OPERATOR DRONE AS MENYESAL BUNUH ANAK-ANAK DAN WARGA SIPIL

Teheran, 11 Rajab 1434/20 Mei 2013 (MINA) – Radio Publik Nasional (National Public Radio/NPR) yang berbasis di Amerika Serikat (AS) melaporkan tentang seorang mantan operator drone (pesawat tanpa awak) yang menyesal telah membunuh anak-anak dan warga sipil di Afghanistan, Press TV melaporkan yang dikutip MINA, Senin (20/5).

Seorang mantan pembunuh dengan drone mengaku bahwa dirinya berhenti dari program pemerintah AS setelah merasa “mati rasa” melihat anak-anak dan warga sipil tewas dalam target pemboman di wilayah terpencil Afghanistan.

“Aku sadar mengembangkan keinginan untuk membunuh,” katanya kepada NPR.

Menurut laporan NPR, dia meninggalkan program kontroversial AS yang bertarget pembunuhan, lebih dari dua tahun yang lalu. Pemuda itu direkrut oleh militer setelah lulus dari sekolah tingginya. Dia telah menjadi tunawisma dan dideteksi mengidap gangguan stres pasca-trauma, yang umumnya terkait dengan tentara AS di medan perang.

Dalam sebuah wawancara NPR terakhir dengan mantan pilot drone, yang diidentifikasi bernama Brandon Bryant (27), menyebutkan bahwa dirinya mengalami perasaan gelisah setelah menyaksikan hasil langsung dari pemboman di Afghanistan pada layar video di samping tombol pengendalinya, di suatu tempat di negara bagian barat AS, di mana dia menembakkan rudal yang dipasang pada drone pembunuh yang terbang sekitar 10.000 mil (16.000 km) di Afghanistan.

Bryant secara rinci menceritakan tembakan pertamanya, menargetkan kelompok yang diduga militan, di mana mereka duduk-duduk di atas bukit.

“Kami menembakkan rudal dan kemudian rudal menghantam. Dan setelah asap bersih, ada sebuah kawah di sana. Anda dapat melihat bagian tubuh orang-orang itu. Saya melihat salah satu orang kehabisan darah. kami sedang menonton ini di inframerah,” kata Bryant.

Bryant kemudian menyesal mengingat  tentang pengeboman itu.

Mantan pilot drone itu kemudian melanjutkan menggambarkan pemboman berikutnya di Afghanistan, di mana dia mengatakan membom rumah yang diduga milik militan, tapi dia melihat anak-anak berlarian di sekitar rumah di monitor videonya, sebelum rudal mencapai target.

“Kami hanya ditujukan pada sudut bangunan yang ada api, dan kami lakukan. Ada sekitar enam detik tersisa sebelum rudal menghantam, dan sesuatu berjalan di sekitar sudut bangunan. Itu tampak seperti orang kecil. Itu kecil, orang berkaki dua. Dan rudal menghantam,” jelas Bryant.

Bryant menegaskan bahwa itu orang, bukan anjing. Tidak ada keraguan dalam pikirannya bahwa itu bukan orang dewasa.

“Saya merasa benar-benar mati rasa,” kata Bryant.

Menurut reporter NPR yang mewawancarai Bryant, tak lama setelah pemboman itu Bryant memutuskan meninggalkan program pemerintahan Obama yang bertujuan untuk membasmi militan anti-AS di negara-negara Muslim.

Bryant menjelaskan bahwa di akhir tahun 2010 ia mendapati dirinya benar-benar terganggu pemikirannya tentang militan yang dia bunuh hari itu. Setelah melihat sebuah poster lima pemimpin atas Al-Qaeda di wilayah targetnya, dia kemudian berubah pikiran.

“Saya diajarkan untuk menghargai kehidupan dan bahwa jika kehidupan manusia itu harus diambil dalam perang, hal itu harus dilakukan dengan hormat,” katanya.

Menurut laporan NPR, Bryant akhirnya berhenti dan telah menjadi tunawisma. Dia tinggal dengan teman-temannya saat menghadiri kuliah di barat laut negara bagian Montana.

Bryant juga telah didiagnosis mengidap Pasca Traumatic Stress Disorder (PTSD). NPR melaporkan menunjuk realita yang berkembang, bahwa PTSD juga dapat mempengaruhi pilot teror drone, meskipun mereka tidak berada di medan perang secara langsung.

Perkembangan ini terjadi meskipun kontroversi muncul di atas legalitas pembunuhan rahasia serangan drone dan tingginya jumlah korban sipil yang disebabkan oleh pemboman udara, sebagai bagian dari program penargetan membunuh AS. Pemerintahan Obama bersikeras melanjutkan program mematikan itu untuk membasmi orang yang mereka anggap sebagai anti-AS,  “tersangka teror” di negara-negara Muslim. (T/P09/R2).

 

Mi’raj News Agency (MINA).

 

 

 

Leave a Reply