KAPAL PENGUNGSI MUSLIM ROHINGYA TENGGELAM

Pauktaw, 5 Rajab 1434/15 Mei 2013 (MINA) –  Kapal yang membawa sekitar 200 pengungsi Muslim Rohingya menjelang terjadinya badai topan, terbalik dan tenggelam di Myanmar bagian barat.

Menurut keterangan seorang pejabat PBB, pada Senin malam kemarin, kapal tersebut bermasalah setelah meninggalkan kota Pauktaw di negara bagian Rakhine.

“Mereka pergi ke kamp lain menjelang badai topan,” kata seorang juru bicara PBB untuk Urusan Koordinasi Kemanusiaan (OCHA) seperti dikutip Al Jazeera yang dipantau MINA.

Kirsten Mildren dari perwakilan badan PBB tersebut mengatakan, hanya ada satu orang yang selamat dari kecelakaan tersebut.

PBB telah memperingatkan badai akan mengancam nyawa para pengungsi. Para pengungsi mencoba menyelamatkan diri dari badai Topan Mahasen yang diperkirakan akan terjadi pada Kamis dan Jumat mendatang.

Dampak Badai Mahasen

Badai Mahasen membawa angin hingga sekitar 100 kilometer per jam (kph), bisa menjadi badai angin topan yang dahsyat selama 24 jam.

Dampak Mahasen bisa teramat besar sebagai gangguan baru antara warga Muslim dan Buddha di Myanmar yang telah memaksa 130.000 orang meninggalkan rumah mereka, dengan setengahnya sekarang tinggal di kamp-kamp tenda di daerah dataran rendah di dekat pantai.

Siklon tropis di Teluk Benggala menunjukkan puncaknya selama periode Mei-Juni ini. Badai tertentu telah dikaitkan dengan fase aktif dari Madden Julian Oscillation (MJO) yang telah bergerak melalui Samudera Hindia selama sepekan terakhir.

MJO berkaitan antara atmosfer dan awan badai konvektif tropis. Daerah ini meningkatkan aktivitas yang muncul melalui atmosfer pada kecepatan 14 hingga 30 kph, dan yang paling terlihat melalui Samudra Hindia dan Pasifik.

Seperti bencana yang terjadi pada 2008, badai parah, Nargis, menyebabkan bencana alam terburuk dalam sejarah Myanmar. Nargis melanda kawasan daratan pada 2 Mei 2008, gelombang badai melalui delta Irrawady itu menewaskan 138.000 orang.

Topan lain menghantam Bangladesh pada 2 April 1991, menyerang Chittagong dengan kecepatan angin 250 kph. Gelombang badai enam meter menyapu daratan, menewaskan sedikitnya 138.000 orang, menyisakan 10 juta orang lainnya yang kehilangan tempat tinggal, dan menyebabkan kerugian senilai 1,7 juta US Dolar.

Tidak ada saran badai Mahasen akan berada dalam kondisi mematikan seperti salah satu dari dua badai tersebut. Namun, contoh-contoh menggambarkan bagaimana negara-negara yang berbatasan dengan Teluk Benggala sangat rentan dan mengapa pihak berwenang kini dengan nekat mengevakuasi orang sebanyak mungkin.

Terlalu Lambat Bertindak

Pemerintah Myanmar mengatakan pada Senin kemarin, ribuan orang yang mengungsi akibat kekerasan komunal tahun lalu telah dievakuasi dari kamp-kamp sementara ke tanah yang lebih aman dari badai yang akan terjadi.

Laporan itu mengatakan, pihak berwenang telah memindahkan 5.158 orang dari kamp dataran rendah di ibukota negara bagian Rakhine, Sittwe, untuk berlindung ke tempat yang lebih aman.

Kelompok hak asasi manusia mengatakan, pemerintah Myanmar terlalu lambat bertindak dan mengabaikan peringatan sebelumnya untuk memberikan perlindungan bagi para pengungsi.

“Pemerintah Myanmar tidak mengindahkan peringatan dari kelompok-kelompok bantuan kemanusiaan untuk merelokasi pengungsi Muslim menjelang musim hujan,” kata Brad Adams, direktur Asia Rights Watch.

“Jika pemerintah gagal untuk mengevakuasi mereka, berarti bencana tersebut tidak alami, tetapi buatan manusia,” katanya. (T/P015/P02)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply