OKI DESAK NEGARA ANGGOTA BERIKAN KONTRIBUSI UNTUK MALI

Jeddah, 4 Rajab 1434/14 Mei 2013 (MINA) –  Organisasi Kerjasama Islam (OKI) mendesak negara-negara anggotanya untuk memberikan kontribusi dalam konferensi donor untuk Mali yang akan diselenggarakan pekan ini di Brussel, Belgia.

Hal itu diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal OKI, Ekmeleddin Ihsanoglu dalam pembukaan pertemuan tingkat menteri di Jeddah, Arab Saudi, Senin kemarin.

“Romano Prodi, utusan khusus PBB untuk Sahel, akan menghadiri pertemuan yang diselenggarakan untuk membahas bantuan logistik dan keuangan ke Mali,” kata seorang anggota OKI seperti dikutip News24 yang dipantau MINA, Selasa (14/5).

Konferensi donor yang dilaksanakan pada Rabu esok (15/5) bertujuan mengumpulkan dana untuk memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh perang melawan pejuang Islam di negara Afrika Barat itu.

Para menteri luar negeri yang menghadiri pertemuan Senin kemarin di antaranya dari Turki, Iran, Mesir, Mali, Burkina Faso dan Djibouti.

Ihsanoglu mendesak pihak berwenang di Bamako untuk menerapkan peta jalan transisi yang direncanakan menuju pemilu Juli 2013 sebagai cara untuk kembali ke situasi negara normal. Dia juga menyerukan dialog inklusif dan rekonsiliasi nasional yang menyeluruh.

Pemilihan umum Juli nanti diharapkan bisa menyerahkan Mali ke pemerintah sah untuk memimpin keluar dari krisis yang telah melumpuhkan negara itu sejak gerakan perlawanan Tuareg meluncurkan pemberontakan pada Januari 2012 untuk kemerdekaan  wilayah utara.

Peran kunci

Campur tangan Perancis di Mali pada Januari mendorong para pejuang Al-Qaeda pergi ke tempat persembunyian di padang gurun dan gunung, dimana daerah tempat mereka melakukan serangan gerilya.

Ihsanoglu mengatakan beberapa kelompok gerakan bersenjata Tuareg mengendalikan daerah kantong di Mali Utara.

“Oleh karena itu kami menyerukan kepada pemerintah Mali untuk mempercepat dan memperluas proses dialog dengan menghidupkan kembali mediasi ECOWAS/Economic Community of West African (Masyarakat Ekonomi Afrika Barat) untuk mencari solusi jangka panjang atas konflik dan lebih memperkuat kredibilitas hasil transisi ini,” kata Ihsanoglu.

Dalam pernyataan terakhir mereka, para peserta pertemuan mendesak Gerakan Nasional Pembebasan Azwad (National Movement for the Liberation of Azwad/MNLA), yang menolak kehadiran tentara di kota utara Kidal, Mali yang melucuti senjata dan bergabung dengan proses perdamaian serta mendesak semua dialog termasuk proses dalam kerangka persatuan Mali.

MNLA Tuareg telah menolak untuk menyerahkan senjata atau mengambil bagian dalam pemilihan Juli mendatang hingga negosiasi terjadi dengan pemerintah Mali.

“OKI siap untuk memainkan peran kunci dalam membantu Mali, memulihkan kesatuan penuh, integritas, keamanan, stabilitas dan kemakmuran secara jangka panjang sebagai pilar stabilitas di Sahel,” kata Ihsanoglu.

Sebuah pasukan penjaga perdamaian PBB berjumlah 12.600 pasukan yang bertanggung jawab untuk menstabilkan wilayah Utara Mali akan diberlakukan secara bertahap sejak Juli mendatang. (T/P09/P02).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

Leave a Reply