MEMBACA DALAM PERSFEKTIF AL-QU’RAN

 Oleh: Dudin Shobaruddin*

Membaca adalah sesuatu perbuatan untuk memahami bentuk tulisan atau isyarat yang ada di tengah-tengah kita. Memperhatikan suatu  yang tertulis ataupun dicetak untuk dipahami isi kandungannya adalah dikatagorikan sebagai definisi membaca. Dalam Islam, ayat dan surat pertama diturunkan Allah adalah mengenai suruhan membaca. Kalimat suruhan untuk membaca diulang oleh Allah sebanyak tiga kali yaitu dalam surat al-Alaq 1 dan 3, kemudian dalam surat al-Isra ayat ke 14. Ini mengukuhkan betapa urgensinya membaca dalam presfektif al-Qur’an.

Ketika Nabi Muhammad berikan wahyu yang  pertama : IQRA? Saya tidak tahu membaca,  IQRA? Saya tidak tahu membaca, IQRA? Saya tadak tahu membaca. Dengan jawaban itu, Nabi memang seorang yang ummi (tidak tahu membaca), maka akhirnya Malaikat Jibril membimbing dan menuntun  Nabi seraya  membca :

{ اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5) }

Artinya: “Bacalah dengan nama Rab-mu yang telah menciptakan (sekalian makhluk). Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah dan Rab-mu Yang Maha Pemurah,  Yang telah Mengajar dengan pena, Yang mengajar manusia apa yang belum mengetahui/mengerti. (al-Alaq 1-5).

Kata Iqra yang terambil dari kata kerja Qara’a (قرأ) yang berarti menghimpun. Apabila merangkai huruf atau kata kemudian mengucapkanya maka kita telah menghimpunnya yakni memebacanya. Dengan demikian, realisasi perintah tersebut tidak mengharuskan adanya  teks tertulis sebagai objek bacaan, tidak pula harus diucapkan sehingga terdengar oleh orang lain. Karenanya, dalam kamus-kamus ditemukan aneka ragam arti dari kata tersebut. Antara lain; menyampaikan, membaca, mendalami, meneliti,  mengetahui ciri-ciri sesuatu, dan sebagainya yang ke semuanya bermuara pada arti menghimpun informasi dan ilmu pengetahuan.

Masih dalam surat ini kalimat Iqra diulang ke dua kalinya selah ayat yang pertama tadi menyuruh untuk membaca dengan segala motivasinya agar kalimat Rab dijunjung tinggi, diketahui, dihayati, diagungkan, dengan kontek bahawa Rab itu Yang telah Menciptakan manusia dari segumpal darah, tentu dengan segala perlengkapnnya disediakan Pencipta, langit dan bumi dan segala isisnya, karena ketika itu belum ada al-Qur’an secara tertulis. Para ulama berbeda pendapat tentang tujuan pengulanagn itu.

Ada yang menyatakan bahwa perintah pertama ditjukan kepada Nabi Muhammad saw., sedang yang kedua pada umatnya, atau yang pertama untuk mebaca dalam shalat, sedang yang kedua di luar shalat. Pendapat ketiga menyatakan Iqra yang pertama perintah belajar, sedang yang kedua Allah memerintahkan mengajar orang lain. Ada lagi yang menyatakan bahwa perintah berfungsi mengukuhkan guna menanamkan percaya diri kepada Nabi Muhammad saw., tentang kemampuan beliau membaca karena beliau tadinya tidak pernah membaca (M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, 15/398), seperti jawaban Nabi ketika datang Jibril yang memerintah membaca samapai tiga kali, “saya tidak tahu/tidak dapat membaca” (lihat,  Tafsir Ibnu Kathir).

Menurut seorang dai sejuta ummat almarhum KH. Zainuddin MZ., bahwa kalimat Iqra (baca) dibagi kepada dua bagian; pertama; Iqra yang yang tersirat, yaitu perintah Allah untuk membaca kauniyat alama jagat raya ini, langit, bumi, bulan, bintang, lautan yang terbentang luas dan segala planet yang lainnya. Dalam hal ini menurutnya, adalah telah dibaca oleh orang-orang di luar Islam. Lihat, siapa yang pertama dan yang sudah menginjakan kakinya ke bulan dan planet lain. Perhatikan, siapa yang mengawali diving meneroka alam laut yang paling dalam, ternyata orang Amerika, Eropa, orang Jepang. Dalam hal ini orang Islam sudah ketinggalan jauh di belakang dari sedi kemampuan membaca yang tersirat atau kauniyat.

Kedua; Iqra yang tersurat, yaitu membaca, meneliti, menelaah dan menghayat yang ditulis atau yang dicetak seperti al-Quran yang isinya tiga puluh juz dengan kandungan 114 surat, dengan jumlah ayat enam ribu ayat lebih. Lebihnya, berbeda pendapat dikalangan ulama, ada yang mengatakan 6214, ada pendapat lain 6219, ada juga yang mengatakan 6225 dan ada yang mengatakan 6236 (lihat, Tafsir al-bayan, al-Qurtubi 1/65, juga Muqadimah Tafsir Ibnu Kathir). Dan kalimatnya 77439 seperti yang disebutkan oleh Ata bin Yasir dalam Tafsir Ibnu Kathir.  Dan hurufnya mencapat 300,000 hurup, seperti yang dihikyatkan oleh Mujahid ( Muqadimah Tafsir Ibn kathir). Inilah yang Allah perintahkan kepada kita umat Islam dengan suruhan-Nya membaca.  Selain itu, ribuan kitab Hadits Nabi dan beberapa syarahnya yang hendaknya kita semua membacanya. Tamabahn jutaan buku dan miliyaran artikel, makalah, dan tulisan-tulisan yang telah disusun oleh para ahlinya.

Bagaimanpun ummat Islam dalam hal ini amat ketinggalan jauh dibelakang orang di luar Islam. Mereka dalam segala kesempatannya telah membudayakan diri untuk membaca dan menelaah dalam segala bidang baik itu rumah, di kantor, di sekolah, di mobil, di bis, di tempat rekreasi, di mana saja berada mereka luangkan untuk berusaha membaca. Statistik menyebutkan bahwa budaya membaca di negara-negara maju adalah lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara berkembang.

Allah Yang Pengasih lagi Maha Penyayang terhadapa mekhluknya memerintahkan dengan ayat yang pertama kali diturunkan  agar membaca; karena dengan membaca; ia akan mempertebal Iman dan Taqwa kepada Allah, meraih berbagai ilmu, menjadi manusia yang unggul dan maju dibanding dengan orang yang tidak suka membaca, memiliki cakrawala berfikir yang luas, memiliki persepsi yang tajam, sehingga dengan mudah memecahkan masalah, dengan izin Allah.

Dari itu, kita harus berani memulai untuk memotivasikan diri sendiri untuk menyempatkan diri dengan membaca dimana dan kapanpun ketika kesempatan itu ada, kemudian kita ajak keluarga, anak-anak, teman yang ada di sekeliling kita untuk bersama-sama mabaca dijadikan pekerjaan di setiap kesempatan.

Tentu sebagai ummat Islam yang  harus di memperioritaskan adalah al-Quran dan tafsirnya melebihi segalanya, karena membaca al-Quran ganjaran pahalnya adalah besar, setiap hurup mendapat sepuluh kebaikan, dan hurup yang dimaksud bukan ( الم ) itu satu hurup, tapi alif satu huruf, lam, satu huruf, dan mim satu huruf. Di situ, sudah tiga huru, maka hitungannya sudah 30 kebaikan (pengertian Hadits Nabi saw).,  kemudian hadist-hadits nabi saw., dan buku-buku agama khususnya dan buku lainnya sebagaimana menurut disiplin ilmu dan bidang masing-masing. Wallahu’alam. (K10/R2).

*Penulis adalah Kepala Biro Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj News Agency) Malaysia

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

Rate this article!

Leave a Reply