PERWAKILAN MUSLIM ROHINGYA: HENTIKAN GENOSIDA !

Penggalangan dana bagi muslim Rohingnya. (Doc. MINA)

Jakarta, 25 Jumadil Akhir 1434/5 Mei 2013 (MINA) – Presiden Organisasi Solidaritas Rohingya, Muhammad Yunus berkunjung ke Indonesia dan mengajak seluruh Muslim Indonesia bersatu mendukung Muslim Rohingya yang terjajah.

Yunus merupakan warga asli Rohingya yang kini tinggal di Qatar. Ia menceritakan bagaimana keadaan Muslim Rohingya saat ini yang mengalami upaya pembersihan etnis (genosida) oleh kelompok ekstrimis Buddha yang didukung pemerintah Myanmar.

“Apa yang terjadi di Myanmar merupakan pembantaian bahkan genosida. Rohingya merupakan etnis Muslim di Myanmar tetapi kita tidak diakui,” kata Yunus Dalam acara Tabligh akbar dan penggalangan dana bagi Muslim Rohingnya, Sabtu (4/5).

Rohingya merupakan etnis minoritas Muslim yang mendiami wilayah Arakan sebelah utara Myanmar berbatasan dengan Bangladesh. Dahulu wilayah ini dikenal dengan sebutan Rohang dan saat ini lebih dikenal dengan Rakhine. Itu sebabnya orang-orang Muslim yang mendiami wilayah Rohang disebut dengan Rohingya.

Sejak kemerdekaan negara Myanmar pada tahun 1948, Rohingya menjadi satu-satunya etnis yang paling tertindas di Myanmar.

Operasi pemusnahan sistematis yang dijalankan pemerintah Myanmar untuk menghapus etnis Muslim Rohingya dengan melibatkan kelompok ekstrimis Buddha telah mengancam dan melanggar hak asasi manusia.

Menurutnya, pemerintah Myanmar bersikap tidak adil dengan mencabut kewarganegaraan seluruh warga Muslim Rohingya. Pemerintah setempat beralasan, Rohingya berasal dari Bangladesh sehingga tidak diakui keberadaanya.

Pemerintah Myanmar melalui UU Imigrasi Darurat pada tahun 1974 telah menghapus kewarganegaraan Rohingya dan melalui Peraturan Kewarganeraan Myanmar (Burma Citizenship Law 1982) telah menghapus Rohingya dari daftar delapan etnis utama (yaitu Burmans, Kachin, Karen, Karenni, Chin, Mon, Arakan, Shan) dan dari 135 kelompok etnis kecil lainnya. Status etnis Rohingya diturunkan hanya menjadi penduduk sementara (temporary residents). 

Hentikan Pembantaian

Pria yang aktif menyuarakan Rohingya sejak 1975 menghimbau kepada siapapun yang ingin membantu Muslim Rohingya melalui tiga cara. Pertama, apabila memberi bantuan jangan melalui pemerintah ke pemerintah, menurutnya langkah tersebut kurang efektif. Yunus lebih menyarankan agar bantuan kemanusiaan bagi Muslim Rohingya disalurkan melalui jalur People to people (secara langsung).

Kedua, mendesak pemerintah untuk menekan Myanmar menghentikan aksi pembantain Muslim Rohingya. Ketiga, yaiitu dengan melakukan Jihad fi sabilillah.

“Langkah terakhir itu akan diambil jika pemerintah Myanmar tidak mengindahkan peringatan kaum Muslimin,” tegas Yunus.

Dalam Tabligh Akbar tersebut, Sekjen Komite Nasional Advokasi untuk Muslim Rohingya-Arakan (KAMRA), Bernard Abdul Jabbar juga menyampaikan hasil dialog dengan perwakilan Duta Besar Myanmar untuk Indonesia, Jumat kemarin (3/5). Menurut Abdul Jabbar masih ada penyangkalan dari pihak Duta Besar Myanmar terhadap apa yang terjadi pada Muslim Rohingya.

“Masih ada penyangkalan dari pihak dubes Myanmar, dari pihak dubes mengatakan jumlah jatuhnya korban hanya 44 korban yang meninggal. Padahal sudah ratusan ribu lebih yang meninggal,” Ujarnya.

Sebelumnya, KAMRA mengatakan pada acara solidaritas untuk Muslim Rohingya Jumat kemarin (3/5), pemerintah Indonesia atas nama presiden SBY sudah menekan pemerintah Myanmar, akan tetapi dua kali pidato SBY diabaikan.

“Pemerintah Myanmar memang keras kepala, tetap saja mereka tidak menghiraukan,” kata Bernard.

Rencananya, dalam waktu dekat FUI dan KAMRA akan mengirimkan bantuan dan relawan ke Myanmar.

Rohingya di Indonesia

Indonesia secara geografis merupakan salah satu negara terdekat dengan Myanmar. secara religi Indonesia mempunyai kesamaan dengan orang-orang Rohingya, sehingga banyak orang Rohingya yang menyelamatkan diri dan kemudian terdampar ataupun ditangkap oleh pihak imigrasi Indonesia.

Indonesia menjadi salah satu tujuan orang Rohingya karena Indonesia juga merupakan negara mayoritas Muslim yang diharapkan dapat menjadi tempat berlindung yang aman untuk Muslim Rohingya.

Namun, Indonesia bukanlah negara tujuan utama orang-orang Rohingya karena tujuan utama kebanyakan dari mereka sebenarnya adalah Pulau Christmas di Australia.

Dalam penyebaran ke Indonesia, Muslim Rohingya terdampar di beberapa wilayah di Indonesia baik karena ditangkap maupun sengaja menyerahkan diri kepada pihak imigrasi Indonesia yang wilayahnya dekat dengan Malaysia atau Myanmar, yaitu antara lain di Aceh, Medan, Tanjung Pinang, Batam (Kepulauan Riau), dan ada juga yang ditemukan dan ditangkap di Kupang, NTT.

Dalam data pencarian fakta yang dilakukan PIARA pada awal 2013 yang diterima Mi’raj News Agency (MINA) mencatat, sebanyak 193 Muslim Rohingya yang ditangkap di Sabang, Aceh. Selain di Sabang. Mereka juga ditemukan dan ditangkap di wilayah Aceh lainnya yaitu di Louksemawe sebanyak 55 orang, semuanya laki-laki, serta di Idi Rayeuk ditemukan dan ditangkap sebanyak 173 orang Rohingya.

Sekitar 45 Muslim Rohingya berada di Rudenim Medan, 31 orang laki-laki dewasa dan 5 anak laki-laki, 5 perempuan dewasa dan 4 perempuan anak-anak.

Di Rudenim Tanjung Pinang tercatat 73 Muslim Rohingya yang kesemuanya adalah laki-laki, 55 orang di antaranya adalah pindahan dari Louksemawe, 9 orang dari imigrasi Batam dan 9 orang dari imigrasi Serang, dimana 21 orang Rohingya telah mendapatkan status pengungsi dari UNHCR Indonesia.

Kondisi Muslim Rohingya yang kelaparan membuat mereka akhirnya sengaja menyerahkan diri ke pihak imigrasi dengan harapan bisa mendapatkan makanan dari pihak imigrasi Indonesia, meskipun beberapa imigran Rohingya yang hijrah ke Indonesia dengan harapan mendapatkan perlindungan dan kondisi yang lebih aman serta penghidupan yang lebih baik. (L/P05/P02/R2).

 Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply