KELOMPOK PEJUANG ALJAZAIR KLAIM SERANG ASET PERANCIS DI NIGER

Niamey, Niger, 15 Rajab 1434/24 Mei 2013 (MINA) – Kelompok pejuang Aljazair yang dikomandani Mokhtar Belmokhtar mengklaim bertanggungjawab atas serangan bom terhadap aset tambang uranium Somair di utara Arlit yang sahamnya dimiliki oleh perusahaan Areva Perancis, Kamis (23/5).

Target utama serangan bom di tambang uranium adalah pasukan elit Perancis yang memberi keamanan di sana.

Di waktu yang hampir bersamaan, sebuah serangan bom yang disebut operasi Signatories in Blood (Penandatanganan dalam Darah) juga melanda pangkalan militer di Agadez. Aksi bom kembar itu sedikitnya menewaskan 20 orang.

Bom mobil pertama meledak saat fajar di pangkalan militer di Agadez, kota terbesar di gurun utara Niger.

Menteri Dalam Negeri Niger, Abdou Labo mengatakan, 18 tentara dan seorang warga sipil tewas bersama dengan empat penyerang di pangkalan militer.

Sekitar 30 menit setelah serangan pertama, seorang bomber meledakkan sebuah mobil di tambang uranium Somair dan fasilitas pengolahan.

Areva mengatakan, satu orang tewas di tambang yang terletak sekitar 250 kilometer (150 mil) utara Agadez, tetapi korban tidak teridentifikasi. Dia menambahkan, 14 orang terluka.

“Belmokhtar yang mengawasi rencana operasional serangan pada pangkalan militer Agadez dan tambang uranium Perancis. Lebih dari 10 pejuang mengambil bagian dalam serangan ini,” kata El-Hassen Ould Khalil, juru bicara Belmokhtar seperti dikutip Modern Ghana yang dipantau Mi’raj News Agency (MINA).

Serangan itu terjadi hanya empat bulan setelah pejuang yang terkait, Al-Qaeda menguasai pabrik gas gurun di negara tetangga Aljazair. Dalam pengepungan itu menewaskan 38 sandera dan juga diklaim sebagai pembalasan terhadap intervensi Perancis di Mali.

Juru bicara itu menambahkan, mereka memimpin bersama dengan Gerakan Tauhid dan Jihad Afrika Barat (Movement for Oneness and Jihad in West Africa/MUJAO).

MUJAO, salah satu kelompok pejuang Islam yang sempat menguasai Mali Utara tahun lalu sebelum dipukul mundur oleh pasukan pimpinan Perancis, sebelumnya mengklaim pemboman tersebut.

“Terima kasih kepada Allah, kami telah melakukan dua operasi melawan musuh-musuh Islam di Niger,” kata juru bicara MUJAO, Abu Walid Sahraoui alias Julaibib.

Signatories in Blood adalah operasi mematikan yang dilakukan atas nama pimpinan operasi Al-Qaeda, Abou Zeid yang tewas dalam pertempuran melawan tentara Perancis di pegunungan Ifoghas, Mali Utara pada akhir Februari 2013 lalu.

Ada pun Belmokhtar, merupakan mantan pemimpin Al-Qaeda di Maghreb Islam (AQIM). Dia meninggalkan kelompoknya akhir tahun lalu dan menciptakan kelompok Signatories in Blood. (T/P09/P02).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply