ketentuan lainnya adalah bahwa umat islam tidak diperkenankan menggunakan masjid tersebut dalam 12 hari setiap tahunnya, pada hari-hari perayaan Yahudi.

Di dalam masjid itu sendiri, dipasang alumunium yang membatasi antara sinagog Yahudi dengan ibadah umat Islam. Di dalam masjid juga ada tujuh pintu pemeriksaan militer, perlintasan elektronik, kamera pengintai dan perlintasan pemeriksaan sidik jari.

Akibat perlakuan rasial itu, jumlah jamaah shalat semakin sedikit. Aktivitas perdagangan dan ekonomi umat Islam di pasar dan toko di sekitar masjid juga hampir habis. Pasar berupa lapak juga ditutup secara paksa. (T/P02/R1)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply