KONFLIK ANTAR SUKU TEWASKAN 80 WARGA DARFUR

Khartoum, Sudan, 24 Jumadil Akhir 1434/4 Mei 2013 (MINA) – Konflik antar suku di Darfur, Sudan Barat, Jumat (3/5), sedikitnya menewaskan 80 warga, Modern Ghana melaporkan yang dikutip MINA.

“Sedikitnya 80 orang tewas dalam pertempuran terbaru antara etnis Arab di wilayah Darfur,” kata pemimpin suku.

“Pertempuran itu berlangsung sampai tadi malam. Di pihak kami  37 orang tewas,” kata Ibrahim al-Sheikh, seorang pemimpin suku Beni Halba.

Ia mengungkapkan bahwa lebih dari 100 anggota kelompok Gimir, lawannya, juga tewas. Namun seorang kepala suku Gimir, Abaker al-Toum, mengatakan hanya 44 orang yang meninggal.

Pertempuran berlangsung di Edd al-Fursan, sekitar 100 kilometer (60 mil) barat daya dari ibukota negara bagian Darfur Selatan, Nyala.

Kedua belah pihak masing-masing berjuang memperebutkan tanah yang mereka klaim kepemilikannya.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN’s Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA), mengutip pernyataan Komisi Bantuan Kemanusiaan pemerintah Sudan yang mengkonfirmasi  tentang pertempuran baru antar suku, antara suku Gimir dan suku Beni Halba atas kepemilikan lahan di Darfur Selatan.

“Tujuh orang dari suku Gimir dilaporkan tewas dalam serangan  tanggal 26 April (Jumat). Pertempuran berlanjut,” kata OCHA dalam buletin kemanusiaannya yang diterbitkan Kamis (3/5). “Sekitar 2.000 jiwa suku Gimir dan suku Assignor telah mengungsi.”

Al-Toum menuduh paramiliter Polisi Reservasi Pusat (Central Reserve Police/CRP) berpihak kepad suku Beni Halba.

“Ada ketegangan besar di daerah. Beni Halba sedang mempersiapkan sejumlah besar pasukan untuk menyerang, dan CRP dan senjatanya adalah bagian dari mereka,” kata Al-Toum.

CRP adalah salah satu pasukan pemerintah yang digunakan melawan gerakan perlawanan yang telah berjuang di Darfur sejak tahun 2003 melawan rezim yang didominasi etnis Arab di Khartoum.

Sebuah panel ahli  PBB melaporkan pada Februari bahwa saksi mata dan korban menyalahkan unsur-unsur polisi dan paramiliter lainnya atas tindakan pelecehan dan intimidasi di daerah pedesaan atau kamp-kamp pengungsian di Darfur yang menampung 1,4 juta pengungsi.

Pada bulan April, PBB mengatakan 50.000 orang dari barat daya Darfur telah melarikan diri melintasi perbatasan ke Chad karena konflik antar suku. Bentrokan terjadi antara suku Misseriya dan suku Salamat. Suku Salamat menuduh anggota CRP bergabung dalam pertempuran di daerah.

Persaingan memperebutkan sumber daya, dari air hingga emas, merupakan pendorong utama konflik di Darfur, di mana etnis suku bangkit melawan pemerintah Khartoum yang didominasi Arab pada tahun 2003. (T/P09/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply