OBAMA BELA SERANGAN DRONE KONTROVERSIAL AS

Washington, 14 Rajab 1434/24 Mei 2013 (MINA) – Dalam pidato luar negerinya di Universitas Pertahanan Nasional Washington, Kamis (23/5), Presiden Barack Obama membela serangan drone (pesawat pembom tanpa awak) kontroversial negaranya sebagai sebuah hukum yang efektif dan alat yang diperlukan dalam perkembangan kebijakan “kontraterorisme” Amerika Serikat (AS).

Tapi di depan audiens Obama mengakui bahwa dirinya dihantui oleh korban warga sipil yang tewas.

“Jadi Amerika berada di persimpangan. Kita harus menentukan sifat dan lingkup perjuangan, atau pihak lain itu yang akan menentukan kita,” kata Obama.

Pidatonya muncul sehari setelah pemerintahannya mengungkapkan untuk pertama kalinya bahwa seorang warga negara Amerika keempat telah tewas dalam serangan pesawat tak berawak rahasia luar negerinya.

Pidato itu juga menegaskan kembali janji kampanye 2008 Obama untuk menutup penjara militer di Teluk Guantanamo, di mana orang yang diduga pelaku teror telah ditahan, disiksa dan dilecehkan tanpa ada dakwaan dan pengadilan.

Obama mengatakan bahwa AS berkomitmen untuk menangkap tersangka “teroris” dan menuntut mereka.

 “Pengecualian dari pendekatan ini yang telah teruji yaitu pusat penahanan di Teluk Guantanamo,” katanya.

“Ketika saya mencalonkan diri sebagai presiden pertama kalinya, John McCain mendukung penutupan Gitmo. Tidak ada orang yang bisa mengelak dari salah satu penjara super maksimum atau militer kita di Amerika Serikat.”

Menjawab celaan seoarang audiens terkait masalah siksaan pemaksaan makan terhadap tahanan yang mogok makan, Obama mengatakan bahwa tidak ada pembenaran di luar politik bagi Kongres untuk mencegah kita menutup fasilitas yang seharusnya tidak pernah dibuka itu.

Perkataan Obama terputus berulang kali oleh seorang wanita yang berteriak, “Saya mencintai negara saya, saya suka aturan hukum. Para drone yang membuat kita kurang aman.”

Gedung Putih mengatakan, Rabu (22/5), bahwa pidato Obama bertepatan dengan penandatanganan “panduan kebijakan presiden” yang baru ketika AS dapat menggunakan serangan drone, Al Jazeera melaporkan yang dikutip Mi’raj News Agency (MINA).

Konsep bimbingan yang ditinjau oleh pejabat kontraterorisme memberikan kendali serangan pesawat tak berawak di luar Pakistan dan Yaman kepada militer AS, diabadikan ke dalam kebijakan yang sudah biasa mereka lakukan, menurut dua pejabat AS menjelaskan tentang perubahan yang diusulkan.

Drone kontroversi

Obama telah berjanji untuk lebih terbuka kepada masyarakat tentang lingkup serangan drone. Tapi semakin banyak legislator di Kongres yang berusaha membatasi otoritas AS yang mendukung serangan drone yang mematikan, mengancam target yang lebih luas daripada yang dipetakan sebelumnya.

Obama mengakui bahwa kematian warga sipil sebagai fakta keras yang akan menghantui warga AS selama mereka hidup.

Partai Republik dan Demokrat takut bahwa mereka telah memberi presiden sebuah cek kosong untuk menggunakan kekuatan militer di seluruh dunia.

Pergeseran tanggung jawab dari beberapa program drone dari CIA (Central Intelligence Agency) kepada militer telah memberi Kongres pengawasan yang besar atas program rahasia dan anggota mengatakan mereka ingin lebih tahu.

Di bawah rancangan panduan kebijakan presiden yang baru, drone Program CIA akan tetap berdiri dan beroperasi untuk menargetkan pejuang al-Qaeda di kawasan suku Pakistan, sementara pasukan AS ditarik mundur dari Afghanistan.

Militer dan CIA saat ini bekerjasama di Yaman. CIA menerbangkan drone selama bertahun-tahun di wilayah utara dari basis rahasia di Arab Saudi dan militer menerbangkan drone dari Djibouti, satu negara di tanduk Afrika. (T/P09/R2).

 

Mi’raj News Agency (MINA).

 

 

 

Leave a Reply