MUSLIM AMERIKA BANGUN RUMAH SAKIT KHUSUS MUSLIM

Chicago, 8 Rajab 1434/18 Mei 2013 (MINA) – Rencana untuk membangun rumah sakit khusus bedah bagi Muslim yang memungkinkan bagi pasien wanita dapat didiagnosis tanpa khawatir akan dilihat oleh dokter pria memicu kontroversi di Chicago, Amerika.

“Saya tidak perlu meninggalkan agama saya di pintu untuk menerima layanan kesehatan,” Gihad Ali dari Jaringan Aksi Arab-Amerika seperti dikutip oleh Lake County.

Rencana itu digagas oleh seorang penduduk Muslim, Naser Rustom untuk membangun sebuah pusat bedah operasi yang ramah bagi Muslim di Orland Park. Dia mengirimkan proposal tersebut ke Fasilitas Layanan Kesehatan di Illinois untuk mendapatkan sertifikat untuk membangun pusat bedah seluas 11.000 meter.

Dia berpendapat bahwa rumah sakit yang akan ia bangun nanti, yang akan mencakup lima kamar operasi dan ruang doa, akan membantu mengatasi masalah kesopanan yang diajukan oleh pasien Muslim, khususnya perempuan, selama operasi. Dia mengatakan bahwa banyak pasien Muslim merasa tidak nyaman karena dilihat oleh dokter laki-laki saat menjalani operasi.

Rustom mengatakan pusat bedah tersebut akan menjadi “fasilitas perawatan kesehatan pertama di Illinois yang dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan khusus bagi Muslim Amerika”. Dia mengatakan bahwa pusat medis, bagaimanapun, akan terbuka untuk Muslim dan non-Muslim. Namun demikian, rencana tersebut secara bulat ditolak oleh dewan fasilitas layanan kesehatan pada hari Selasa. Dewan tersebut akan memberikan keputusan akhir pada proyek rumah sakit bedah pada Juni atau Agustus.

Dikutip dari On Islam oleh MINA, Chicago sendiri merupakan tempat komunitas Muslim terbesar di AS, sekitar 400.000 Muslim tinggal disana. Sedangkan AS adalah rumah bagi delapan juta komunitas Muslim.

Ali, salah satu Jaringan Aksi Arab-Amerika, mengeluh bahwa banyak rumah sakit gagal untuk menghormati sensitivitas Muslim. Berbicara kepada dewan, ia ingat bahwa ibunya, yang didiagnosis dengan kanker, sangat terkejut bahwa ibunya bisa dilihat menanggalkan pakaian oleh dokter laki-laki selama operasinya.

Dia juga mengeluh bahwa ia harus kehilangan banyak waktu shalat lima waktu karena rumah sakit tidak memiliki fasilitas untuk wudhu.

Ali juga mengatakan bahwa rumahs sakit umum menyediakan Alkitab di kamar rumah sakit, namun tidak ada sajadah untuk membantu pasien Muslim melakukan sholat.

Joseph Hylak-Reinholtz, pengacara proyek rumah sakit, mengatakan dua hasil studi menyimpulkan bahwa Muslim Amerika memiliki kesehatan lebih buruk daripada non-Muslim karena keengganan untuk pergi ke fasilitas kesehatan.

Namun para penentang mengatakan bahwa proyek Muslim akan menjadi kontraproduktif. Mereka berpendapat bahwa daerah tersebut sudah memiliki penyedia operasi yang cukup untuk menangani semua urusan. (T/P05/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

Leave a Reply