KHILAFAH SOLUSI PERMASALAHAN DUNIA ISLAM

Bogor, 16 Rajab 1434/26 Mei 2013 (MINA) – Bersatunya seluruh umat Islam dalam wadah Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah (Khilafah yang mengikuti jejak kenabian) merupakan solusi terhadap seluruh permasalahan dunia Islam dan kembalinya kejayaan Islam, termasuk dalam membela permasalahan penzaliman umat muslim Rohingya.

Redaktur Kantor Berita Islam Mi’raj News Agency (MINA), Ali Farkhan Tsani menegaskankan, kebangkitan khilafah masa kini merupakan langkah strategis menuju kejayaan Islam dan muslimin dalam bingkai persatuan dan kesatuan umat Islam yang membawa misi rahmatan lil ’alaimin, kesejahteraan bagi seluruh alam.

“Kehadiran khilafah adalah secercah harapan kejayaan Islam dan muslimin dalam bingkai persatuan dan kesatuan umat Islam yang membawa misi rahmatan lil ’alaimin,” kata Ali Farkhan dalam Diskusi Dunia Islam “Membongkar Pembantaian Muslim Rohingya dan Peran Khilafah” di Pesantren Al-Fatah Bogor, Jawa Barat, Ahad (26/5).

Dia mengatakan, berdasarkan data dan fakta sejarah, serta media telah memuat, sistem khilafah ‘ala minhajin nubuwwah sudah diamalkan dalam wujud Jama’ah Muslimin beserta Imaamnya sejak tahun 1953.

Menurutnya, khilafah sebagai wadah persatuan dan kesatuan umat Islam merupakan suatu syariat yang bisa diamalkan bukan suatu khayalan.

Ali Farkhan, yang juga Duta Al-Quds lulusan Al-Quds Institute of Shana’a, Yaman mengungkapkan, berdasarkan hadits Nabi Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wasallam, umat Islam menempuh lima fase kepemimpinan, yaitu, pertama fase Nubuwwah, saat umat Islam dipimpin langsung Nabi Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wasallam, kedua fase Khilafah ala minhajin nubuwwah, yakni masa kepemimpinan empat Khalifah Rasyidah pengikut pola kenabian.

Selanjutnya, ketiga fase Mulkan Adhan, yakni ketika umat Islam dipimpin oleh dinasti kerajaan, periode Bani Umayah hingga Bani Abbasiyah. Keempat fase Mulkan Jabbariyah, umat Islam dipimpin oleh dinasti kerajaan Turki Utsmani.

“Fase terakhir adalah masa diamalkannya kembali khilafah ala minhajin nubuwwah, yang bersifat rahmatan lil alamain,” paparnya.

Hingga kini periodisasi sistem khilafah terus berjalan, dan sekarang telah memasuki pengamalan kembali sistem Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah dengan imaamnya Syaikh Wali Al-Fattaah yang dibaiat sebagai Imaamul Muslimin tanggal 10 Dzulhijjah 1372 H. / 20 Agustus 1953 M.

Hal itu merupakan bangkitnya kembali sentral kepemimpinan umat Islam dalam wujud khilafah ala minhajin nubuwwah, sebagaimana pernah diamalkan empat khalifah rasyidah terdahulu.

Terkait permasalahan muslim Rohingya, da’i pesantren Al-Fatah tersebut mengatakan, muslim Rohingya sudah ada di daerah Arakan sejak abad 7 Masehi, sebelum negara Myanmar berdiri.

“Kunci utamanya sebenarnya adalah bagaimana seluruh umat Islam bersatu dalam satu kekuatan, sehingga secara bersama-sama mengadakan perlawanan dan pembelaan terhadap saudaranya sesama muslimin di manapun berada, termasuk di Rohingya.

Di antaranya, menurut pengisi siraman rohani Islam di beberapa radio tersebut, melalui pembelaan media, advokasi, donasi, kesehatan, dan sebagainya.

“Kaum muslimin dianggap lemah karena terjangkiti penyakit al-wahn, yaitu cinta berlebihan terhadap dunia, dan lalai dari perjuangan, takut mati,” tegasnya.

Untuk itu, saatnya kaum muslimin bersatu dalam satu shaf terpimpin, sehingga dapat mengatasi permasalahan dunia Islam di manapun, dengan pertolongan Allah.

Peduli Rohingya 

Sementara itu, Direktur Pusat Informasi dan Advokasi Rohingya-Arakan (PIARA), Heri Aryanto mengatakan, umat muslim Rohingya sangat memerlukan dukungan dan kepedulian umat Islam, khususnya dari Indonesia yang mayoritas muslim.

Menurutnya, bentuk dukungan dan kepedulian itu bisa dilakukan dengan mengirim doa, donasi, dan advokasi dengan melakukan pembelaan dan pertolongan terhadap umat Islam yang tertindas itu.

“Muslim Rohingya mengharapkan dukungan dari umat Islam di mana pun ia berada. Maka, saatnya kita mendoakan saudara kita bersama seperti doa kita untuk muslim Palestina dan Suriah,” kata Heri.

Selain doa, menurutnya, pembelaan media, kampanye sosialisasi, dan donasi dengan bentuk apa pun menjadi sangat berarti bagi muslim Rohingya yang kini ratusan ribu lainnya hidup dalam pengungsian di berbagai negara.

Rohingya merupakan etnis minoritas muslim yang mendiami wilayah Arakan sebelah utara Myanmar berbatasan dengan Bangladesh, yang dahulu wilayah ini dikenal dengan sebutan Rohang dan saat ini lebih dikenal dengan Rakhine.

Dia mengungkapkan, sejak kemerdekaan negara Myanmar pada tahun 1948, Rohingya menjadi satu-satunya etnis yang paling tertindas di Myanmar bahkan di dunia. Hal itu sesuai dengan pernyataan yang dikutip dari United Nations (PBB) yang menyatakan bahwa etnis Rohingya merupakan etnis paling teraniaya di muka bumi.

Selain teraniaya, Rohingya juga tidak diakui sebagai bagian dari bangsa Myanmar, padahal Rohingya berada di Arakan sejak Abad 7 M. (L/P02/R2/R1)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply